Pada hari Selasa, 2 April 2024, Fakultas Humaniora BINUS University – Kampus Kijang, menggelar acara dalam ranah filosofis. Dalam susunannya, dilakukan peluncuran buku karya salah satu dosen Psikologi, Dr. Yosef Dedy Pradipto, L. Th., M.Hum., M.Si., dengan judul Kilas Pintas Panorama Filsafat 1. Acara yang berlangsung di Ruang KFC ini menyuguhkan pembedahan buku sekaligus menghadirkan beberapa narasumber untuk melakukan sharing session yang membagikan pandangan filsafat mereka dari berbagai sudut pandang. 

Pembukaan acara dimulai dengan kata sambutan oleh Raymond Godwin, S.Psi., M.Si., yang mengutarakan ucapan selamat atas rilisnya buku karya Dr. Dedy tersebut. Acara kemudian berlanjut dengan dipandu oleh MC, Andrea Prita Purnama Ratri, S.Psi., M.A. yang setelahnya diserahkan kepada moderator, Dr. Frederikus Fios, S. Fil., M.Th. Sesi pertama adalah pemaparan informasi Sesorah Nada Dasar oleh Prof. Shidarta, S.H., M.Hum. Selanjutnya, beberapa narasumber lain yang dihadirkan adalah beberapa mahasiswa doktoral yang mendapat bimbingan dan pengajaran dari Dr. Dedy. Mereka membagikan secuplik perjalanan dan pengalaman, baik sebagai seorang mahasiswa maupun dalam bidang pekerjaan masing-masing yang dikemas dalam lensa filsafat. Beberapa di antaranya adalah:

  • Dr. Krisna Nugraha selaku CEO/Founder – PT. Arranet Indonesia Sejahtera
  • Hadi Setiadi selaku Senior Vice President Procurement – PT. Semen Indonesia (Persero), Tbk.
  • Risye Dillianti selaku President Director – MNC LIFE Assurance
  • Rizka Moeslichan selaku Director of Human Resources and Legal Affairs – PT. ASABRI (Persero)
  • Harry Mores selaku Founder – ASI (Advanced Sourcing International Pte Ltd)
  • Dr. Yulius Denny Prabowo, S.T., M.T.I. selaku Lecturer of Computer Science – BINUS University
  • Boy Michael Tjahjono selaku Associate Partner – Ernst & Young.

Sesi yang berlangsung dalam kurun waktu dua jam ini akhirnya ditutup dengan pemberian sepatah kata dari sang penulis. Melalui buku ini, beliau berharap agar dapat menghadirkan pandangan dan perspektif mengenai dunia filsafat dalam lingkup unlimited horizon!

Beliau juga memberikan buku ini kepada setiap orang dalam ruangan tersebut  sebagai bentuk apresiasinya atas waktu yang telah diluangkan para hadirin. Akhir kata kami ucapkan, selamat atas peluncuran buku Kilas Pintas Panorama Filsafat 1 kepada Dr. Dedy,  semoga dapat terus berkarya lewat penghadiran pengetahuan, pandangan, maupun perspektif. 

Seminar dibawakan oleh Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Th. (Manager CBDC BINUS University) sebagai moderator, Prof. Dr. Shidarta, S.H., M.Hum. sebagai Sesorah Nada Dasar, dan tentu saja Dr. Yosef Dedy Pradipto, L.Th., M.Hum., M.Si. sebagai pembicara utama.

Berdasarkan hasil sharing tersebut, didapatkan bahwa terdapat beberapa hal yang mendasari  filsafat, antara lain sebagai berikut:

  1. Keingintahuan (Curiosity)

Keingintahuan telah menjadi tiang penyangga yang tak terpisahkan dalam evolusi pemikiran manusia, menghubungkan alam pemikiran kita dengan batas-batas yang tak terhingga dari filsafat. Sepanjang peradaban manusia yang penuh dengan pertanyaan yang beragam, filsafat telah muncul sebagai pencerahan bagi keinginan kita untuk memahami substansi dari kehidupan itu sendiri. Di sini, keingintahuan bertindak sebagai dorongan pertama, menuntun kita untuk merenungkan asal-usul, makna, dan tujuan eksistensi kita.

Dalam dunia filsafat, keingintahuan berfungsi sebagai peluru awal, menembus lapisan-lapisan pengetahuan yang kita miliki, menggali lebih dalam untuk memahami konsep-konsep yang mendasari pemikiran dan tindakan manusia. Ditandai dengan pertanyaan yang terus-menerus dan keraguan yang berkelanjutan. filsafat menegaskan keberanian untuk mencari kebenaran di antara kabut-kabut ketidakpastian. Namun, keberanian itu tidaklah cukup. Dibutuhkan juga kemampuan berpikir kritis yang tajam, memungkinkan kita untuk memilah fakta dari interpretasi, dan membedakan antara ilusi dan realitas. Semua itu dimulai dengan keingintahuan akan suatu hal, yang mana akan selalu ada dalam eksplorasi manusia tentang hakikat realitas dan eksistensi kita yang begitu kompleks. (lihat Nurroh, 2017; Stumm et al., 2011)

  1. Menerima Spekulasi Perbedaan

Dalam dunia filsafat, “menerima spekulasi perbedaan” menjadi sebuah sikap yang menandakan keterbukaan terhadap keragaman pandangan, teori, dan interpretasi. Ini memperlihatkan pengakuan bahwa terdapat banyak sudut pandang yang berbeda terhadap suatu masalah, dan bahwa nilai dari spekulasi atau hipotesis yang beragam dapat menjadi sumber pertumbuhan intelektual yang substansial. Sikap ini mendorong pemikiran kritis dengan memicu pertanyaan, evaluasi, dan analisis yang mendalam terhadap berbagai argumen dan pandangan yang berbeda. Lebih jauh, hal ini mempromosikan dialog dan debat yang substansial, memungkinkan untuk kemunculan pemikiran baru dan pengembangan ide-ide, yang merupakan esensi dari filsafat. Selain itu, sikap ini memupuk toleransi dan penghargaan terhadap keragaman pandangan, sehingga memungkinkan individu untuk menghargai sudut pandang yang berbeda serta mengembangkan toleransi terhadap perbedaan. Terakhir, menerima spekulasi perbedaan mendorong kreativitas dan inovasi, menginspirasi individu untuk berpikir di luar batas-batas konvensional dan mencari solusi atau interpretasi yang baru dan inovatif. Oleh karena itu, menerima spekulasi perbedaan adalah bagian penting dari proses pemikiran kritis dan reflektif, yang pada akhirnya mengarah pada pemahaman yang lebih dalam tentang realitas dan eksistensi yang merupakan esensi dari filsafat. (lihat Lubis, 2015; Pradipto, 2024)

  1. Paradigma

Paradigma sebagai salah satu aspek mendasar dalam filsafat yang menyorot pentingnya struktur pemikiran yang membentuk cara kita memahami dan merespons dunia di sekitar kita. Paradigma, seperti yang didefinisikan oleh Kuhn (1962) dalam karyanya “The Structure of Scientific Revolutions”, merupakan serangkaian keyakinan, nilai, dan metode yang memandu cara kita memandang fenomena serta menjalankan penelitian. Dalam konteks filsafat, paradigma memberikan kerangka kerja yang mendalam untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan ontologis, epistemologi, dan etis yang mendasar. Dengan demikian, pemahaman yang komprehensif tentang paradigma adalah kunci untuk menggali dasar-dasar pemikiran filosofis yang melandasi cara kita memahami dan berinteraksi dengan realitas.

  1. Berani Berpikir

Konsep “berani berpikir” menjadi landasan penting dalam sejarah filsafat, dikarenakan konsep ini mewakili kebebasan untuk menghadirkan ide-ide kontroversial dan mempertanyakan norma-norma yang sudah ada. Ini adalah dorongan untuk menggali ke dalam alam pikiran, mengeksplorasi ide-ide tanpa batasan yang berpotensi mengubah paradigma yang ada. Keberanian ini melibatkan ketidakpastian dan risiko intelektual, dengan tujuan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas dan diri sendiri. Ini membutuhkan sikap terbuka terhadap ide baru, kemampuan untuk berpikir kritis, dan keberanian untuk menghadapi kemungkinan konsekuensi dari pemikiran yang berbeda. Dalam sejarah filsafat, sosok-sosok seperti Sokrates dan Descartes dikenang karena keberanian mereka dalam menggoyahkan fondasi keyakinan tradisional. Dengan begitu, “berani berpikir” tidak hanya menjadi moto para pemikir, tetapi juga sebuah prinsip yang membentuk arah pemikiran filosofis. (lihat Lubis, 2015;  Pradipto, 2024)

  1. Logika

Dalam ranah filsafat, logika menjadi fondasi yang tak tergoyahkan, menyediakan alat analisis yang tak tergantikan terhadap suatu argumen, konsep, maupun teori. Dengan logika sebagai senjata, para filsuf menguji konsistensi dan kebenaran dari argumen-argumen yang mereka temui, dengan cermat mengidentifikasi kesalahan penalaran yang mungkin terselip di dalamnya, serta membangun struktur argumen yang kokoh dan kuat. Tak hanya itu, logika memberikan kerangka kerja yang penting bagi pengembangan metode penelitian yang tepat, penguraian konsep dan istilah, serta penawaran pandangan yang tajam dan terorganisir dalam pemikiran filosofis. Dalam panggung perdebatan yang kompleks dan tak terbatas ini, logika hadir sebagai panduan yang meyakinkan dan diperlukan bagi pencarian pemahaman yang lebih mendalam dan universal. (lihat Lubis, 2015;  Nurroh, 2017; Pradipto, 2024; Yasin et al., 2018)

  1. Etis

Konsep etis sebagai salah satu fondasi dalam filsafat menggarisbawahi peran penting nilai-nilai moral dalam membentuk pandangan dan tindakan manusia dalam kehidupan. Etika, sebagai cabang filsafat yang mempelajari prinsip-prinsip moralitas, memainkan peran sentral dalam memandu individu dan masyarakat dalam pengambilan keputusan yang bermakna. Seperti yang diuraikan oleh Rachels dan Rachels (2019), etika mempertanyakan dasar-dasar moralitas, memungkinkan refleksi mendalam tentang prinsip-prinsip yang mengatur perilaku manusia dan kewajiban moral mereka terhadap satu sama lain. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang konsep etis merupakan aspek penting dalam pembentukan filsafat yang memandu nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral dalam kehidupan individu dan sosial.

  1. Our Why, Mengapa kita melakukannya?

Hal ini dalam filsafat menyoroti pentingnya refleksi tentang tujuan dan makna di balik tindakan manusia. Konsep ini membawa kita pada pertanyaan tentang motivasi, tujuan, dan nilai intrinsik dari apa yang kita lakukan. Seperti yang diungkapkan oleh Nagel (1970) dalam esainya yang terkenal, “The Possibility of Altruism,” pemahaman mengapa kita melakukan sesuatu menjadi fokus utama dalam memahami tindakan moral dan nilai-nilai yang mendasarinya. Dengan mengajukan pertanyaan tentang alasan di balik perilaku manusia, filsafat mengarahkan kita untuk mempertimbangkan implikasi moral dan etis dari tindakan kita serta untuk menjelajahi makna kehidupan secara lebih mendalam. Oleh karena itu, konsep “mengapa kita melakukannya” menjadi salah satu elemen kunci dalam pemikiran filosofis yang memandu refleksi dan penelitian tentang prinsip-prinsip moral dan eksistensial manusia.

  1. Selalu Mencoba Cari Tahu

Dalam dunia filsafat, semangat untuk selalu mencoba mencari tahu merupakan salah satu pijakan utama dalam perjalanan pengetahuan manusia. Konsep ini menggarisbawahi pentingnya kemauan untuk mempertanyakan, merenung, dan menggali lebih dalam terhadap segala hal yang ada di sekitar kita, baik secara fisik maupun metafisik. Dengan terus menerus mempertanyakan dan mencari jawaban, manusia tidak hanya mengembangkan pemahaman mereka tentang dunia, tetapi juga mengasah keterampilan berpikir kritis dan reflektif. Seperti yang diungkapkan oleh filosof abad ke-20, Karl Popper (1959), dalam karyanya “The Logic of Scientific Discovery”, proses mencari tahu merupakan fondasi dari eksplorasi ilmiah yang mengarah pada pemahaman yang lebih dalam tentang realitas. Selain itu, dalam karya “Phenomenology of Spirit”, Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1807) menyoroti pentingnya perjalanan intelektual yang tak berkesudahan untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang diri dan dunia. Oleh karena itu, semangat untuk selalu mencoba mencari tahu bukan hanya menjadi landasan bagi perkembangan filsafat, tetapi juga merupakan inti dari keberlangsungan eksistensi manusia.

  1. Falsifikasi

Falsifikasi dalam filsafat merujuk pada metodologi yang diusulkan oleh Karl Popper (1959) untuk menguji kebenaran suatu teori atau hipotesis dengan mencari bukti yang bisa membantahnya, bukan mencari bukti yang mendukungnya. Konsep ini menekankan pentingnya pengujian terhadap teori dengan eksperimen atau pengamatan yang dapat menghasilkan hasil yang bertentangan dengan prediksi teori tersebut. Dengan demikian, teori yang tidak dapat difalsifikasi dianggap tidak dapat dianggap sebagai penjelasan ilmiah yang kuat. Popper (1959) menyatakan bahwa falsifikasi adalah kunci untuk membedakan antara ilmu pengetahuan dan pseudosains.

  1. Perspektif

Dalam filsafat, perspektif adalah konsep yang menggambarkan kerangka pandang atau sudut pandang subjektif yang membentuk cara kita memahami dan menafsirkan dunia. Ini mencakup ide bahwa realitas tidaklah objektif, tetapi tergantung pada cara kita melihatnya. Perspektif memungkinkan kita untuk memahami bahwa setiap individu memiliki pengalaman dan pengetahuan yang unik, yang membentuk pandangan mereka terhadap dunia. Hal ini mencerminkan prinsip relativitas dalam filsafat, di mana kebenaran atau makna tidaklah mutlak tetapi tergantung pada konteks dan pengalaman individu. Dalam konteks ini, perspektif berfungsi sebagai lensa interpretatif yang memungkinkan kita untuk menyelidiki dan memahami berbagai fenomena secara lebih mendalam.

  1. Filsafat Membuat Merenung terhadap Penelitian

Di balik setiap penelitian, terdapat asumsi yang mendasarinya. Filsafat mendorong peneliti untuk mempertanyakan asumsi-asumsi ini secara kritis, memastikan penelitian didasari oleh landasan yang kokoh dan objektif. Resnik (2015) mengungkapkan bahwa filsafat berperan sebagai kompas moral dalam penelitian, membantu peneliti menentukan batasan etika yang jelas dan bertanggung jawab. Memilih metodologi penelitian yang tepat merupakan langkah krusial dalam menghasilkan penelitian yang berkualitas. Filsafat membantu peneliti dalam memilih metode yang sesuai dengan tujuan penelitian dan karakteristik data, sehingga menjamin kredibilitas dan keandalan penelitian.

  1. Filsafat Membantu Interpretasi Penelitian

Seperti yang dikatakan Sokja (2019), filsafat menyediakan kerangka berpikir yang logis dan terstruktur untuk menganalisis dan menginterpretasikan hasil penelitian secara mendalam. Hasil penelitian bagaikan potongan-potongan puzzle yang perlu disatukan untuk mendapatkan gambaran yang utuh. Filsafat membantu peneliti dalam menghubungkan temuan penelitian dengan teori dan konsep yang relevan, sehingga memberikan makna dan konteks yang lebih luas. Penelitian tidak hanya menghasilkan temuan, tetapi juga memiliki implikasi yang luas bagi teori, kebijakan, dan praktik. Filsafat membantu peneliti dalam memahami implikasi dari hasil penelitian, baik secara teoritis maupun praktis, sehingga penelitian dapat memberikan kontribusi yang bermakna bagi masyarakat.

  1. Interpretasi Kita terhadap Pendapat Orang Lain

Filsafat tidak hanya berkontribusi pada penelitian, tetapi juga pada kemampuan kita untuk memahami dan menginterpretasikan pendapat orang lain. Menurut Van de Ven & Poole (1995), filsafat menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis, mendorong kita untuk tidak menerima informasi dan ide secara mentah-mentah. Filsafat membantu kita memahami sudut pandang dan perspektif orang lain, meskipun berbeda dengan pandangan kita sendiri.

Referensi:

Hegel, G. W. F. (1807). Phenomenology of spirit. University of Illinois Urbana-Champaign.

Kuhn, T. S. (1962). The structure of scientific revolutions. University of Chicago Press.

Lubis, N. A. F. (2015). Pengantar filsafat umum. Perdana Publishing.

Nagel, T. (1970). The possibility of altruism. Oxford University Press.

Nurroh, S. (2017). Filsafat ilmu studi kasus: Telaah buku filasafat ilmu (Sebuah pengantar populer) oleh Jujun S. Suriasumantri. Universitas Gadjah Mada.

Popper, K. (1959). The logic of scientific discovery. Basic Books.

Pradipto, Y. D. (2024). Kilas pintas panorama filsafat. Publica Indonesia Utama.

Rachel, S., & Rachels, J. (2019). The elements of moral phylosophy (9th ed.). McGraw-Hill.

Resnik, D. (2015). The ethics of science: An introduction. Routledge.

Sojka, M. (2019). Research ethics: A comprehensive guide for researchers. Routledge.

Stone, J. (2023). The role of perspective in philosophy. Journal of Philosophical Studies, 45(2), pp. 210-225.

Van de Ven, A. H., & Poole, M. S. (1995). Handbook of qualitative research methods. Sage.

Von Stumm, S., Hell, B., & Chamorro-Premuzic, T. (2011). The hungry mind: Intellectual curiosity is the third pillar of academic performance. Perspectives on Psychological Science, 6(6), 574-588.

Yasin, V., Zarlis, M., & Nasution, M., (2018). Filsafat logika dan ontologi ilmu komputer. JISAMAR (Journal of Information System, Applied, Management, Accounting and Research), 2(2), p. 68-75. ISSN 2598-8719. Available at: <https://journal.stmikjayakarta.ac.id/index.php/jisamar/article/view/39>.

 

Penulis:

  • Desyta Billyana Lestari
  • Keldianto
  • Kalif Nur Ramadhan
  • Syafaa Alea Viyola Akbar
  • Clara Christofia

Editor:

  • Melly Preston
  • Angelique Aurellia