Sumber: https://images.app.goo.gl/QfeXB5jAeULyczPR6

Hadirnya psikologi dalam bidang pendidikan dirasa sangat diperlukan. Hal tersebut dalam rangka mewujudkan tindakan yang tepat dalam interaksi antara setiap faktor pendidikan, terutama saat penerimaan peserta didik, perbedaan pada tiap siswa, menentukan strategi dan metode pembelajaran, melakukan bimbingan dan pengarahan serta evaluasi hasil (Uyun, 2020).

Terkait dengan hal di atas, yaitu hadirnya pskologi dalam pendidikan, seorang Psikolog sekolah jarang kita dengar di banyak sekolah, karena rata-rata sekolah saat ini hanya mengandalkan guru BK saja. Lantas, apa itu psikolog sekolah? Psikolog sekolah pada dasarnya tugasnya mirip dengan guru BK, hanya saja lebih optimal dengan ilmu psikologi yang dimilikinya, seperti melakukan screening kesehatan mental, pengetesan psikologi, konseling yang lebih mendalam, dsb.

Adapun perbedaan yang dapat dilihat dari kedua profesi ini adalah bisa dilihat dari latar belakang pendidikannya (Daulay, 2019). Konselor atau guru BK memiliki latar belakang S1 Jurusan Bimbingan Konseling dan bergelar Sarjana Pendidikan (S.Pd), sementara kalau Psikolog sekolah, ketika jenjang S1 mengambil jurusan psikologi, kemudian lanjut lagi kejenjang pendidikan S2 dengan jurusan profesi  psikolog dengan bergelar Magister Psikologi (M.Psi) atau Psikolog (Psi.). Tentunya profesi Psikolog ini lebih lama dalam menempuh pendidikannya, sehingga dalam bidang keilmuan bisa terbilang lebih mumpuni.

Perbedaan selanjutnya adalah berdasarkan aspek pendekatan yang digunakan. Bagi seorang psikolog dapat menggunakan pendekatan konseling bagi klien dengan permasalahan yang bersifat normal, dan pendekatan psikoterapi bagi klien dengan identifikasi gejala-gejala psikologis yang bersifat patologis atau gangguan (disorder) (Daulay, 2019). Klien yang berkonsultasi dengan psikolog akan dikumpulkan datanya terlebih dahulu, kemudian dianalisa dan diinterpretasikan, ketika permasalahan klien sudah mengarah kepada gangguan maka seorang psikolog berkompeten untuk memberikan penangan lebih lanjut berupa terapi, dan berkompeten pula dalam melakukan dan menginterpretasikan berbagai macam tes psikologi, seperti tes iQ, tes minat bakat, dan tes kepribadian. Hal ini bertujuan agar penanganan yang diberikan tepat sesuai dengan gangguan yang dialami klien.Sementara untuk seorang konselor atau guru BK tugasnya adalah penanganan permasalahan klien umumnya diberikan secara individual (disebut konseling individual) dan bisa juga dalam bentuk kelompok (konseling kelompok). Perbedaan selanjutnya adalah seorang konselor belum dibekali kompetensi yang mendalam untuk menangani klien yang mengalami gangguan, penanganan hanya berupa konseling bagi individu normal yang bermasalah dalam kehidupan sehari-hari (Daulay, 2019)

Berdasarkan paparan perbedaan kedua profesi di atas, baik guru BK dengan Psikolog sekolah harus bersinergi dalam melihat perkembangan siswa dan menghadapi permasalahan yang ada pada siswa. Sejatinya keduanya mempunyai peranan yang sama dalam menghadapi siswanya, yakni melihat tugas perkembangan siswa dengan baik (Hadi, et.al., 2017).

Berdasarkan paparan di atas, kami telah melakukan survey untuk mengetahui peran Psikolog Sekolah dan atau Guru BK secara nyata berdasarkan pengalaman langsung para responden. Berikut paparannya.

Pada survey kali ini menggunakan alat bantu google form kami ditujukan kepada responden SMP dan SMA dengan rentang usia 12-19 tahun. Adapun partisipannya sebanyak 30 responden sebanyak 70% sedangkan partisipan laki-laki hanya 30%. Dari 30 partisipan juga dapat terlihat bahwa sebanyak 67% partisipan bersekolah di daerah Bekasi, 20 % di Jakarta, dan 13% sisanya berasal dari daerah lainnya seperti Karawang, Bogor, dan Cirebon.

Berdasarkan proses survey yang berjalan, kami memberikan beberapa pertanyaan yang terbagi menjadi 2, yaitu pertanyaan demografis dan pertanyaan inti. Pertanyaan demografis dalam survey kami, berupa pertanyaan nama responden, umur responden, dan asal sekolah. Dalam pertanyaan inti, terdapat enam pertanyaan utama yang ditanyakan sebagai berikut:

“Apakah di sekolahmu terdapat Guru BK?”

Dari 30 Partisipan dapat kita lihat bahwa sebanyak 29 partisipan mengatakan bahwa sekolah mereka memilikiguru BK, sedangkan hanya 1 partisipan yang mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai guru BK di sekolahnya.

Gambar: Hasil Olah Data Sekolah yang memiliki Guru BK

“Apakah kamu memiliki pengalaman berinteraksi dengan Guru BK?”

25 Partisipan juga mengatakan pernah berinteraksi dengan guru BK sedangkan 5 partisipan lainnya mengatakan tidak pernah berinteraksi dengan guru BK.

“Apa yang kamu harapkan dari Guru BK dalam kehidupan sekolahmu?”

Dari 30 responden yang mengikuti survey, banyak responden yang mengatakan bahwa guru BK dapat“membantu” dan “membimbing” anak – anak dalam kehidupan bersekolah.

“Menurut kamu, hal positif apa yang muncul di pikiranmu ketika mendengar “Guru BK”?”

Berdasarkan jawaban 30 responden, banyak yang mengatakan bahwa guru BK merupakan seorang “pendengar yang baik”, “pembimbing pelajar”, dan “berkepribadian terbuka”

“Apa yang perlu diperbaiki dari Guru BK di sekolah mu?”

Dari 30 responden, 9 dari 30 partisipan, merasa bahwa tidak perlu ada perbaikan, sedangkan sisanya merasaperlu ada peningkatan pada guru BK seperti: Tingkat Keramahan Tidak hanya berfokus pada siswa tertentu Tidak memberikan perlakuan yang berbeda

“Menurut kamu, mengapa perlu ada Guru BK di sekolah?”

Berdasarkan jawaban 30 responden, sebagian setuju bahwa guru BK membantu murid dalam bidang mental,akademik, dan kehidupan sekolah. Sedangkan, sisanya setuju bahwa guru BK merupakan “teman siswa”. Masih banyak siswa/i sekolah yang beranggapan guru BK menyeramkan karena dianggap sangat disiplin dantegas. Tapi di sisi lain tugas guru BK tidak hanya mengurusi siswa/i yang bermasalah dan memberi mereka sanksi, tetapi juga banyak sisi positif tugas guru BKyang bisa kita manfaatkan untuk kebaikan diri kita di masa depan.

Menurut kami, dari semua pertanyaan inti yang diberikan oleh kelompok, hampir seluruh target partisipanmemberikan respon yang baik mengarah positif jika dipertanyakan terkait dengan Psikolog Sekolah / Guru BK. Kami juga melihat bahwa masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan lagi agar kehadiran guru BK dapat lebih efektif seperti lebih mengayomi semua orang, sehingga tidak hanya orang-orang tertentu saja yang mendapatkan manfaat kehadiran guru BK. Berdasarkan hasil survei, kami dapat melihat bahwa keberadaan Guru BK cukup umum di sekolah-sekolah namun, meskipun Guru BK ada di sekolah tersebut, masih ada sebagian siswa yang belum memiliki pengalaman berkomunikasi dengan Guru BK tersebut. Guru BK memiliki peran yang penting dalam mendukung kesejahteraan siswa di sekolah. Maka dari itu, kami juga mengharapkan Guru BK untuk memberikan dukungan dan bimbingan dalam berbagai aspek kehidupan siswa. Sebagian besar responden menghargai keberadaan dan peran Guru BK, meskipun terdapat hal yang dapat lebih ditingkatkan. Hal ini menekankan pentingnya melibatkan Guru BK secara aktif dalam memberikan bimbingan, dukungan, dan konseling kepada siswa untuk memastikan pengembangan kesehatan mental danakademik yang optimal di sekolah. Selain itu, survei ini juga menunjukkan perlunya lebih banyak pemahaman tentang peran Guru BK di kalangan siswa untuk mengurangi persepsi yang salah tentang mereka.

Daftar Pustaka

Daulay, Nurussakinah. (2019). Peran Psikolog dan Konselor. http://jurnaltarbiyah.uinsu.ac.id/index.php/almursyid/article/view/493

Hadi, MF Zatra., Yusuf, AMuri., Syahniar, Syahniar. (2017). Pemahaman Konselor Sekolah tentang Tugas Perkembangan Siswa dan Layanan yang Diberikan. DOI : https://doi.org/10.24036/0201321733-0-00.

Uyun, Muhamad. (2020) Peran Psikolog dalam Bidang Pendidikan, Pemerintahan dan Industri Muhamad Uyun. https://doi.org/10.15575/psy.v7i1.6349

Artikel ini ditulis oleh :
Samuel David Rulyando, Angela Christa Rulita, Darren Nicholas Leo, Wanda Putri Tamardandika, dengan bimbingan dosen M.Nanang Suprayogi

Di unggah pada tanggal: 2 November 2023