Penggunaan internet pada zaman modern seperti saat ini bukan menjadi suatu hal yang sulit untuk didapatkan karena semua informasi bisa diakses dengan mudah menggunakan internet. Salah satu hasil dari keberadaan internet adalah adanya sosial media sebagai wadah untuk mengakses informasi dan rekreasi seperti Instagram. Saat ini, manusia tidak dapat terlepas dari media sosial terutama media sosial Instagram, karena menyediakan berbagai fitur untuk berinteraksi dengan likes, comment bahkan direct message. Berdasarkan laporan We Are Social, jumlah pengguna Instagram di Indonesia pada awal tahun 2023 menduduki posisi keempat dengan jumlah 89,15 juta pengguna instagram. Banyaknya jumlah pengguna terjadi karena kemudahan dalam akses pembuatan akun media sosial tersebut sehingga beberapa orang dapat membuat lebih dari satu akun utama. Tak jarang juga para pengguna sosial media khususnya Instagram membuat akun yang tidak menampilkan profil asli dari diri mereka atau akun anonim yang dikenal dengan sebutan fake account. Yang dimana kebebasan untuk berinteraksiĀ  di dunia maya lebih bebas karena dilakukan secara online.

Fake account dapat disalah gunakan jika tidak berlandasan dengan alasan tertentu dengan maksud negatif. Dalam hal ini banyak orang yang menggunakan fake account tidak hanya untuk kepentingan yang positif, namun bisa saja menggunakan fake account untuk kepentingan yang negatif. Seperti digunakan untuk mem-bully melalui comment yang tertera pada laman Instagram hanya karena alasan yang sepele. Sehingga secara tidak sadar, hal ini dapat melahirkan suatu fenomena yang disebabkan karena perilaku yang tidak wajar atau melanggar norma dengan menggunakan akun yang tidak teridentifikasi. Fenomena ini dikenal dengan sebutan deindividuasi. Deindividuasi merupakan melonggarnya batasan normal pada perilaku seseorang yang tidak dapat diidentifikasi (Aronson, 2021). Biasanya terjadi karena seseorang menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok tertentu sehingga identitasnya tidak terungkap yang dimana deindividuasi ini membuat self-awareness seseorang berkurang (Mukhoyyaroh, 2020). Deindividuasi bisa terjadi karena faktor eksternal, namun terjadinya fenomena ini dalam berperilaku tetap terjadi pada mindset tiap orang. Para pengguna fake account tersebut menjadi lebih berani karena merasa bergabung dengan para pengguna fake account lain.

Referensi

Aronson, E., Wilson, T. D., & Akert, R. M. (2021). Social Psychology Plus NEW MyPsychLab with eText. Access Card Package. River, NJ: Pearson Education.
https://dataindonesia.id/Digital/detail/pengguna-instagram-ri-terbesar-keempat-di-dunia-pada-awal-2023 (diakses pada tanggal 27 Agustus 2023)
Mukhoyyaroh, T. (2020). Anonimitas dan deindividuasi pada remaja pengguna sosial media. Jurnal Penelitian Psikologi, 11(1), 26-32.

Di unggah pada = 18 Oktober 2023

Penulis:

2502038601 – Alaida Qonita
2502023985 – Andini Rahmadika Sulistyono
2502009980 – Assyifa Malinda Vriskila
2502001025 – Kannisa Ramadhanti Syahril

Dosen pendamping : Andrea Prita Purnama Ratri S.Psi, M.A