Artikel ini disusun oleh: 

  1. Annisa Atha Hanifah – 2502055021
  2. Rahma Alia Putri – 2502049252
  3. Abigail Kinanti Putri Simangunsong – 2502045941
  4. Giovanni Sunrise – 25023038816

Pada tanggal 04 Maret 2023, fakultas Psikologi Binus University memperoleh kesempatan untuk membantu SMAN 35 Jakarta dalam kegiatan seleksi wawancara tes kepribadian untuk pemilihan siswa berprestasi SMAN 35 – Jakarta 2023. Kegiatan wawancara dibawakan oleh Antonina Pantja Juni Wulandari, S.Sos., M.Si., Dra. Lisa Ratriana Chairiyati, M.Si., Dr. Evi Afifah Hurriyati, S.si., M.Si. Dr. Evi Afifah Hurriyati, S.si., M.Si., Rahmanto Kusendi Pratomo, S.T., M.Si., Moondore Madalina Ali, B.Sc., M.Sc., Ph.D., Budi Sulaeman, S.Psi., M.Psi., dan Andrea Prita Purnama Ratri, S. Psi., M.A selaku dosen yang mengajar di Universitas Bina Nusantara yang didampingi oleh Abigail Kinanti Putri S, Annisa Atha Hanifah, Giovanni Sunrise, Nazwa Alfinouza, Rahma Alia Putri, dan Sahitya Fasya Nur Iskandar selaku volunteer dari mahasiswi Psikologi Universitas Bina Nusantara. 

Hal yang ditanyakan selama wawancara adalah seputar kegiatan para murid di sekolah (ekstrakurikuler, akademik, organisasi) maupun di luar sekolah (bimbel, club, organisasi masyarakat seperti karang taruna, dll.). Dari kegiatan-kegiatan tersebut, dapat dilihat apakah para siswa memiliki time management maupun rasa tanggung jawab yang baik atau tidak? Itulah sebabnya, pihak BINUS membantu dalam menyeleksi pada kandidat tersebut. 

Kemudian, para siswa juga ditanyakan apa alasan mereka mengikuti seleksi siswa teladan pada kesempatan kali ini. Terdapat berbagai jawaban yang diterima oleh para dosen, 

namun jawaban yang paling sering disebutkan oleh para siswa adalah karena diminta oleh wali kelas mereka sebagai perwakilan kelas. Hal ini menjelaskan bahwa mereka mengikuti serangkaian tes untuk menjadi siswa teladan bukan karena mereka ingin, namun karena merasa bahwa mereka diberi kepercayaan oleh orang lain (wali kelas) untuk melakukan hal tersebut. 

Hal ini sangat disayangkan, karena hal tersebut dapat diartikan bahwa banyak siswa yang tidak dapat memilih apa yang mereka inginkan sendiri. Mereka cenderung mengikuti apa yang diinginkan oleh orang disekitarnya. Seperti contohnya ketika siswa kebingungan untuk mengikuti ekstrakurikuler apa, mereka akan bertanya kepada teman-temannya atau orang tua tentang ekstrakurikuler apa yang diikuti. Kemudian siswa tersebut akan mengikuti saran dari orang-orang sekitar tanpa memikirkan apa yang sebenarnya mereka inginkan. 

Disisi lain, banyak siswa yang sudah mampu untuk membuat time management-nya sendiri dengan baik. Mereka tau apa yang harus menjadi prioritas dan mana yang dapat dilakukan nanti. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sudah memiliki rasa tanggung jawab atas kegiatan-kegiatan yang mereka ikuti dan tugas-tugas yang mereka miliki. Dengan hal tersebut, maka tidak mengherankan apabila banyak kandidat siswa teladan yang masuk kedalam ranking 10 besar di kelasnya. 

Namun, terdapat kekurangan dari diadakannya seleksi ini. Dimulai dari para siswa yang merasa terpaksa untuk mengikuti serangkaian tes untuk menjadi siswa teladan, hingga absennya para siswa karena mereka merasa dengan mengikuti kegiatan ini, tidak terdapat manfaat dari sisi akademik untuk masuk ke perguruan tinggi. Padahal kenyataannya dengan adanya kegiatan ini diharapkan siswa dapat menjadi lebih termotivasi untuk terus aktif di sekolah baik dari sisi akademis maupun non-akademis. 

Tujuan dari tes psikologi yang dilakukan oleh para dosen adalah agar mengetahui potensi siswa yang dimiliki apakah telah sesuai dengan kriteria siswa teladan atau tidak karena setiap anak memiliki karakteristik dan pola pikir yang berbeda-beda dalam menghadapi sesuatu. Selain itu, manfaat dari wawancara yang dilakukan di SMAN 35 Jakarta ini adalah dapat membantu para guru dalam menentukan kriteria siswa teladan di sekolah sesuai dengan aspek psikologi yang ada karena apabila dilihat dari wawancara yang sudah dilakukan, menurut pandangan dosen kriteria yang ditetapkan oleh pihak sekolah masih belum sesuai. Hal ini dapat dilihat dari respons siswa dalam sesi wawancara. Maka dari itu, dari wawancara ini diharapkan pihak sekolah dapat merevisi kriteria siswa teladan agar kedepannya dapat memberikan contoh yang baik bagi siswa lainnya.