Bagaimana self-healing bisa menjadi sebuah tren di Indonesia dan mengapa banyak sekali orang yang mengikuti tren ini? Tren ini berawal dari masyarakat yang mulai merasa jenuh dengan kehidupan selama pandemi COVID-19 masih berlangsung (Atha, 2021). Menurut beberapa sumber media, pandemi mengakibatkan banyak masyarakat yang tidak bisa bebas beraktivitas seperti dahulu, harus mengikuti protokol kesehatan yang diberlakukan, jenuh dan bosan dengan kegiatan yang serba online (Khairina, 2022). Alhasil, banyak masyarakat yang merasa stres, tertekan, depresi, frustasi, bahkan timbul keinginan untuk bunuh diri. Untuk melepaskan perasaan-perasaan negatif tersebut, mereka mulai mencoba keluar rumah dan melakukan berbagai hal yang dianggapnya dapat mengobati diri mereka, seperti jalan-jalan ke luar kota, belanja, makan, dan berkumpul dengan teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa (Dewi, 2022). Semua hal itu mereka lakukan demi melepaskan kepenatan yang ada. Tak jarang pula kita jumpai beberapa orang yang sudah tidak memedulikan lagi protokol kesehatan demi kesenangannya ini.

Hingga akhirnya memasuki tahun kedua semenjak pandemi COVID-19 melanda Indonesia, muncul sebuah tren baru yaitu Self-healing (Dewi, 2022). Mulai dari menonton film yang disukai, melakukan perjalanan singkat ke luar kota, hingga berkumpul bersama teman dijadikan sebuah konten video self-healing yang diabadikan melalui media sosial, seperti TikTok dan Instagram. Tak sedikit pula orang-orang yang mulai mengikuti tren ini, kemudian menjadi viral —mendatangkan tanggapan pro dan kontra dari berbagai kalangan masyarakat (Atha, 2021). Beberapa orang juga mengatakan bahwa hal-hal seperti itu bukan lah bentuk sebuah self-healing dan menyalahartikan kegiatan self-healing ini. Hal ini dikarenakan apa yang dianggap masyarakat sebagai kegiatan self-healing berbeda pengertiannya dari yang dijelaskan oleh para ahli. Masyarakat kerap mengartikan kalau self-healing adalah kegiatan liburan ke tempat bagus dan membutuhkan biaya yang mahal untuk melakukan semua kegiatan itu (Damayanti, 2022). Lalu, sebenarnya apa itu self-healing dan bagaimana sudut pandangnya dari bidang Psikologi?

Sebenarnya, istilah self-healing ini sudah ada sejak dahulu kala dan sering juga digunakan sebagai metode terapi yang dilakukan oleh para Psikolog dan Psikiater. Menurut Mayer (2009), Kata ‘Self’ (dengan huruf S capital) diciptakan oleh Dr. Jung yang memiliki arti diri yang lebih luas dari ego. Dalam karya Dr. Jung, ia juga membahas mengenai pentingnya elemen psychoid (body-centered) dari jiwa dalam proses individualisasi. Namun, dalam istilah self-healing, tidak hanya dibahas dari dimensi psychoid melainkan juga penggabungan elemen penyembuhan alam semesta dan sekitarnya. Kata healing sendiri diartikan sebagai “a process of a cure” sebuah proses penyembuhan atau pengobatan. Secara harfiah, self-healing mengandung makna penyembuhan diri. Dengan demikian, self-healing merupakan sebuah proses pengobatan atau penyembuhan yang dilakukan sendiri melalui proses yang diyakini oleh dirinya sendiri dan juga didukung oleh lingkungan dan faktor eksternal yang menunjang (Crane & Ward, 2016). Khairina (2022) mengatakan bahwa biasanya seseorang yang melakukan self-healing adalah seseorang yang sedang mengalami penurunan kesehatan, khususnya orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan secara emosional. Namun tidak menutup kemungkinan kalau self-healing juga mencakup kesehatan fisik. Dapat kita ketahui bahwa self-healing merupakan sebuah proses penyembuhan diri akibat adanya gangguan secara mental maupun fisik yang membuat diri merasa tidak sehat, serta self-healing dilakukan sendiri dengan cara yang diyakini oleh dirinya sendiri serta mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar dan faktor eksternal lainnya.

Setelah melakukan self-healing, tidak jarang banyak pelaku yang justru merasa kesal ataupun menyesal, seperti tempat wisata yang dikunjungi ternyata memerlukan biaya pengeluaran yang cukup besar (Damayanti, 2022). Hal-hal seperti itu bukannya memicu ketenangan dan kedamaian dalam diri, justru membuat suasana hati bertambah parah. Padahal, inti dari kegiatan self-healing adalah untuk terlibat dalam kegiatan dan meningkatkan kesejahteraan dalam pikiran, tubuh, emosi, dan jiwa (Crane & Ward, 2016).

Self-healing dapat dilakukan dengan cara yang mudah dan hemat. Salah satu cara untuk memulai self-healing adalah dengan mengaktivasi physical techniques agar sistem saraf otonom yang ada pada tubuh kita bisa menjadi lebih tenang, seperti tekanan darah dan detak jantung (Crane & Ward, 2016). Berikut adalah beberapa teknik-teknik Self-healing yang dapat dilakukan menurut Crane & Ward (2016).

  • Latihan pernapasan

Dengan berlatih pernapasan, kita dapat mengontrol respon tubuh yang mulai stres menjadi lebih tenang dan seimbang. Pelatihan yang dilakukan secara rutin, dapat meningkatkan kemampuan diri dalam mengontrol stress. Berikut adalah cara mudah untuk melakukan latihan pernapasan:

  1. Letakkan satu tangan di atas dada dan satu tangan lainnya di atas perut. Bernapaslah secara normal dan perhatikan apakah tangan di atas dada atau di atas perut yang lebih banyak bergerak.
  2. Jika tangan di atas dada bergerak lebih banyak, maka pernapasan tersebut adalah pola pernapasan yang dangkal dan tertekan. Agar relaksasi terjadi maka perut harus bergerak untuk melakukan pernapasan dalam.
  3. Letakan tangan di posisi sebelumnya. Llatihlah pernapasan Anda agar tangan yang ada di atas perut dapat bergerak terlebih dahulu, setelahnya tangan yang di atas dada baru bergerak dan perlahan bergerak tanpa menggerakan bahu, kemudian hembuskan napas secara perlahan.
  4. Hembuskan napas dua kali sepanjang ketika anda mengambil napas; kegiatan ini akan menstimulus parasympathetic nervous system.

Setelah melakukan latihan pernapasan, rasakan efeknya pada tubuh Anda. Kegiatan ini dapat memberikan relaksasi dan energi pada tubuh Anda.

  • Body Awareness

Teknik body awareness atau body scanning berguna untuk membawa kesadaran ke sensasi sebelum menjadi penyakit. Teknik ini dapat digunakan untuk memulai proses relaksasi dan hanya diperlukan sekitar 30 detik untuk mempraktikkannya, berikut caranya:

  1. Tutup mata Anda dan ambil napas dalam.
  2. Mulailah menyadari sensasi dari kepala, leher, dan pundak. Rasakan apabila ada ketegangan pada ketiga bagian tersebut.
  3. Lanjutkan pemeriksaan pada bagian tubuh, dan rasakan bagian yang menegang dan bagian mana yang merasa rileks.
  4. Fokus pada bagian yang rileks dan bayangkan relaksasi menyebar ke seluruh bagian tubuh. Lakukan ini untuk beberapa pernapasan, kemudian regangkan otot dan buka mata Anda.
  • Meditasi untuk memperoleh relaksasi

Teknik meditasi yang mudah dapat dipraktikan secara berkala. Beberapa keuntungan yang didapatkan dalam menerapkan teknik ini adalah menurunkan tekanan darah, meningkatkan fokus dan perhatian, meningkatkan keefektifan pada sistem imun, serta merendahkan tanda-tanda depresi. Terdapat 4 cara mudah untuk melakukan meditasi, yaitu:

  1. Temukan lingkungan yang tenang
  2. Secara sadar tenangkan otot tubuh
  3. Fokus selama 10-20 menit pada sebuah kata spesifik atau frasa
  4. Asumsikan sikap pasif terhadap pikiran yang mengganggu
  • Mindfulness

Teknik ini berhubungan dekat dengan meditasi, yaitu dengan mengatur kesadaran pikiran dari waktu ke waktu, perasaan, sensasi tubuh, dan lingkungan sekitar. Teknik ini mengundang Anda untuk memperhatikan sensasi tubuh, emosi, dan reaksi secara sadar.

Seorang Psikolog, Albert Ellis, mempelopori teknik yang sekarang dikenal sebagai rational emotive behavior therapy.  Teknik ini mengajarkan klien untuk mempertanyakan interpretasi dan pikiran mereka tentang peristiwa eksternal dan membantu mereka untuk merubah pikiran tersebut menjadi lebih rasional. Efeknya adalah reaksi tubuh yang lebih tenang. Berikut adalah cara menenangkan emosi dan fisik Anda ketika dilanda perasaan takut atau marah:

  1. Tarik napas dalam, kemudian tanyakan pada diri Anda, “pikiran apa yang saya pikirkan?”
  2. Apakah pikiran-pikiran ini dapat membantu saya mengatasi situasi ini atau tidak?
  3. Pikiran apa yang seharusnya dapat saya pikirkan?
  • Hipnosis, Tai Chi, dan Qigong

Mayer (2009) mengatakan dengan pengalamannya dalam mempraktikkan Tai Chi dan Qigong selama bertahun-tahun ia juga merasakan manfaatnya; ia dapat menyembuhkan energi yang terblok dalam tubuh dan dapat menyambungkan tubuh dengan pikirannya kembali. Kegiatan seperti Tai Chi dan Qigong yang merupakan tradisi dari China menjadi salah satu bagian fundamental dalam pendekatan energy psychology yang dibuat oleh Michael Mayer, bahkan ia juga menggabungkan metode psikoterapi dari Barat di dalamnya. Selain itu, Tai Chi, Qigong, hipnosis, dan acupressure self-touch menjadi bagian paling penting dalam pendekatan Bodymind Healing Psychotherapy (Mayer, 2009).

  • Physical affection

Salah satu studi menunjukkan bahwa berpelukan meningkatkan kadar oksitosin dan menurunkan tekanan darah serta detak jantung. Pelukan juga dapat menimbulkan rasa nyaman dan sejahtera. Namun, perlu diingat bahwa ada baiknya meminta izin terlebih dahulu sebelum memeluk seseorang.

  • Olahraga

Telah terbukti bahwa olahraga dapat merendahkan tingkat stres, tekanan darah dan gula darah, serta meningkatkan kadar endorphin. Berolahraga dengan paling sedikit 20 menit per minggu dapat menghasilkan hasil yang memuaskan. Saat ini juga sudah banyak aplikasi yang dapat membantu Anda melakukan olahraga.

  • Nutrisi

Makan makanan yang bergizi dan sehat termasuk ke dalam salah satu cara yang dianjurkan untuk mempraktikkan self-healing. Makan dengan jadwal yang teratur, snack yang bergizi, memperhatikan kadar gula, lemak, dan karbohidrat akan menjadi tantangan tersendiri untuk memenuhi nutrisi tubuh yang baik dan seimbang.

Teknik-teknik di atas tidak hanya berguna untuk meredakan stress, tapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan tubuh, meningkatkan konektivitas spiritual, serta metode yang sangat berguna untuk physical healing (Crane & Ward, 2016). Selain teknik-teknik yang sudah disebutkan tadi, terdapat beberapa teknik lain, seperti melakukan rutinitas menulis yang dapat membantu seseorang menurunkan ketegangan dan memberikan informasi yang lebih banyak pada masalah yang mereka alami (Wahyuningsih, 2021). Selain itu, kegiatan menulis dapat meningkatkan kesadaran diri dan memungkinkan Anda untuk memasuki pikiran bawah sadar. Kegiatan ini dapat dilakukan selama 15-20 menit dan dapat ditingkatkan sesuai dengan minat dan kebutuhan (Khairina, 2022).

Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa Self-healing merupakan sebuah proses menyembuhkan diri dari dalam, yang dilakukan oleh diri kita sendiri dan dengan cara kita sendiri, serta dengan dukungan dari lingkungan sekitar dan faktor eksternal lainnya. Kita perlu mengingat bahwa self-healing bukan berarti mengikuti tren yang berkembang di media sosial. Seseorang yang ingin melakukan self-healing harus benar-benar merasakan bahwa kegiatan tersebut akan membawa ketenangan dan kegembiraan bagi dirinya, bukan yang akan membawa penyesalan dan hanya kegembiraan sesaat. Yuk, kita mulai melakukan self-healing di rumah dengan cara yang mudah dan murah untuk kesejahteraan jiwa dan fisik kita.

Referensi:

Atha, C. (2021, Desember 17). Self-healing seketika menjadi tren baru di masa pandemi. Kumparan. Diakses pada 25 Februari ,2022, melalui https://kumparan.com/06-chevy-atha/self-healing-seketika-menjadi-tren-baru-di-masa-pandemi-1x6qNrll5Tr/full

Crane, P. J., & Ward, S. F. (2016). Self-healing and self-care for nurses. AORN Journal, 104(5), 386-400. Doi:10.1016/j.aorn.2016.09.007

Damayanti (2022, Januari 22). 5 pemahaman keliru tentang self-healing yang perlu dibenahi. IDN Times. Diakses pada 18 Maret, 2022, melalui https://www.idntimes.com/life/inspiration/daysdesy/pemahaman-keliru-self-healing-c1c2/5

Dewi, R. K. (2022, Februari 6). Ramai tren “healing”, apa itu: Ini penjelasan psikolog. Kompas. Diakses pada 14 Maret, 2022, melalui https://www.kompas.com/tren/read/2022/02/06/160000965/ramai-tren-healing-apa-itu-ini-penjelasan-psikolog.

Khairina, A. (2022, Februari 17). Tren self-healing, apa pengertian dan bagaimana melakukannya. Good doctor. Diakses pada 25 Februari, 2022, melalui https://www.gooddoctor.co.id/hidup-sehat/mental/tren-self-healing-apa-pengertian-dan-bagaimana-melakukannya/

Mayer, M. (2009). Energy psychology. North Atlantic Books.

Wahyuningsih, S. (2021). Dosen dan mahasiswa: menulis merdeka adalah media self healing di masa pandemi. Dosen Merdeka: Peran, Tantangan, Strategi, Tranformasi dan Inovasi Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Unisma Press.

 Penulis: Theresia

Di bawah supervisi Rani Agias Fitri