Self Diagnose

Pernah atau bahkan seringkah teman-teman mendengar kalimat berikut, mungkin dari teman, kerabat, sahabat, atau bahkan teman-teman sendiri yang seperti ini?

“Aduh maaf ya bipolarku lagi kambuh nih, gue musti sendiri dulu!”

“Aku tuh ga bisa liat berantakan begini, jiwa OCD gue meronta-ronta!”

Kayaknya sih, pernah ya teman-teman? Nah, minggu lalu pada acara “Happiness You” yang diadakan oleh BINUS BEKASI, tanggal 28 Maret 2022, menghadirkan dua narasumber untuk membahas contoh diatas, yakni tentang: Self Diagnose. Narasumber pertama adalah Annisa Poedji Pratiwi, Psikolog dari Pijar Psikologi  atau biasa dipanggil mba Sasa, dan narasumber kedua adalah Sylvi Adriana dari Komunitas Dialog.

Menurut Annisa Poedji Pratiwi, Psikolog dari Pijar Psikologi, Self Diagnose atau mendiagnosa diri sendiri adalah proses diagnosis terhadap diri sendiri mengidap suatu gangguan/penyakit berdasarkan pengetahuan diri sendiri atau informasi yang didapatkan secara mandiri melalui buku, internet, atau pengalaman diri dan keluarga. Tentu hal ini tidak baik dan bisa membahayakan, lebih lanjut menurut Mba Sasa, panggilan dari Annisa Poedji Pratiwi, menjelaskan bahwa diagnose diri ini justru bisa berakibat pada rasa khawatir yang berlebihan, salah penanganan, dan bahkan kondisi Kesehatan yang makin parah. Hal ini didukung dengan fakta yang dipaparkan oleh Sylvia, dengan data yang diperolehnya dari hasil riset Millenial Mindset, bahwa sebanyak 37% gen Y yang mengikuti survey telah melakukan diagnose diri terkait masalah Kesehatan mental yang mereka yang sebenarnya tidak mereka miliki dengan melihat informasi Kesehatan mental secara online, dan ini justru menyebabkan rasa khawatir atas Kesehatan mental mereka.

Figure 1 ilustrasi self diagnose, sumber materi PKM Sylvia Adriana Komunitas Dialog

 

Menurut Mba Sasa, daripada kita sibuk melakukan self diagnose yang belum tentu benar, akan lebih baik jika kita memelihara dan meningkatkan Kesehatan mental kita. Oleh karena itu, mba Sasa kemudian mengajak kita untuk tahu beberapa ciri sehat mental:

  1. Mengenal kemampuan diri
  2. Mampu mengatasi stress sehari-hari
  3. Produktif
  4. Berkontribusi, misalnya pada lingkungan

Nah dari empat tanda berikut, bagaimana pada diri teman-teman? Apakah sudah mengenal kemampuan diri? Apa kekuatan teman-teman, potensi apa yang bisa dan ingin dikembangkan? Apakah sudah dapat mengelola stress sehari-hari? Apakah sehari-hari produktif? Apakah berkontribusi? Nah pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk memborbardir teman-teman ya, namun untuk mengajak berefleksi. Dengan demikian, alih-alih sibuk dengan mencari-cari dan mendiagnosa diri, lebih baik kita berefleksi.

Self-diagnose memang sangat mungkin terjadi diera informasi yang tak terbatas ini. Tidak semua informasi itu benar, pun Ketika itu disampaikan oleh influencer sekalipun. Jadi, perlu mawas diri, perlu kesadaran diri dan juga lebih skeptis dan juga lebih kritis dengan informasi.

Lalu bagaimana dengan isu self-diagnose tadi? Jadi, dengan focus kita untuk menjaga dan meningkatkan Kesehatan mental kita, maka kita akan lebih sadar atas berbagai factor yang mungkin mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Secara lebih luas, diharapkan Kesehatan kita secara optimum juga akan meningkat. Jadi sekali lagi, alih-alih sibuk mendiagnosa diri, lebih baik kita focus merawat diri.

Bagaimana jika kita merasa tidak enak? Ada yang salah? Atau yang dirasakan terasa memburuk? Semua narasumber setuju, bahwa sebaiknya teman-teman serahkan saja pada ahlinya. Segera hubungi berkonsultasi dengan professional, baik itu Psikolog maupun psikiater, ya!