Cerita Tentang Gejala Phobia Jarum Suntik

Salah satu cara melindungi diri dari virus corona adalah dengan melakukan vaksinasi. Sejauh ini, vaksinasi diberikan dengan cara penyuntikan vaksin. Apa yang terjadi ketika seseorang mengalami rasa takut yang intens akan jarum suntik?

Pada Hari Jumat, 26 November 2021 penulis diundang untuk menjadi narasumber pada siaran instagram live yang diselenggarakan Vyna Lee,  seorang Digital Creator dan MTV VJ Indonesia Asia 2006. Topik phobia dipilih oleh Vyna setelah sekitar 3 minggu sebelumnya membahas phobia yang ia miliki terhadap jarum suntik dan kesulitannya untuk vaksin. Beberapa followers Vyna pun berbagi kisah nya masing-masing terhadap ketakutan irasional terhadap banyak benda atau situasi, seperti badut, pisang, robot, anjing, dan lain-lain. Acara ini dimulai pukul 08.10 dan dibuka oleh Vyna yang menyapa viewers dan memperkenalkan penulis sebagai narasumber yang akan membahas phobia lebih mendalam sebagai Psikolog Klinis.

Vyna menceritakan pengalamannya mengalami ketakutan terhadap jarum suntik. Vyna menjelaskan bahwa sejak kecil, ia sering diingatkan oleh ibunya bahwa jarum suntik tidak sakit. Namun pengalaman Vyna saat SMP dengan jarum suntik untuk mengambil darah begitu sakit, membuat Vyna memiliki ketakutan terhadap jarum suntik. Hingga dewasa Vyna tidak pernah mau untuk berhubungan dengan jarum suntik. Vyna yang memiliki keinginan untuk melakukan perawatan wajah pun merasa sangat terbatas karena tidak bisa melakukan perawatan yang membutuhkan penggunaan jarum suntik seperti botox dan filler wajah.

Namun, kondisi pandemi mengharuskan setiap individu melakukan vaksinasi sebagai salah satu syarat beraktivitas, berpergian, bekerja, dan bersekolah. Vyna pun tidak memiliki pilihan lain kecuali untuk menghadapi ketakutannya terhadap jarum suntik. Satu hari sebelum vaksinasi, Vyna mengalami perasaan yang tidak nyaman, seperti keringat berlebihan, diare, dan jantung berdetak kencang.

Tibalah hari vaksinasi. Beberapa saat sebelum vaksinasi pun Vyna merasakan perasaan yang sama dengan intensitas yang lebih parah. Untungnya, tenaga kesehatan yang menangani Vyna membantunya merasa lebih baik dengan mengintruksikan latihan bernapas agar ritme bernapasnya stabil. Latihan bernapas dan pendekatan tenaga kesehatan yang lemah lembut turut untuk membantu Vyna merasa tenang. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan vaksinasi. Pengalamannya saat vaksin pertama ini membantu Vyna mengatasi rasa takutnya terhadap jarum suntik.

Dalam kesempatan IG live tersebut, penulis menjelaskan bahwa phobia merupakan salah satu jenis dari gangguan kecemasan. Phobia merupakan rasa takut yang tidak rasional terhadap suatu benda atau suatu situasi. Hal yang membedakan rasa takut terhadap phobia adalah objek atau situasi yang ditakutinya. Rasa takut normal untuk dirasakan ketika individu benar-benar berhadapan dengan ancaman yang membahayakan. Penulis membandingkan contoh rasa takut dan phobia dengan membandingkan sebuah situasi ketika Vyna dihadapkan dengan jarum suntik dan ketika individu berhadapan dengan ular berbisa. Vyna sudah merasa tidak nyaman hanya dengan membayangkan kemungkinan akan berhadapan dengan jarum suntik, merupakan salah satu contoh gejala phobia. Phobia juga membuat individu memiliki perilaku menghindari objek atau situasi yang membuatnya tidak nyaman, seperti Vyna yang tidak pernah lagi disuntik sejak kejadian saat SMP meskipun memiliki keinginan untuk melakukan botox dan filler wajah.

Penulis kemudian memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan individu ketika merasakan gejala-gejala phobia, yaitu:

  1. Kenali gejala yang dirasakan, perasaan yang muncul, dan sadari adanya penghindaran terhadap situasi tersebut.
  2. Perhatikan kondisi di sekitar apakah benar ada hal-hal yang mengancam atau membahayakan. Rasa takut berguna membantu seseorang untuk menyelamatkan diri dari sebuah ancaman. Bila kita sadar bahwa tidak ada objek atau situasi yang mengancam, maka bisa melakukan teknik-teknik relaksasi untuk menenangkan diri.
  3. Desensitisasi Sistematis. Berusaha untuk mengurangi rasa tidak nyaman terhadap situasi yang mengganggu. Kita mencoba untuk mendekatkan diri dengan sesuatu yang mengganggu tersebut sambil mengelola pernapasan. Belajar untuk mengenal atau menyadari bahwa sedang merasa tidak nyaman atau takut. Lalu menggunakan box breathing atau square breathing yang bisa membantu kita untuk bernapas dan menjadi lebih tenang. Lalu membuat langkah-langkah untuk memaparkan diri dengan situasi atau objek yang mengganggu tersebut. Dalam konteks cerita Vyna yang memiliki ketakutan terhadap jarum suntik, seminggu sebelum vaksin bisa melihat atau mengamati gambar jarum suntiknya. Lalu diukur dari skala 0 sampai 100 rasa tidak nyaman yang dirasakan. Setelah itu bisa menenangkan diri, dan melihat lagi barang tersebut. Lalu diukur lagi dari skala 0 sampai 100 tasa tidak nyaman yang dirasakan. Bila sudah tenang, akan terdapat perbedaan nilai skala pertama dan kedua. Dengan teknik ini kita mengasosiasikan hal-hal yang kita takutkan dengan perasaan tenang, sebagai lawan dari perasaan sakit yang awalnya kita asosiasikan dengan objek atau situasi spesifik tersebut.
  4. Bila gejala yang dialami sudah sangat parah dan berlangsung selama 6 bulan atau lebih serta sudah mengganggu kehidupan. Misalnya bila individu mengalami ketakutan untuk naik pesawat namun pekerjaannya mengharuskannya untuk travelling, dalam hal ini rasa takut yang dirasakan mengganggunya dalam bekerja. Contoh lainnya adalah ketika individu memiliki ketakutan terhadap lift dan sangat mengganggu hingga tidak bisa mengunjungi keponakannya yang tinggal di lantai 20.

Individu bisa mencoba untuk membantu diri sendiri menyembuhkan phobia, namun bila tidak membantu hingga merasa sangat terganggu, maka disarankan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater. Agar lebih mudah mengingatnya, ketika berhadapan dengan objek atau situasi yang mengganggu, seseorang dapat melakukan: Mengenali, Menenangkan, dan Menghadapi. Ia disarankan mengenali pemicu dan perasaan yang dirasakan. Selanjutnya, ia dapat belajar bernapas perlahan untuk menenangkan diri. Terakhir, ia dapat belajar menghadapi pemicu rasa takutnya. Pada tahap menghadapi, ada baiknya didampingi dengan seorang profesional, misalnya psikolog klinis dewasa atau psikiater.

Jika kamu merasa memiliki gejala phobia, hindari mendiagnosa diri sendiri dan segera cari bantuan profesional ya! Beberapa rekomendasi psikolog dapat dilihat pada list platform konseling pada link ini.

 

Pingkan C. B. Rumondor