Psikologi, secara harfiah, berarti ilmu jiwa. Selanjutnya, definisi Psikologi berkembang menjadi Ilmu yang mempelajari proses mental dan tingkah laku. Ini adalah definisi yang stabil.

Tidak ada yang keliru dengan definisi awal psikologi sebagai ilmu jiwa. Lebih-lebih, dewasa ini, mengetahui jiwa tidak harus melalui tingkah laku. Berbagai metodologi psikologi telah mengurangi urgensi memahami tingkah laku duluan, baru bisa memahami proses mental yang melatarbelakanginya.

Kendati demikian, hasil amatan saya menunjukkan bahwa Psikologi di Indonesia menghindari penggunaan kata jiwa. Salah satu contoh yang paling nyata adalah mengubah HKJS (Hari Kesehatan Jiwa Sedunia) menjadi HKMS (Hari Kesehatan Mental Sedunia). Setelah saya mencari tahu, ternyata salah satu argumen yang saya dapati adalah: Jiwa adalah milik Kedokteran Jiwa (Psikiatri), sedangkan Mental adalah milik Psikologi. Argumen ini cukup mengejutkan saya, walau juga membuat saya tersenyum, dan bertanya: Benarkah begitu? Haruskah begitu?

Beberapa bulan lalu, “penolakan” terhadap jiwa di kalangan Psikologi di Indonesia saya alami kembali, secara langsung. Di dalam sebuah WhatsApp Group, seseorang mengungkap sebagai berikut:

“…. tertulis ‘sehat jiwa’. Apakah kita memang sudah meninggalkan istilah ‘mental’ dan bermigrasi ke istilah ‘jiwa’ supaya lebih sinkron dengan yang lazim dipakai di kedokteran dan di dunia perundangan (UU Kesehatan Jiwa, misalnya)? …. Bahkan di kalangan terpelajar pun hingga kini masih sering tidak dipahami perbedaan antara Psikiatri dan Psikologi, psikiater dan psikolog. Kayaknya, kita perlu memutus persepsi (keliru) seperti dulu filsafat dipandang sekadar sbg ‘ancilla’ (pembantu, ART) teologi, kini Psikologi dipandang sbg ART Kedokteran.”

Terhadap pernyataan tersebut, saya menanggapi, sebagai berikut:

Hemat saya, ‘jiwa’ bukan miliknya ‘kedokteran/psikiatri’. Jiwa adalah serapan dari bahasa Sansekerta, ‘Jiva‘ (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Jiva), dalam mana bahasa Sansekerta sudah ribuan tahun dikenal di Nusantara (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Daftar_kata_serapan_dari_bahasa_Sanskerta_dalam_bahasa_Melayu_dan_bahasa_Indonesia_modern).

Kata ‘Jiwa’ lebih meng-Indonesia; lebih estetis (Sejiwa, Bersejiwa lebih indah daripada Semental). Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya [Lagu Indonesia Raya]. Kata jiwa terasa lebih menunjukkan kesatuan antara badan dan non-badan (misal, dalam KBBI Kemdikbud, jiwa juga mengindikasikan ‘orang, manusia‘). Kata Jiwa di KBBI Kemdikbud memuat lebih kaya makna (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Jiwa) ketimbang mental (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Mental).

Jadi, kalau menurut saya, penggunaan kata jiwa bukan semata keperluan pragmatis saat ini, tapi perlu diteruskan penggunaannya. Dengan perkataan lain, saya kurang sependapat jika ‘jiwa’ adalah miliknya Kedokteran dan ‘mental’ adalah miliknya Psikologi.

Rupanya ada tanggapan lebih lanjut, sebagai berikut:

Itu kata Wikipedia. Secara historis, istilah ‘jiwa’ lebih berkonotasi teologis, “menyelamatkan jiwa-jiwa”. Psikologi lahir jauh sesudah Teologi dan Filsafat, dan sesudah ‘jiwa’ didekati secara empiris-behavioral…. Kalau mau konsekuen gunakan ‘jiwa’ sebagai padanan ‘psikologi’, apakah kita lalu mau ubah Fakultas Psikologi jadi ‘Fakultas Ilmu Jiwa’?
Secara historis, itu yang saya dengar dikeluhkan juga oleh Psikolog yang berkarya di RSJ (lagi-lagi, ‘jiwa’). Direktur RSJ lazimnya psikiater, BUKAN Psikolog.

Kembali saya respons, sebagai berikut:

Boleh jadi ada pengaruh arus penerjemahan biblikal, namun arus serapan dari bahasa Sansekerta juga sama sahihnya, dan dalam Wikipedia itu tertera rujukan ilmiah jurnal, buku, dsb, di akhir entri. Dalam dinamika berbahasa, juga ada gejala ameliorisasi maupun peyorisasi oleh penuturnya.

Saya belum menangkap ada gejala peyorisasi kata ‘jiwa’ di tengah-tengah masyarakat Indonesia, walau amatan tentang inferioritas psikologi di hadapan psikiatri serius juga.

Seingat saya, kata ‘mental’ salah satunya ‘booming‘, dipopulerkan di Indonesia oleh Deddy Corbuzier, ketika ia mengklaim dirinya sebagai mentalis (mentalist)

Walau, sebelumnya juga cukup populer di kalangan akademisi, buku Koentjaraningrat berjudul Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan.

Sedangkan kata ‘Psiko’ (bukan kata psikologi) sering berkonotasi dengan ‘Psycho’ (istilah slang) dalam perbincangan sehari-hari [ walau sebenarnya berbeda – https://wikidiff.com/psychology/psycho ].

Dalam tinjauan pop culture, sekarang jiwa bahkan sudah dapat ‘dikecap dan diminum’ — atau sangat empiris, meninggalkan konotasinya yang abstrak dan filosofis — ketika ia menjadi ‘Janji Jiwa’ (salah satu brand kopi). Anak-anak muda mengatakan ‘Mantap Jiwa!’ untuk menunjukkan happiness atau pun memuji orang lain yang mengesankan.

Kata kejiwaan masih lebih sering dipakai dari kata ‘kepsikologian’ atau ‘kementalan’.

Barangkali memang dinamika berbahasa ini perlu juga dibahas dalam sebuah simposium. Terakhir saya dengar komisi bahasa disiplin psikologi KBBI digawangi oleh Prof. Sawitri S. Sadardjoen….

 

 

Sumber gambar: https://www.pxfuel.com/id/free-photo-xlefl

Datang kembali tanggapan, sebagai berikut:

Kerugian lain dari mengekor istilah ‘jiwa’ yang lebih lazim di dunia kedokteran/keperawatan adalah kita jadi punya titik buta tentang prasejarah Psikologi di Indonesia, seolah-olah hanya lahir dari rahim sekolah kedokteran. Di institusi swasta yg berafiliasi agama, …. psikologi lahir dari rahim pedagogi. Di lingkungan institusi kependidikan, apa yang oleh Psikologi disebut ‘praktik psikologi’ juga tetap eksis hingga kini, entah dengan bendera Bimbingan dan Konseling atau Psikologi Pendidikan. Bagaimana Psikologi harus bersikap terhadap realitas seperti ini?

Saya belum menanggapi lagi. Meskipun begitu, saya sebenarnya sangat menyadari hal yang dimaksud dengan “titik buta” dimaksud. Pada 2017, saya telah menyampaikan konsen ini dalam sebuah artikel riset empiris, dengan judul “Indonesian Students’ Representation on Psychology and Social Change: Challenge for Curriculum Progression“. Dalam artikel tersebut, saya dan rekan menulis sebuah interpretasi yang persis menyoroti titik buta dimaksud:

Regarding their aim of social change, participants in the majority answered “Mental Health Promotion” as their main objective. This is one of the best possible answers that we could get, as it is often hoped from the students to initiate themselves in engaging and recognizing the problem of mental health in Indonesia. Also, in Indonesia, psychology is close to the medical and health world, even the founder of the first psychological education in Indonesia is a psychiatrist, namely Prof. Dr. Slamet Iman Santoso [14] . In addition to this response, while the urgent social problems in their eyes lie in the educational and children life field, when we linked with the answer “change the self, change the mindset” they give to the question of “Concrete Approach from a Stand Point of Psychology”, it appears that the psychology students in Java consistently mainly, if not the singly, remember individual or interpersonal approach as the approaches to solve social problems. However, mental health and educational fate are still not yet seen as products of socio-political-cultural forces that operate in a society [15] [16] .

Kendati demikian, saya belum melihat relevansi antara “titik buta” dimaksud dengan kata Jiwa  sebagai pembawa kolonialisme terhadap Psikologi.

Bagaimana menurut Anda? Setujukah Anda jika sebaiknya Psikologi “menolak” kata jiwa?

Penulis: Dr. Juneman Abraham