Penggunaan Scaffolding Sebagai Strategi Pengajaran

Artikel ini ditulis oleh Riqa Alvarsa Gandasoebrata – 2201773525

Strategi Pengajaran

Sebuah pengajaran yang efektif merupakan pengajaran yang ideal dan tentunya dapat menghasilkan siswa-siswa dengan kemampuan yang optimal. Dalam mewujudkan suatu pengajaran yang efektif, maka diperlukan juga perilaku-perilaku tertentu yang dapat mewujudkan suatu pengajaran, terutama perilaku yang bersifat positif. Perilaku positif tersebut dapat disebut juga sebagai strategi pengajaran (teaching strategy). Strategi pengajaran sendiri adalah sebuah teknik pendidikan, metode, atau rencana tindakan kelas yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan atau pembelajaran tertentu (Ayua, 2017).

Banyak strategi pengajaran yang dapat dilakukan oleh pengajar terhadap siswanya agar dapat mencapai hasil yang ideal dan optimal, pemilihannya harus dipertimbangkan dengan baik dan benar menyesuaikan dengan keadaan kelas dan juga siswa yang dibimbing. Salah satu metode yang dapat dilakukan pengajar sebagai strategi pengajaran adalah metode scaffolding.

 

Scaffolding

Salah satu penentu keberhasilan dalam pengaplikasian strategi pengajaran dapat dilihat dari aspek keefektifan komunikasi antara pengajar dan siswanya. Agar pengajar dapat secara langsung engaged dengan siswanya, maka dilakukanlah penggunaan-penggunaan strategi.

Salah satunya adalah implikasi yang terkenal dari teori Vygotsky, Scaffolding, yang mana dapat digunakan untuk membantu meningkatkan pemahaman guru dan mengembangkan teknik pengajarannya (Verenikina, 2008).

Menurut Wood et all (1976) Scaffolding sendiri dapat digambarkan sebagai proses tutorial dimana orang dewasa atau orang yang lebih ahli membantu sesorang yang kurang dewasa atau kurang ahli (Bliss, Askew, Macrae, 1996).

Lave dan Wenger (1991) mengatakan bahwa jika dibandingkan dengan konsep Vygotsky lainnya yaitu ZPD (Zone of Proximal Development), Scaffolding memiliki tujuan yang agak berbeda. ZPD sendiri lebih menekankan kepada kinerja mengajar yang menekankan kepada komunikasi dan koloborasi dua arah antara pengajar dan juga siswa, sedangkan scaffolding mengangkap kinerja mengajar sebagai proses komunikasi yang berjalan secara satu arah. Maka dari itu scaffolding dapat dilihat sebagai proses satu arah dimana pengajar mengkonstruksikan scaffolding itu sendiri dan kemudian menyajikannya untuk penggunaan pemula (Verenikina, 2008).

ZPD sendiri menurut Raymond (2000) memiliki arti sebagai jarak antara apa yang dapat dilakukan siswa sendiri dan pembelajaran berikutnya yang dapat mereka capai dengan bantuan yang kompeten (Van Der Stuyf, 2002). Meski pun telah dijelaskan bahwa ZPD dan scaffolding memiliki arah interaksi yang berbeda, namun menurut Cheng, Sung, dan Chen (2002), dapat dikatakan juga bahwa penggunaan scaffolding dapat memberikan dukungan individual berdasarkan dengan ZPD masing-masing siswa (Van Der Stuyf, 2002). Scaffolding dapat memfasilitasi kemampuan siswa untuk dapat membangun pemahaman dan menginternalisasi informasi baru sehingga scaffolding dapat membantu siswa-siswa melewati ZPD-nya masing-masing (Van Der Stuyf, 2002).

Dalam konteks kegiatan pengajaran dan interaksi dalam suatu kelas, istilah scaffolding digunakan sebagai gambaran dimana pengajar memberikan bantuan sementara kepada siswanya untuk membantu mereka menyelesaikan tugas atau mengembangkan pemahaman baru, sehingga pada nantinya siswa diharapkan dapat mengerjakan tugas yang serupa sendiri tanpa bantuan dari siapa pun (Hammond & Gibbons, 2005).

Seperti yang dijelaskan pada paragraph sebelumnya, fitur penting yang dapat digarisbawahi dari scaffolding adalah sifatnya yang sementara. Scaffolding sendiri memiliki tujuan dimana diharapkan kedepannya siswa akan dapat melakukan suatu hal secara mandiri. Maka dari itu, dalam melakukan scaffolding, dukungan dan bantuan yang diberikan oleh pengajar secara bertahap ditarik dan dikurangi kadarnya karena lama-kelamaan siswa diharapkan untuk mampu menyelesaikan tugas yang diberikan secara mandiri. Dukungan yang tepat waktu sangat penting untuk pemberlakuan scaffolding yang efektif. Pengajar pun dituntut untuk lebih memahami kemampuan dan pemahaman yang dimiliki oleh siswanya, mengenai apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui siswa tersebut pada awal suatu kegiatan (Hammond & Gibbons, 2005).

Selain berfokus pada siswa dan pemahaman mereka mengenai suatu tugas, pemberlakuan scaffolding juga menuntut pengajar untuk mengetahui fokus yang jelas pada tugas. Maka pengajar juga dituntut untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai bidang kurikulum atau bidang penyelidikan siswa mereka dan juga tuntutan tugas-tugas khusus yang dapat memungkinkan siswa untuk mencapai tujuan yang relevan (Hammond & Gibbons).

 

Scaffolding Sebagai Strategi Pengajaran

Dalam melaksanakan strategi pengajaran, scaffolding dapat dilakukan dengan membantu siswa-siswa untuk dapat menghubungkan informasi lama atau situasi yang pernah/sedang dialami dengan pengetahuan-pengetahuan baru lewat komunikasi verbal mau pun nonverbal (Van Der Stuyf, 2002). Kegiatan scaffolding menurut Bransford, Brown, dan Cocking (2000), juga dapat dilakukan dengan memberikan kegiatan-kegiatan, seperti:

  • Kegiatan yang memotivasi atau menarik minat siswa terkait dengan tugas.
  • Menyederhanakan tugas agar lebih mudah dikelola dan dipahami oleh siswa.
  • Memberikan beberapa arahan untuk membantu fokus siswa kepada pencapaian tujuan.
  • Menunjukkan dengan jelas perbedaan antara pekerjaan yang dikerjakan oleh siswa dengan standar atau solusi yang diinginkan oleh pengajar.
  • Mengurangi frustasi dan resiko
  • Memberikan model dan mendefinisikan dengan jelas harapan atau outcome yang diharapkan dari aktivitas yang dilakukan.

(Van Der Stuyf, 2000).

 

Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Scaffolding

Salah satu kelebihan dari penggunaan scaffolding, ialah bahwa instruksinya melibatkan atau engaged secara langsung dengan siswa yang diajar. Siswa yang dibimbing menggunakan scaffolding tidak hanya mendengarkan dan mendapatkan informasi secara pasif dari pengajar mereka karena pengajar akan memberikan feedback kepada mereka pada setiap tugas yang telah dikerjakan. Selain itu, scaffolding juga dapat memotivasi siswa sehingga timbul perasaan ingin tahu dan ingin belajar mengenai suatu hal baru pada diri siswa. Instruksi pada scaffolding biasanya berbeda-beda tergantung kepada kemampuan siswa, sehingga dapat menguntungkan untuk masing-masing individu siswa. Meski pun hal tersebut terlihat baik, namun hal tersebut juga dapat menjadi kekurangan dari penggunaan scaffolding itu sendiri. Karena scaffolding dapat memiliki instruksi yang disesuaikan dengan kemampuan setiap siswa, membuat penggunaannya memakan waktu yang lama dibandingkan dengan pengajaran biasa. Penerapan scaffolding pada sebuah kelas dengan siswa berjumlah banyak juga dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pengajarnya. Selain itu, dalam penggunaan scaffolding pengajar dituntut untuk memberikan lebih sedikit kontrol terhadap siswanya dan membiarkan mereka belajar dari kesalahan yang mereka buat. Penggunaan scaffolding tanpa pelatihan yang tepat pada pengajar juga dapat menghasilkan efektivitas yang diinginkan (Van Der Stuyf, 2002).

 

Kesimpulan

Scaffolding merupakan salah satu strategi pengajaran yang unik dan menantang untuk diterapkan dalam kelas. Scaffolding merupakan hal yang berbeda dari sekedar memberikan bantuan kepada siswa. Scaffolding menuntut pengajar bukan hanya untuk memberikan jawaban yang benar kepada siswa, namun juga untuk ikut serta dalam memunculkan motivasi siswa dalam menemukan jawaban atau solusi yang benar dan tepat. Meski pun terkesan sulit dan rumit tetapi scaffolding dapat memberikan hasil positif yang memuaskan untuk pemahaman dan juga perkembangan siswa.

 

 

Referensi

Ayua, G. A. (2017, September). Effective teaching strategies. In Orientation and Refresher Workshop for Teachers. https://doi. org/10.13140/RG (Vol. 2, No. 34147.09765).

Bliss, J., Askew, M., & Macrae, S. (1996). Effective teaching and learning: Scaffolding revisited. Oxford review of Education22(1), 37-61.

Hammond, J., & Gibbons, P. (2005). What is scaffolding. Teachers’ voices8, 8-16.

Van Der Stuyf, R. R. (2002). Scaffolding as a teaching strategy. Adolescent learning and development52(3), 5-18.

Verenikina, I. (2008). Scaffolding and learning: Its role in nurturing new learners.

 

Riqa Alvarsa Gandasoebrata