Tantangan dalam Implementasi Differentiated Instruction di Perguruan Tinggi

             Differentiated Instruction merupakan sebuah model pembelajaran yang dapat diimplementasikan pada jenjang pendidikan mana pun. Turner, Solis, dan Kincade (2017) mengatakan bahwa pengimplementasian model pembelajaran Differentiated Instruction memiliki hasil yang positif terhadap hasil dan aktivitas belajar siswa pada jenjang pendidikan primer (Sekolah Dasar) dan sekunder (Sekolah Menengah Pertama sampai dengan Sekolah Menengah Atas).  Hal tersebut dibuktikan melalui penelitian-penelitian mengenai Differentiated Instruction hingga saat ini. Namun sayangnya, penelitian mengenai implementasi Differentiated Instruction pada pendidikan tersier atau pendidikan di perguruan tinggi masih terbatas.

 

                Darra dan Kanellopoulou (2019) melakukan tinjauan terhadap 16 penelitian mengenai implementasi Differentiated Instruction di perguruan tinggi. Penelitian-penelitian tersebut merupakan penelitian yang dilakukan mulai dari tahun 2008 sampai 2018. 16 penelitian tersebut memiliki hasil yang beragam. Beberapa penelitian membuktikan bahwa implementasi Differentiated Instruction di perguruan tinggi efektif dalam meningkatkan kemampuan dan hasil belajar mahasiswa, namun beberapa penelitian lainnya mengatakan bahwa implementasi Differentiated Instruction tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan dan hasil belajar mahasiswa. Dari penelitian-penelitian tersebut, ternyata juga diketahui bahwa terdapat beberapa tantangan yang muncul ketika mengimplementasikan Differentiated Instruction di perguruan tinggi. Tantangan-tantangan tersebut merupakan tantangan yang dapat mempengaruhi efektivitas penerapan model pembelajaran ini. Berikut ini merupakan tantangan-tantangan yang seringkali muncul ketika mengimplementasikan Differentiated Instruction di perguruan tinggi:

 

  1. Adanya model pembelajaran dalam kelas besar di perguruan tinggi

Turner, Solis, dan Kincade (2017) mengatakan bahwa lingkungan pembelajaran pada pendidikan primer dan sekunder berbeda dengan lingkungan pembelajaran pada perguruan tinggi. Jumlah mahasiswa pada sebuah kelas di perguruan tinggi dapat lebih banyak dibandingkan dengan jumlah siswa pada sebuah kelas di jenjang pendidikan primer dan sekunder. Di perguruan tinggi, model kelas dengan jumlah mahasiswa yang lebih banyak dari biasanya disebut sebagai kelas besar. Pembelajaran dengan model kelas besar seringkali ditemui pada mata kuliah umum.

 

Pembelajaran pada model kelas besar dapat menjadi tantangan ketika pengajar ingin mengimplementasikan Differentiated Instruction di dalam kelas. Jumlah mahasiswa dalam satu kelas, dapat mempengaruhi tingkat kemudahan pengajar dalam mengimplementasikan Differentiated Instruction. Pada tahun 2017, Turner, Solis, dan Kincade melakukan penelitian mengenai penerapan Differentiated Instruction pada kelas besar di perguruan tinggi. Definisi kelas besar yang digunakan pada penelitian tersebut adalah kelas yang terdiri dari 50 sampai dengan 500 mahasiswa (Christopher, dalam 2017, Turner, Solis, & Kincade, 2017). Responden penelitian tersebut merupakan sejumlah pengajar yang mengajar pada kelas besar di perguruan tinggi.

 

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa mayoritas pengajar di perguruan tinggi merasa kesulitan untuk mengimplementasikan Differentiated Instruction pada pembelajaran di kelas besar. Menurut responden, pembelajaran dengan model Differentiated Instruction lebih cocok untuk diimplementasikan di kelas kecil. Dalam hal ini, sebagian besar partisipan masih menggunakan model pembelajaran yang dinamakan direct whole class instruction. Model pembelajaran tersebut berbeda dengan model pembelajaran Differentiated Instruction yang menekankan pada pemberian instruksi berdasarkan karakteristik siswa secara individual. Pada model pembelajaran direct whole class instruction, seluruh siswa di kelas akan mendapatkan instruksi yang sama. Hal ini dilakukan karena penyesuaian instruksi secara individual merupakan sebuah tantangan bagi pengajar yang mengajar di kelas besar. Dalam hal ini, implementasi model pembelajaran direct whole class instruction dilakukan agar proses pembelajaran berlangsung secara lebih efisien.

 

  1. Terbatasnya waktu komunikasi antara pengajar dan mahasiswa

Selain perbedaan lingkungan pembelajaran berdasarkan jumlah siswa, perbedaan lainnya yang menjadi tantangan untuk mengimplementasikan Differentiated Instruction pada kelas di perguruan tinggi adalah waktu komunikasi antara pengajar dan mahasiswa yang terbatas (Turner, Solis, & Kincade, 2017). Pengajar pada pendidikan primer dan sekunder memiliki waktu yang lebih banyak untuk berkomunikasi dengan siswa jika dibandingkan dengan pengajar di perguruan tinggi. Pada pendidikan di perguruan tinggi, biasanya satu topik materi hanya dibawakan di satu pertemuan. Hal ini menjadi tantangan bagi pengajar di perguruan tinggi untuk melakukan pembahasan ulang mengenai topik yang sudah dipelajari, terutama ketika mahasiswa masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

 

  1. Adanya tantangan bagi pengajar untuk memenuhi peran yang berbeda-beda

Beberapa pengajar di perguruan tinggi memiliki aktivitas lain selain mengajar. Selain menjadi pengajar, beberapa dari mereka juga merupakan peneliti atau praktisi. Hal tersebut dapat menjadi sebuah tantangan bagi pengajar karena implementasi model pembelajaran Differentiated Instruction memerlukan membutuhkan banyak waktu, usaha, dan dedikasi dari pihak pengajar (Satangelo & Tomlinson, 2009). Hal tersebut disebabkan karena penerapan Differentiated Instruction pada proses pembelajaran di kelas membutuhkan waktu persiapan yang lebih banyak dan pelaksanaan yang lebih intens jika dibandingkan dengan model pembelajaran biasa. Dalam hal ini, seorang pengajar yang memiliki peran lain selain sebagai pengajar harus membuat beberapa tipe asesmen pembelajaran, namun juga harus memenuhi pekerjaan atau tugas yang berkaitan dengan penelitian, praktik lapangan, dan/atau pelayanan publik.

 

  1. Adanya kesulitan dalam menjembatani teori dengan praktik dari Differentiated Instruction

Joseph (2013) mengatakan bahwa beberapa pengajar memiliki kesulitan dalam menerapkan teori Differentiated Instruction ke dalam praktik yang efektif di kelas. Selain sulit untuk dipraktikkan, beberapa pengajar juga mengatakan bahwa memahami teori Differentiated Instruction bukan merupakan hal yang mudah (Turner, Solis, & Kincade, 2017). Karena Implementasi Differentiated Instruction pada perguruan tinggi belum sebanyak implementasi Differentiated Instruction pada jenjang pendidikan primer dan sekunder, maka sangat penting bagi para pengajar untuk memahami gambaran umum dari model Differentiated Instruction milik Tomlinson (Satangelo & Tomlinson, 2009). Menurut Satangelo dan Tomlinson (2009), penggunaan Differentiated Instruction hanya akan terwujud jika pendidik memahami filosofi dan model dari Differentiated Instruction, serta mampu dalam menyesuaikan berbagai macam strategi pembelajaran di kelas.

 

 

Kesimpulan

                Berdasarkan keempat poin di atas, diketahui bahwa meskipun implementasi Differentiated Instruction di perguruan tinggi dapat berlangsung dengan efektif, namun penerapannya bukan merupakan hal yang mudah. Adanya model pembelajaran dalam kelas besar, terbatasnya waktu komunikasi antara pengajar dan mahasiswa, adanya tantangan bagi pengajar untuk memenuhi peran yang berbeda-beda, dan adanya kesulitan dalam menjembatani teori dengan praktik dari Differentiated Instruction merupakan tantangan-tantangan yang seringkali muncul dalam implementasi Differentiated Instruction di perguruan tinggi. Menurut Turner, Solis, dan Kincade (2017), untuk mengatasi hal tersebut, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan dukungan dan pelatihan mengenai Differentiated Instruction kepada pengajar. Pemahaman yang baik akan model pembelajaran Differentiated Instruction dapat membantu aktivitas pembelajaran dan pencapaian hasil belajar mahasiswa yang lebih baik. Selain itu, pengajar juga perlu untuk memiliki pengetahuan mengenai beragam strategi atau instruksi pembelajaran, serta pemahaman bahwa tidak setiap bagian dari unit pengajaran perlu dibedakan (Logan, 2011).

 

 

Referensi:

Darra, M., & Kanellopoulou, E. (2019). The Implementation of the differentiated instruction in higher education: A research basis. International Journal of Education, 11(3), 151-172. doi: https://doi.org/10.5296/ije.v11i3.15307

 

Joseph, S. (2013). Differentiating instruction: Experiences of pre-service and in-service trained teachers. Carribean Curriculum, 20, 31-51. doi: https://doi.org/10.1007/s11165-009-9120-6.

 

Logan, B. (2011). Examining differentiated instruction: Teachers respond. Principal Leadership, 5(7), 28-33. https://eric.ed.gov/?id=EJ1068803.

 

Satangelo, T., & Tomlinson, C. A. (2009). The application of differentiated instruction in postsecondary environments: Benefits, challenges, and future directions. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education, 20(3), 307-323. https://www.isetl.org/ijtlhe/pdf/IJTLHE366.pdf.

 

Turner, W. D., Solis, O. J., & Kincade, D. H. (2017). Differentiating instruction for large classes in higher education. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education, 29(3), 490-500. https://www.isetl.org/ijtlhe/pdf/IJTLHE2735.pdf.

 

 

Ditulis oleh:

Yasmin Nadia – Mahasiswa Psikologi Universitas Bina Nusantara.

 

 

Yasmin Nadia