JENIS TEACHING STRATEGY DALAM KELAS DAN MANFAATNYA

Dalam pembelajaran ada pula yang dinamakan teaching strategy sebagai salah satu bentuk teknik yang digunakan pengajar untuk proses pembelajaran siswanya, pengajar memilih sendiri strategi apa yang akan pengajar gunakan sesuai dengan topik yang dipelajari, tingkat keahlian siswa, dan tahap pembelajaran siswa (Anilkumar, n.d.). Terdapat lima jenis dari teaching strategy dalam pembelajaran menurut guideline yang ditulis oleh De Groot , yaitu:

  1. Instructional Forms, metode ini berfokus pada pengajar, biasanya hal yang menjadi fokus utama adalah konten apa yang akan diberikan kepada siswa, mengoptimalkan penyampaian presentasi, memberikan pengetahuan dasar dan menyusun informasi sehingga mampu disampaikan kepada siswa dengan baik. Dalam instructional form terdapat banyak metode, sebagai berikut:

a. Frontal Teaching, biasanya dilakukan dalam kelas perkuliahan, pelajaran, atau pembelajaran di mana pengajar akan memberikan informasi secara verbal kepada siswanya, lalu siswa umumnya akan mencatat apa yang pengajar jelasnya. Pembelajaran secara frontal diberikan melalui potongan pendek dan variasi dengan metode pekerjaan lainnya dengan cara memberikan teori dan demonstrasi yang praktis. Namun dalam pembelajaran secara frontal terdapat kekurangan dan kelebihannya, Kelebihannya adalah (1) Cepat untuk memberikan materi yang baru (2) Kontrol pembelajaran ada pada pengajar (3) Bisa memfasilitasi pembelajaran di kelas dengan skala besar, dan (4) Cocok untuk siswa yang punya kemampuan pembelajaran secara audio atau suara. Lalu ada juga kekurangan pada pembelajaran secara frontal, yaitu (1) siswa akan cenderung pasif (2) hanya melakukan komunikasi satu arah (3) Membutuhkan waktu untuk siswa terlibat dengan materi pembelajaran secara signitifan (4) Pengajar harus mampu menyampaikan materi dengan baik dan memiliki kemampuan berbicara, dan (5) menghambat kreatifitas guru (Havlíček & Petriláková, 2014)

b. Storytelling, metode mendongeng merupakan bagian dari pembelajaran secara frontal dengan menyajikan pembelajaran melalui puisi, mendengarkan lagu atau menceritakan suatu kisah. Biasanya pengajar akan memilih sendiri cerita, puisi, dan lagu yang akan dibawakan dalam pembelajaran, perlu diperhatikan untuk menyesuaikan sesuai dengan minat siswa. Sebelum bercerita pengajar diminta untuk menjelaskan tujuan, masalah, dan pertanyaan yang diperlukan. Cara penyampaian kisah juga harus dikemas secara menarik dan bahasa yang baik, biasanya setelah melakukan cerita, mendengarkan puisi dan lagu siswa akan diminta merenungkan makna dibalik hal yang disampaikan lalu dilanjutkan dengan diskusi.

Terdapat kelebihan dan kekurangan pembelajaran melalui metode mendongeng, kelebihannya adalah, (1) Menyatukan banyak elemen seperti gesture, lagu, dan tarian, (2) Karaktek dalam cerita akan memberi kenikmatan,(3) Memperluas pengetahuan siswa tentang suatu budaya dan aktifitas, dan (4) Mendukung hubungan yang baik antara siswa dan pengajar. Adapun kelemahan yang harus diperhatikan dalam pembelajaran dengan cara mendongeng, yaitu (1) Pengajar harus memiliki skill dongeng yang baik, (2) Metode ini cenderung pasif untuk siswa karena hanya bisa mendengarkan informasi yang dijelaskan saja tanpa melakukan analisa lebih jauh, dan (3) Mengurangi aktifitas praktikum pada siswa, karena fokus mendengarkan.

c. Demonstration, Fokus kepada perilaku yang bisa diamati, biasanya pengajar akan memberikan petunjuk berdasarkan situasi tertentu, alat tertentu, percobaan yang berlaku, sementara siswa akan mengikuti apa yang diarahkan pengajar, pada pengajaran secara demonstrasi dibutuhkan stuktur, perintah, dan logika yang jelas. Menjelaskan secara singkat langkah yang harus dilakukan sehingga siswa tetap fokus memperhatikan, lalu pada akhir demonstrasi bisa merangkum seluurh materi yang dijelaskan. Ada kemungkinan siswa akan menyajukan pertanyaan sehingga sebaiknya diulang dari awal secara singkat.

Kelebihan dari metode demontrasi adalah, (1) Memberikan informasi secara langsung, (2) Memberikan motivasi pada siswa untuk mampu mengulang pembelajaran secara praktek, (3) Jenis demontrasi akan menarik bagi siswa, dan (4) kegiatan bervariasi biasanya berbentuk simulasi. Namun kelemahan dari pembelajaran demonstrasi adalah, (1) Biaya yang digunakan lumayan besar, (2) Pemahaman murid berbeda-beda sehingga harus terus didampingin, dan (3) Hasil signifikan akan bisa dilihat pada akhir namun untuk proses kurang bisa dievaluasi.

d. Film , metode pengajaran dengan film merupakan cara baru bagi pembelajaran, film yang disediakan bisa film dokumenter, informatif, atau film yang membuat siswa berdiskusi dengan alur dan plot ceritanya. Memberikan film kepada siswa akan mendukung siswa untuk menemukan pelajaran baru, memberikan siswa informasi baru dengan cara yang berbeda. Pengajar sebaiknya menganalisis terlebih dahulu film apa yang akan ditayangkan, setelah menonton film siswa diberikan pertanyaan umum dan diberikan tugas bisa melalui permainan peran, desain poster, rangkuman menarik, dan lainnya yang berkaitan dengan film.

Kelebihan dari pembelajaran melalui film ini (1) akan sangat menarik bagi siswa, (2) bisa dilihat dengan kelas sekala besar, dan (3) menstimulasi indera siswa, namun (1) film membutuhkan banyak waktu untuk dipelajari dan ditonton.

2. Interaction Forms, seperti arti dari interaksi dimana format pembelajaran berbentuk interaksi dengan berbicara satu sama lain antara siswa ke siswa atau siswa ke guru, dimana dalam interaksi itu akan terjadi berbagi pengalaman, informasi, dan pertanyaan. Bentuk interaksi terbagi menjadi 4, yaitu :

a. Discussion, salah satu bentuk komunikasi yang berhubungan dengan pikiran dan fakta bertujuan, fokus diskusi adalah menyelesaikan masalah dan mencari solusi sehingga mendorong siswa untuk berpikir bersama dengan tujuan mendapatkan informasi, ide, dan opini. Dalam diskusi pengajar bisa memulai dengan memberikan subjek tertentu yang dekat dengan keseharian siswa sehingga siswa dengan mudah merasa dekat dengan topik, pengajar memberikan waktu untuk memberikan jawaban dan kesimpulan untuk merangkum semua topik, sebaiknya semua siswa diminta untuk berbicara. Pembelajaran dengan diskusi ini akan membangun dialog, tim yang baik, dan pemecahan masalah, siswa juga akan diminta untuk memilah, mengadaptasi opini dan kesan dari teman sekelasnya untuk pemecahan suatu masalah, namun diskusi memerlukan kondisi kelas yang kondusif.

b. Brainstorming, metode tim untuk menghasilkan ide untuk memecahkan suatu masalah dengan mendefinisikan masalah tersebut dengan jelas, siswa dan timnya bebas untuk bereksplorasi dengan opininya sehingga akan memberikan ide yang menarik hubungan untuk memecahkan masalah dan menemukan solusi yang terbaik (Ex Design Bootcamps, n.d.). Dalam proses pembelajaran melalui brainstorm pengajar akan memberikan aturan dan masalah khusus yang dekat dengan siswanya, lalu siswa diminta untuk mengusulkan ide ide sehingga menghasilkan pengajuan tentang solusi. Pada brainstorm bisa dievaluasi dengan mengajukan pertanyaan sehingga pengajar bisa melihat siswa yang terlibat langsung pada sesi brainstorm. Brainstorm cara untuk pengajar fokus pada kesetaraan siswanya dan meningkatkan motivasi siswa berpikir kritis, namun brainstorm dikenal dengan metode yang tidak mudah, sama seperti diskusi yang membutuhkan kondisi kelas yang kondusif, dan bagi beberapa siswa untuk berpikir kreatif tidaklah mudah.

c. Survey, bentuk pertanyaan yang akan diberikan kepada siswa dengan subjek yang sudah ditentukan, pengajaran melalui survey akan menghasilkan jawaban yang beragam dan nantinya hasil dari survey tersebut akan disimpulkan berdasarkan data. Survey memiliki dua tipe, pertama adalah untuk mendapatkan kemampuan dasar siswa, cara berpikir, dan kesulitan apa yang dirasakan, lalu yang Kedua pengajar mampu menganalisis, menjelaskan, dan berdiskusi mengenai hasil survey yang sudah selesai agar siswa tau apa kebutuhan surveynya. Survey dapat memotivasi murid untuk beranalisa dan akan menghasilkan pembelajaran yang baik karena siswa diajak untuk berpikir secara fakta, namun survey memiliki permintaan tinggi untuk memberikan survey yang layak.

d. Educational Learning Dialogue, seperti kata kuncinya yaitu dialog, pada pembelajaran ini terjadi pembicaraan yang dipimpin oleh petinggi dalam institusi untuk memberikan wawasan kepada siswa, biasanya pembelajaran akan dimulai dengan mengenalkan subjek melalui pertanyaan yang sudah dipilih lalu siswa akan menjawab pertanyaan dan dibalas dengan siswa lainnya, ditutup dengan kesimpulan yang diinginkan. Metode ini akan memotivasi siswa untuk meningkatkan kekreatifitasannya dan mempunyai hasil belajar yang baik secara berpikir daripada menghafal saja, namun waktu persiapannya cukup tinggi dengan tuntutan pertanyaan yangmengharuskan akurat dan umpan balik yang tepat, biasanya untuk pengetahuan yang sudah terampil bukan untuk pengetahuan dasar.

3. Assignment Forms, seperti yang kita tau tugas adalah pekerjaan yang diberikan kepada siswa, biasanya dilakukan individu maupun kelompok dengan berbagai macam hasil dari tugas tersebut, berikut merupakan penugasan dalam pembelajaran:

a. Homework, biasanya akrab kita sebut pekerjaan rumah, pekerjaan rumah (PR) dilakukan diluar pembelajaran untuk mempersiapkan latihan, disiplin, mandiri, dan mengulang kembali pembelajaran agar sekolah dan rumah terasa dekat. Kelebihan dari pekerjaan rumah ini untuk melatih siswa mandiri dan meningkatkan kemampuannya dipembelajaran secara individu, namun ketika berhubungan dengan pekerjaan rumah akan membuat siswa belajar lebih banyak diluar pembelajaran sekolah.

b. Collage, pola pembelajaran ini siswa akan mengumpulkan gambar, tulisan, atau hal yang secara visual akan menyampaikan sebuah pesan dengan objek yang berupa symbol, pesan, cerita, atau tokoh. Pengajar harus memberikan informasi secara rinci tugas apa, mengapa, dan bagaimana nantinya dan diperlukan sosok yang kreatif dalam pembuatan kolase, pembuatan kolase akan terkesan sulit karena untuk proses evaluasi tidak akan mudah dan hasil belajar belum tentu optimal, namun pembelajaran dengan kolase merupakan pembelajaran yang menyenangkan yang akan memberikan visual yang akan merepresentasikan ide siswa secara kreatif.

c. Literature Study, dalam pembelajaran ini pengajar akan meminta siswa untuk menganalisa teks yang pengajar berikan, lalu pengajar akan memberikan pertanyaan dan tugas. Pengajar akan memberikan tugas yang sudah disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa, dengan harapan akan menjelaskan kemauan siswa dan melatih siswa untuk menulis tentang analisa mereka sendiri, banyak yang akan didiskusikan secara kelompok. Studi literatur akan meningkatkan kemampuan siswa dalam analisa dan mengelompokkan informasi namun tidak semua mampu menyesuaiakn isi teks sesuai dengan minat mereka karena perhatian masih bersifat selektif.

d. Mind Map, pembuatan ini merupakan salah satu pembelajaran yang kreatif untuk menjelaskan materi dan pembuatan catatan, dalam peta berpikir akan dijelaskan tentang pemaparan pemikiran siswa, informasi yang ada, cara berpikir, dan ide ide sesuai dengan pemetaan pikiran siswa, biasanya dikemas dengan banyak warna dan informasi yang padat dan jelas, namun tidak semua siswa memiliki kemampuan untuk membuat peta pikiran yang baik apalagi bagi siswa yang kurang dalam kemampuan linguistik, namun mind map membantu siswa untuk menghafal lebih cepat dan ringkasan yang beragam

4.Collaboration Forms, pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang membuat siswa bukan hanya belajar dengan pengajar, namun belajar dengan siswa lainnya dengan tujuan yang jelas dan berkolaborasi dengan semua kemampuan siswa dari macam-macam latar belakang siswa tersebut, kolaborasi terbagi menjadi dua, yaitu:

a. Group Work, pekerjaan kelompok sering terjadi di institusi pendidikan tujuannya untuk memecahkan masalah dan melatih kemampuan bersosialisasi siswa, adapun yang melatih fisik dan memberikan siswa peran untuk saling bertanggung jawab, dalam eksekusinya pengajar akan membagi jumlah siswa lalu diberikan topik, dalam tugasnya siswa akan membagi tugasnya dan menjelaskan tugas apa saja yang mereka pegang, sehingga siswa akan saling melengkapi tugas mereka masing-masing, tugas pengajar hanya sebatas mengawasi proses dan hasilnya. Kerja kelompok merupakan cara belajar untuk bekerja dengan siswa lainnya, belajar bertanggung jawab, mengembangkan potensi siswa dalam berpikir kritis dan menerapkan diferensiasi pada siswa, namun sulit untuk mengevaluasi individu karena penilaian akan cenderung berdasarkan kelompok.

b. Project Work, berbeda dengan kerja kelompok, grup projek berfokus pada subjek tertentu biasanya untuk melatih kreativitas dan kemandirian, pengajar akan mulai untuk menjelaskan tentang apa saja masalah yang digunakan, lalu siswa akan membagi tugas serta mengerjakan projek yang sudah diberikan, lalu terakhir akan diberikan evaluasi, keuntungan kerja projek juga mampu meningkatkan kemandirian dan semangat dalam berkelompok, siswa juga mampu saling menghormati antar teman satu projeknya, namun grup projek kurang dapat dikendalikan dan sulit untuk mengevaluasi pekerjaan perorang.

5. Game Forms, pembelajaran melalui permainan cenderung seru dan memberikan warna pada siswanya apalagi berfokus pada pengalaman, permainan juga akan memberikan edukasi kepada siswa dalam kehidupan sehari-hari, permainan dalam pembelajaran terbagi menjadi lima, yaitu:

a. Role Play, pada pembelajaran permainan peran, siswa akan diberikan peran masing-masing dalam situasi tertentu, siswa akan belajar eksplorasi dan memahami jenis peran yang diperankan oleh temannya, siswa akan diminta untuk merasakan apa peran yang telah diberikan untuk didiskusikan setelah perannya selesai, permainan peran ini mampu membantu siswa untuk memahami bagaimana kehidupan nyata kedepannya, serta mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana manusia kedepannya akan hidup di dalam kehidupan sosial, namun persiapan untuk permainan peran memerlukan banyak waktu dan lingkungan kelas harus kondusif.

b. Bingo, permainan ini tidak asing lagi pengajar akan mengarahkan siswa untuk memilih kotak yang akan ditandai X, siapa yang menandai semua nomor akan menjadi pemenangnya, permainan bingo ini berisi tugas yang akan mendorong siswa untuk menuliskan kata-kata sebanyak mungkin, huruf, alphabet, dan menjelaskan kata per kata, permainan bingo ini sangatlah interaktif siswa bisa belajar dengan cara lain dan lebih menarik, walaupun permainan ini sulit di control dan di evaluasi.

c. Pantomime, pemainan ini merupakan permainan yang berdasarkan pada gerakan tanpa kata, siswa akan diminta berekspesi melalui badannya untuk menyampaikan pesan tertentu, pengajar akan memberikan tugas kepada siswa bahwa sesuatu perlu didefinisikan dan diperhatikan dengan khusus, pengajar akan meminta siswa untuk membagi peran dan mempraktikan beberapa gerakan, pada akhirnya siswa akan berdiskusi mengenai gerakan tersebut dan memberikan penilaian, pantomim akan mengajarkan siswa untuk bergerak dengan jelas melalui tubuhnya dan siswa diajarkan untuk mengekspresikan dirinya sendiri yang akan berpengaruh positif pada konsentrasi dan kreativitas siswa, walaupun tidak semua siswa punya kontrol tubuh dan keberanian untuk mengekspresikan dirinya.

d. Guessing Games, pada permainan ini siswa akan duduk berlingkar dan mengambil kartu lalu membacanya, siswa akan diminta bercerita tentang apa yang ada dipikirannya tentang apa yang dia baca, lalu siswa lain bisa menanggapi, siklusnya akan berputar seperti itu, pengajar mempersiapkan pertanyaan yang sering terjadi dikehidupan sehari-hari siswanya, permainan ini memang membutuhkan situasi kelas yang nyaman, namun permainan ini mampu melatih siswa untuk berpikir kritis dan mampu menyampaikan opininya.

Banyak sekali strategi pembelajaran yang bisa diterapkan pelajar untuk pembelajaranya, sehingga pada prosesnya akan terasa menyenangkan dan siswa dapat mencoba dan merasakan hal-hal baru bukan hanya memberikan materi untuk siswa paham, namun memberikan pengalaman dan kesenangan dalam pembelajaran.

 

 

 

 

References

Anilkumar, A. (n.d.). The Most Effective Teaching Strategies To Use In Your School: Evidence Based And Proven To Work. Retrieved from Third Space Learning: https://thirdspacelearning.com/blog/teaching-strategies/

Ex Design Bootcamps. (n.d.). Brainstorming. Retrieved from interaction-design.org: https://www.interaction-design.org/literature/topics/brainstorming

Groot, M. D., Rombot, O., Delanghe, J., & Suprayogi, M. N. (n.d.). Pedoman Untuk Penerapan Diferensiasi Di Kelas. Ghent University.

Havlíček, Z., & Petriláková, D. (2014). ONLINE RESOURCES AND DEVELOPING LEARNER’S AUTONOMy. Training Legal Languages For Effective Functioning of Judical Cooperation In EU.

 

 

Putri Nadia Amini