Pengaturan Lingkungan Belajar pada Penerapan Differentiated Instruction (DI)

Artikel ini ditulis oleh Felycia Renika Noriana – 2201733553

Lingkungan belajar merupakan salah satu hal yang penting untuk diperhatikan berkaitan dengan keberlangsungan suatu proses pembelajaran dalam kelas. Berkaitan dengan hal ini, apa yang dimaksud dengan lingkungan belajar adalah suatu kondisi, pengaruh, serta rangsangan yang berasal dari luar, yang memberi pengaruh pada siswa, dimana hal-hal tersebut juga meliputi beberapa hal seperti pengaruh fisik, sosial dan intelektual (Bloom dalam Harjali, 2016). Dalam hal ini, suatu pengelolaan lingkungan belajar atau pengelolaan kelas yang dilakukan melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengaktualisasian, serta pengawasan, yang juga dapat memberikan pengaruh pada keberlangsungan proses pembelajaran sehingga dapat berjalan dengan sistematis, efektif dan efisien (Zaturrahmi, 2019). Karena hal itulah, suatu pengelolaan lingkungan belajar yang baik diperlukan untuk dapat dilakukan untuk menciptakan suatu proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Begitu pula dalam implementasi Differentiated Instruction (DI) pada proses pembelajaran di kelas, seorang pengajar juga dapat melalukan melakukan proses diferensiasi melalui modifikasi lingkungan belajar sebagai salah satu aspek dari pembelajaran (Iskandar, 2016). Hal ini dapat dilakukan agar suatu proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan dapat mewujudkan tujuan dari proses pembelajaran tersebut. Selaras dengan yang dijelaskan oleh Tomlinson dalam Avci et al. (2007) yang menjelaskan bahwa dalam Lingkungan kelas pada proses pembelajaran yang menerapkan diferensiasi memungkinkan pengajar untuk dapat menegaskan inti dari suatu pembelajaran, menerima perbedaan pada setiap siswa yang memungkinkan para siswa berperilaku sebagaimana diri mereka masing-masing, serta memungkinkan pengajar untuk dapat melakukan diferensiasi pada lingkungan belajar. Dalam hal ini, lingkungan belajar pada proses pembelajaran juga dapat berpengaruh pada siswa. Hal ini selaras dengan Matsumura et al. dalam Evans et al. (2009) yang menjelaskan terkait terkonfirmasinya bahwa lingkungan kelas yang berbeda memberi dampak pada kelompok siswa yang identik.

Pada proses implementasi dari Differentiated Instruction (DI) dalam proses pembelajaran, seorang pengajar dapat melakukan diferensiasi dengan melakukan modifikasi kurikulum pada tiga aspek yaitu aspek konten, proses, dan produk (Andini, 2016). Dalam hal ini, yang dimaksud sebagai Differentiated Instruction (DI) adalah suatu metode atau cara dalam menyesuaikan pemberian instruksi kepada siswa dalam pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap siswa dengan tujuan agar dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing dari mereka pada area tertentu (Tomlinson dalam Butler dan Lowe, 2008). Dimana perbedaan yang dimiliki masing-masing siswa tersebut berkaitan dengan kebutuhan mereka pada tingkat kesiapan, minat, dan learning profile (Tomlinson dalam Subban, 2006). Oleh karena itu dapat diketahui bahwa pengelolaan lingkungan belajar dalam proses diferensiasi pada suatu proses pembelajaran dapat dilakukan pada aspek konten, proses, dan produk. Dimana diferensiasi lingkungan belajar tersebut dapat dilakukan berdasarkan pada kebutuhan individual setiap siswa berkaitan dengan tingkat kesiapan, minat, dan profil belajar yang dimiliki oleh masing-masing dari mereka.


Differensiasi pada lingkungan belajar dapat dilakukan pada beberapa aspek, dimana dua aspek diantaranya adalah aspek perasaan (affect) atau yang juga merupakan iklim ruang kelas (classroom climate), serta aspek lingkungan belajar dalam kelas (physical learning environment) (Sondergeld dan Schultz dalam Thiessen, 2012).

Penerapan Differentiated-Instruction (DI): Iklim ruang kelas (Classroom Climate)

Iklim ruang kelas (classroom climate) pada proses pembelajaran memberikan pengaruh yang bersifat implisit terhadap para siswa Evans et al. (2009). Selain itu, iklim ruang kelas juga berkaitan dengan kelas yang dijadikan sebagai tempat yang menyambut, menerima, mengikutsertakan, menghargai setiap siswa pada proses pembelajaran (Thiessen, 2012). Iklim ruang kelas sebagai aspek perasaan (affect) dalam differensiasi lingkungan belajar juga berkaitan dengan bagaimana terhubungnya pikiran dan perasaan siswa pada kelas dalam proses pembelajaran, Karena itulah, bagaimana pengajar dapat mengenali kebutuhan kelas akan perubahan dapat menjadi hal yang menentukan bagaimana proses diferensiasi pada aspek perasaan atau iklim ruang kelas tersebut akan berlangsung (Thiessen, 2012).

Selain itu, iklim ruang kelas juga memberi pengaruh dalam proses pembelajaran, dimana Evans et al. (2019) menjelaskan bahwa iklim ruang kelas pada proses pembelajaran biasanya akan memberi efek yang lebih kuat berkaitan dengan pengukuran sikap dibandingkan efek yang berkaitan dengan perilaku atau pencapaian tertentu dalam proses pembelajaran. Terkait hal tersebut, iklim ruang kelas juga memiliki kemungkinan dalam memberikan pengaruh pada meningkatnya kualitas hidup (quality of life) dari pengajar dan siswa (Evans et al., 2019).

Penerapan Differentiated-Instruction (DI): Lingkungan Fisik dari Pembelajaran (Physical Learning Environment)

Lingkungan fisik dari pembelajaran (physical learning environment) sebagai aspek dari proses diferensiasi berkaitan dengan suasana dan fungsi dari ruang kelas dan memberi pengaruh pada keberhasilan pembelajaran yang berlangsung (Thiessen, 2012). Sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran, lingkungan fisik (physical environment) dari ruang kelas memiliki sejumlah fungsi penting seperti dalam memberikan rasa aman, sebagai tempat bernaung, memfasilitasi berlangsungnya kontak sosial (Şahin et al., 2011). Selain itu, pada penelitian oleh Hill dan Epps (2010) mengenai dampak dari lingkungan fisik (physical environment) kelas terhadap kepuasan dan evaluasi pengajaran siswa pada lingkungan universitas, menunjukkan hasil yang mengindikasikan bahwa siswa merasakan adanya perbedaan persepsi pada instructor organization, tingkat kesenangan akan kelas, tingkat pembelajaran, dan tingkat kepuasaan yang mereka rasakan akibat adanya perbedaan fasilitas ataupun perbedaan pada karakteristik fisik ruang kelas seperti pengaturan tempat duduk, pencahayaan, jarak antar meja, dan tingkat kebisingan.

Berdasarkan Thiessen (2012), setiap siswa memberi reaksi yang berbeda-beda pada beberapa elemen dari stimuli lingkungan (environmental stimuli) pada lingkungan fisik dari pembelajaran (physical learning environment), dimana beberapa elemen dari stimuli lingkungan tersebut adalah seperti:

  • Suara (Sound)

Berdasarkan Thiessen (2012), untuk dapat belajar atau melakukan pekerjaan secara efektif pada proses pembelajaran, setiap siswa akan memberikan reaksi yang berbeda-beda terhadap suara. Berkaitan dengan hal ini, dalam melakukan diferensiasi seorang pengajar dapat menyesuaikan penyusunan variasi lingkungan belajar pada aspek lingkungan fisik dari pembelajaran (Physical Learning Environment) dengan reaksi yang diberikan oleh siswa terhadap suara tersebut. Dimana beberapa contoh reaksi yang dapat diberikan oleh siswa terhadap suara adalah seperti: tidak terganggu karena dapat dengan mudah mengabaikan suara tersebut, membutuhkan suara untuk dapat menghindari distraksi lainnya, membutuhkan suasana hening tanpa suara sama sekali, dan membutuhkan jenis suara tertentu (Thiessen, 2012).

  • Pencahayaan (Light)

Untuk dapat berfungsi dengan baik dalam proses pembelajaran, para siswa juga dapat dipengaruhi oleh tingkat pencahayaan (light), dimana terdapat siswa yang tidak dapat mentolerir pencahayaan yang terlalu terang dan juga terdapat siswa yang membutuhkan pencahayaan yang terang (Thiessen, 2012). Maka proses diferensiasi melalui penyusunan variasi lingkungan belajar pada aspek lingkungan fisik dari pembelajaran (Physical Learning Environment) juga dapat dilakukan berdasarkan pada perbedaan reaksi yang diberikan setiap siswa terhadap tingkat pencahayaan (lighting) tersebut.

  • Temperatur

Temperatur ruangan dimana pembelajaran dilaksanakan dapat berpengaruh pada bagaimana siswa dapat berkonsentrasi dan bagaimana kenyamanan baik secara fisik maupun secara emosional yang mereka  rasakan selama pembelajaran berlangsung (Thiessen, 2012). Karena itu, pengajar juga dapat melakukan diferensiasi lingkungan belajar pada aspek lingkungan fisik dari pembelajaran (physical learning environment) yang berdasarkan pada bagaimana siswa memberi reaksi pada strimuli temperatur.

  • Desain

Setiap siswa memliki preferensinya masing-masing terkait dengan ruang belajar (workspace) yang dapat berpengaruh pada motivasi dan kreativitas mereka pada proses pembelajaran, dimana terdapat siswa yang lebih memilih ruang belajar dengan setting formal namun juga terdapat siswa yang lebih memilih ruang belajar dengan setting santai atau nyaman (Thiessen, 2012). Terkait hal ini, pengajar juga dapat melakukan diferensiasi lingkungan belajar berdasarkan perbedaan preferensi setiap siswa terkait desain ruang belajar mereka.

 

REFERENSI

Andini, D. W. (2016). “Differentiated Instruction”: Solusi Pembelajaran dalam Keberagaman Siswa di Kelas Inklusif. Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, 2(3), 340–349. Retrieved September 7, 2021, from https://media.neliti.com/media/publications/259034-differentiated-instruction-solusi-pembel-7b868815.pdf

Avcı, S., Yüksel, A., Soyer, M., & Balıkçıoğlu, S. (2009). The Cognitive and Affective Changes Caused by the Differentiated Classroom Environment Designed for the Subject of Poetry. Educational Sciences: Theory & Practice, 9(3), 1069–1084. Retrieved September 16, 2021, from https://eric.ed.gov/?id=EJ858920

Butler, M., & Lowe, K. V. (2010). Using Differentiated Instruction in Teacher Education. Journal for Mathematics Teaching and Learning.  Retrieved September 7, 2021, from http://www.cimt.org.uk/journal/butler.pdf

Evans, I. M., Harvey, S. T., Buckley, L., & Yan, E. (n.d.). Differentiating classroom climate concepts: Academic, management, and emotional environments. Kotuitui: The New Zealand Journal of Social Science, 4, 131–146. http://dx.doi.org/10.1080/1177083X.2009.9522449

Harjali. (2016). Strategi Guru dalam Membangun Lingkungan Belajar yang Kondusif: Studi Fenomenologi pada Kelas-kelas Sekolah Menengah Pertama di Ponorogo. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 23(1), 10–19. Retrieved September 16, 2021, from http://journal.um.ac.id/index.php/pendidikan-dan-pembelajaran/article/view/10147/4835

Hill, M. C., & Epps, K. K. (2010). The Impact of Physical Classroom Environment on Student Satisfaction and Student Evaluation of Teaching in the University Environment. Academy of Educational Leadership Journal, 14(4), 65–79. Retrieved September 16, 2021, from https://core.ac.uk/download/pdf/231827461.pdf

Iskandar, R. S. F. (2016). Penerapan Pendekatan Differentiated Instruction Untuk Mengembangkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Mahasiswa. AlphaMath: Journal of Mathematics Education, 2(2), 47–53. Retrieved September 17, 2021, from http://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/alphamath/article/view/1231

Şahin, İ.T., Tantekin-Erden, F., & Akar, H. (2011). The Influence of the Physical Environment on Early Childhood Education Classroom Management. Egitim ArastirmalariEurasian Journal of Educational Research (EJER), 44, 185–202. Retrieved September 17, 2021, from https://www.researchgate.net/publication/262004897_The_Influence_of_the_Physical_Environment_on_Early_Childhood_Education_Classroom_Management

Subban, P. (2006). Differentiated instruction: A research basis. International Education Journal7(7), 935–947. Retrieved September 7, 2021 from https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ854351.pdf.

Thiessen , A. (2012). Differentiated Physical Learning Environment (thesis). Retrieved September 16, 2021, from https://digitalcollections.dordt.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1021&context=med_theses

Zaturrahmi. (2019). Lingkungan Belajar Sebagai Pengelolaan Kelas: Sebuah Kajian Literatur. E-Tech, 7(5). 1–7. https://doi.org/10.24036/et.v7i2.107071

 

 

Felycia Renika Noriana