Applying Differentiated Instruction: Inclusive Education (Diambil dari Teaching English to a Student with Autism Spectrum Disorder in Regular Classroom in Indonesia)

Artikel ini ditulis oleh Riqa Alvarsa Gandasoebrata – 2201773525

 

Inclusive Classroom

Bu Minda merupakan seorang pengajar pada salah satu sekolah inklusi di daerah Bali, Indonesia. Sekolah inklusif atau inclusive education sendiri didasari oleh kata inklusi. Menurut Salend (2011) Inklusi memiliki artian sebuah filosofi yang menyatukan siswa, keluarga, pendidik, dan anggota masyarakat untuk bersama-sama membangun sekolah yang didasari oleh acceptance, belonging, dan community. Sekolah inklusi menyambut dan menerima semua pelajar dengan mendidik mereka secara bersamaan di ruang kelas umum berkualitas tinggi dan sesuai usia di lingkungan mereka (Hornby, 2014). Pada kasus ini, sekolah ini menerima anak-anak dengan disabilitas yang berbeda-beda termasuk salah satunya siswa dengan Autistic Spectrum Disorder. Dalam menghadapi anak-anak dengan disabilitas dan berkebutuhan khusus, sekolah dapat melakukan beberapa strategi yang dapat mempermudah berjalannya proses pembelajaran, salah satunya dengan menggunakan differentiated instruction. Karena sekolah ini merupakan sekolah bilingual yang menggunakan bahasa inggris, maka pengajar juga dituntut untuk dapat mengajarkan bahasa inggris kepada siswanya termasuk siswa disabilitas dengan Autistic Spectrum Disorder tersebut.

 

Di dalam kelas tingkat 3 SD berisikan 20 orang siswa, terdapat satu siswa dengan Autistic Spectrum Disorder. Anak dengan Autistic Spectrum Disorder sendiri merupakan anak yang pada umumnya memiliki defisit terus-menerus dalam bidang komunikasi sosial dan juga interaksi sosial (American Psychiatric Association, 2013). Untuk dapat memaksimalkan pembelajaran siswa tersebut, Bu Minda menggunakan individual approach atau merancang beberapa strategi yang dibuat khusus untuk siswa tersebut agar pemahamannya terhadap bahasa inggris bisa setara dengan anak-anak lainnya yang tidak memiliki kebutuhan khusus.

Pada kasus ini, siswa dengan Autistic Spectrum Disorder tersebut berusia 10 tahun, seperti anak-anak lain pada kelasnya, ia telah mengerti vocabulary dasar bahasa Inggris yang didapatkan dari pembelajaran khusus yang dimulai dari 6 tahun.

Dalam kelas, siswa dengan Autistic Spectrum Disorder tersebut duduk di salah satu kursi yang disediakan khusus untuknya serta didampingi dengan guru pendamping yang disebut sebagai shadow teacher. Siswa tersebut ikut serta mendengarkan dan menyimak penjelasan yang diberikan guru bahasa Inggris secara menyeluruh. Jika ia terlihat bingung atau tidak mengerti, maka di situlah fungsi shadow teacher dibutuhkan. Shadow teacher menjelaskan kembali hal-hal yang tidak dimengerti oleh anak dengan menggunakan bahasa dan juga konsep tersendiri yang biasa dipakai sehari-hari dan dapat dipahami dengan mudah oleh siswa dengan Autistic Spectrum Disorder tersebut. Sama halnya di saat siswa tersebut mulai terlihat lelah dan tidak konsentrasi dengan penyampaian materi, maka shadow teacher bertugas untuk mengajak siswa tersebut keluar kelas dan memberikan beberapa variasi permainan sederhana, hal ini bisa disebut sebagai teknik pull-out.

Secara keseluruhan, anak dengan Autistic Spectrum Disorder lebih mudah menangkap pelajaran dengan menggunakan pembelajaran secara visual. Seperti yang dikemukakan oleh Hodgon (2006), terdapat dua faktor yang menyebabkan hal tersebut. Pertama karena mereka mengalami kesulitan dalam memindahkan dan membentuk atensi dalam memperhatikan suatu hal yang disebabkan oleh defisiensi cerebellar. Alasan kedua adalah siswa dengan Autistic Spectrum Disorder mengalami kesulitan dalam membedakan suara latar depan, seperti penjelasan pengajar, dengan suara latar belakang, seperti suara pintu, langkah kaki, dan suara lain dari lingkungan sekitarnya.

 

Individual Education Plan

Dalam menghadapi anak dengan Autistic Spectrum Disorder dalam sebuah kelas inklusi, maka Bu Minda mengaplikasikan differentiated instruction agar siswa tersebut dapat mengikuti kelas yang sama dengan siswa lain namun tetap dapat memahami dan mengikuti fase anak normal lainnya. Salah satu penerapan differentiated instruction yang dilakukan olehnya, adalah dengan merancang IEP atau Individual Education Plan yang dikhsusukan untuk siswa tersebut. Teknik pull-out merupakan salah satunya, dikarenakan sifat anak autis yang sulit memberikan atensi sehingga membuat mereka cepat lelah jika belajar dengan anak-anak tanpa disabilitas, maka dengan mengajak siswa tersebut keluar kelas dan memainkan permainan-permaianan sederhana tentunya dapat membantu kembali siswa tersebut untuk dapat belajar secara maksimal saat kembali lagi ke dalam kelas. Pemberian shadow teacher sebagai pendamping juga membantu siswa autis tersebut dalam memahami pelajaran yang diberikan dalam waktu yang sama seperti pemahaman anak tanpa disabilitas.

 

Seperti yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya, siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, sehubungan dengan siswa autis yang lebih nyaman dengan gaya belajar visual, maka dari aspek ini juga dilakukan penerapan differentiated instruction. Untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan Autistic Spectrum Disorder yang memiliki kebutuhan belajar visual, maka dirancanglah beberapa media yang dapat memenuhinya, antara lain:

  1. Media for Discrete Trial Training (DTT)

Media ini merupakan media utama yang dilakukan oleh Bu Minda dalam menghadapi salah satu siswanya yang memiliki Autistic Spectrum Disorder, dimana DTT dilakukan dalam beberapa siklus, yaitu: pemberian instruksi, prompting dan diakhiri dengan memberikan reward. Prompting biasanya dilakukan dengan kartu bergambar yang dapat mempermudah siswa memahami instruksi yang diberikan oleh pengajarnya, contohnya seperti jika

Bu Minda memberikan instruksi untuk membaca bagi siswa dengan Autistic Spectrum Disorder tersebut dan ia tidak merespon, maka Bu Minda akan memberikan kartu dengan gambar instruksi membaca.

2. Media for discrimination training

Teknik ini dilakukan agar siswa dengan Autistic Spectrum Disorder tersebut dapat mengidentifikasi objek termasuk mengidentifikasi warna yang berbeda, bentuk yang berbeda, tempat yang berbeda, atau bahkan orang yang berbeda. Selain agar siswa tersebut dapat membedakan suatu objek, teknik ini juga dapat membantu dalam meningkatkan motoric halus, koordinasi mata dan tangan, dan juga meningkatkan pemahaman terhadap konsep-konsep tertentu. Jika siswa dapat melakukan instruksi dengan benar, maka kegiatan dapat dilanjutkan dengan melakukan aktivitas sekaligus dengan verbalisasi.

3. Media for matching

Sama halnya seperti media for discrimination training yang telah dijelaskan di atas, teknik ini juga melatih siswa untuk dapat mengidentifikasi bentuk-bentuk yang ada dan kemudian mencoba untuk mencari persamaan atau menjodohkannya.

4. Media for fading technique

Media ini dapat dilakukan salah satunya dengan memberikan siswa tersebut sejumlah aturan-aturan yang berisikan hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Tujuan utama penggunaan media ini ialah untuk menurunkan tingkat ketergantungan siswa dan meningkatkan tingkat kemandiriannya. Diharapkan dengan penggunaan media ini, perlahan-lahan siswa akan terbiasa dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang positif.

5. Media for shaping

Tujuan utama media ini adalah untuk melatih ekspresi verbal dari anak dengan Autistic Spectrum Disorder tersebut. Dengan menggunakan kartu bergambar, siswa tersebut diminta untuk mengatakan sesuatu mengenai benda yang ada di dalam gambar. Jika sudah lebih mahir, pengajar bisa menggunakan serangkaian jadwal kegiatan yang dilakukan oleh anak tersebut sehingga lama-kelamaan siswa dapat meningkatkan kemampuan komunikasi mengenai kehidupannya dengan orang lain yang ada di sekitarnya.

Penerapan differentiated instruction dapat memberikan manfaat baik bagi siswa mau pun pengajar itu sendiri. Selain dapat diaplikasikan ke dalam pembelajaran normal, differentiated instruction juga dapat mempermudah berjalannya pembelajaran bagi anak-anak dengan disabilitas.

 

Referensi

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and  statistical manual of mental disorders (5th ed.). Washington, DC: Author.

Hornby, G. (2014). Inclusive special education: evidence-based practices for children with special needs and disabilities. Springer.

Padmadewi, N. N., & Artini, L. P. (2017). Teaching English to a Student with Autism Spectrum Disorder in Regular Classroom in Indonesia. International Journal of Instruction10(3), 159-176.

 

 

Riqa Alvarsa Gandasoebrata