Penerapan Differentiated Instruction, Mulai Darimana?

Menjadikan siswa berprestasi dan mampu mengasah kemampuannya masing-masing adalah impian pada pengajar, apalagi pengajarlah yang mendampingi siswa dalam proses pembelajaran selama masa sekolah. Menerapkan differentiated instruction merupakan salah satu cara untuk membantu siswa menggapai tujuannya, bagaimana pengajar memulainya?

Dikutip dari buku pedoman untuk penerapan diferensiasi di kelas yang ditulis oleh Maya De Groot dan tim, ada 12 langkah-langkah untuk membantu pengajar untuk menerapkan diferensiasi di kelas.

  1.  Diferensiasi menjadi lebih mudah, jika pengajar melakukan refleksi pada diri sendiri melalui pertanyaan, “Apa yang ingin saya capai dengan siswa-siswa saya?”

a. Apa kompetensi siswa?

Pengajar sebaiknya sebelum memulai memberlakukan diferensiasi dalam pembelajar, harus mempelajari kemampuan siswa yang sesuai kebutuhan, kemampuan, atau kecakapan yang cukup dalam keadaan yang baik, mampu, dan tangkas, serta mampu memberikan sarana yang memadai untuk melengkapi kebutuhan dan rasa nyaman pada siswa sesuai dengan kemampuannya (Mushlihin, 2012) kompetensi yang sebaiknya diperhatikan pengajar sebagai berikut:

 

i. Kompetensi intelektual yang mencangkup prestasi siswa, semangat belajar, kemampuan kinerja belajar, inisiatif kerja, kemampuan menangkap informasi, analisi, berfikir kritis dalam menghadapi sebuah konsep, kemampuan menguasi lapangan atau praktik, dan linguistik. (Sahertia & Satriobudi, 2016)

ii. Kompetensi Sosial yang mencakup kemampuan siswa tersebut berkomunikasi dengan sesama siswa dan pengajarnya.

iii. Kompetensi Psikomotorik yang merupakan kemampuan yang bersangkutan dengan keterampilan atau melakukan sesuatu sesuai dengan bagaimana siswa menerima pembelajaran dalam bidang tertentu secara kognitif (DosenSosiologi.com, 2020)

b. Apa yang diinginkan siswa?

Sebelum menerapkan pembelajaran dengan diferensiasi, pengajar diminta untuk mencari informasi tentang minat siswa untuk menemukan cara pengajar memberikan materi untuk melibatkan siswa dalam pembelajarannya. Ketika pengajar mampu membedakan dan membagi siswa sesuai dengan kemampuannya motivasi siswa akan bertambah dan pembelajaran berbasis diferensiasi akan berjalan dengan baik. (Defitriani, 2018)

c. Apa yang dibutuhkan siswa?

Pengajar mengetahui kebutuhan siswanya dalam pembelajaran, yang menyangkut pada bentuk dukungan apa yang nantinya pengajar akan berikan dalam pendampingan di pembelajaran.

  1. Dapatkan wawasan tentang siswa-siswa Anda

Dengan mencari tau kebutuhan dan keinginan siswa pengajar akan mengetahui wawasan bagaimana proses belajar siswa tersebut, ini yang akan membuat siswa tidak bergantung sepenuhnya kepada pengajar dalam pembelajaran. Mengetahui metode ini, pengajar juga akan terbantu untuk mendapatkan informasi tentang siswanya, sehingga pengajar mampu membedakan jenis dan metode pembelajaran yang akan diterapkan oleh setiap siswa.

  1. Rekan Sebaya

Mengajak siswa untuk saling belajar untuk lepas dari ketergantungan dengan pengajar, melalui metode kooperatif yaitu bekerja berkelompok melalui kelompok kecil untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas akademiknya, mendapatkan informasi terhadap perbedaan dalam kelompok siswa, dan mengajarkan siswa untuk berkolaborasi.

Dengan membuat kelompok siswa akan disajikan dengan berbagai macam informasi dan pengorganisasian untuk sama sama mendukung, membimbing, dan mengevaluasi pembelajaran. (Defitriani, 2018)

  1. Buat diferensiasi dapat dinegosiasikan

Saat pembelajaran berlangsung, siswa dan pengajar membuat kesepakatan dengan materi yang akan dikerjakan oleh siswa, siswa akan diberikan kebebasan untuk memilih darimana siswa tersebut mendapatkan informasi dan bagaimana cara memprosesnya. (Defitriani, 2018) Pengajar juga akan sebaiknya menjelaskan mengapa metode dan cara pembelajarannya dibedakan pada setiap siswa. Dengan ini siswa dapat bekerja mandiri dan fokus pada keterampilannya.

  1. Informasi dalam berbagai bentuk

Membentuk kelompok sesuai dengan struktur dan teori yang nantinya pengajar harus hubungkan dengan ide dalam pemetaan pikiran atau memberikan informasi baru dengan cara yang berbeda. Maksudnya adalah metode pembelajaran sebaiknya dimulai seunik mungkin bukan hanya memulai metode pembelajaran dengan papan tulis dan spidol saja, pengajar bisa memulai pembelajaran dengan memberikan kasus untuk dipecahkan, tayangan pendek, photo, ilustrasi, dan metode-metode baru yang berbeda dari biasanya.

  1. Jangan selalu memulai dengan latihan umum

Siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, pastinya setelah melewati banyak tahapan dalam pembentukan materi pembelajaran diferensiasi. Dengan memulai pembelajaran latihan umum atau materi yang hanya dikuasai oleh siswa dengan kemampuan tinggi akan menyelesaikan dengan mudah, namun untuk siswa yang punya kemampuan menengah akan sulit dan sedikit lambat menyelesaikan latihan yang diberikan, sehingga pengajar harus selalu menyediakan latihan latihan sesuai dengan tingkat kemampuan murid.

  1. Kelompok yang berubah

Kelompok yang dibuat dalam pembelajaran diminta untuk bervariasi dan berubah jika dibutuhkan, variasikan komposisi kelompok dengan murid dengan level penangkapan materi, penguasaan dan pemahaman materi yang berbeda, dengan begitu siswa akan saling mengajarkan dan bertukar informasi dari temannya, praktik perubahan kelompok ini meliputi kegiatan untuk menetapkan siswa dalam kelas reguler dalam kelompok sementara waktu. Bisa dengan kelompok kecil, besar, atau berpasangan sesuai dengan kebutuhan kurikulum. (Defitriani, 2018)

  1. Hubungkan pembelajaran ke dunia murid

Masih banyak pengajar yang mempusatkan pembelajarannya kepada buku saja, tanpa memberikan contoh yang jelas, pembelajaran ini sebaiknya dihindari untuk membantu siswa agar mengerti pembelajaran yang berlangsung. Pengajar diharapkan memberikan kesempatan untuk siswa ikut andil dalam pembelajaran berdasarkan perspektif dan minat mereka sendiri, tidak hanya menjabarkan teori, namun memberikan contoh yang relevan, misalkan menggabungkan pelajaran biologi dengan contoh-contoh yang menarik melalui metode yang berbeda.

  1. Kombinasikan kekuatan pengajar

pengajar sebaiknya juga bekerja sama dengan pengajar lain untuk menerapkan pembelajaran diferensiasi, dengan cara menggabungkan dua kelas bersama-sama, membentuk kelompok, dan pembelajaran tersebut akan melibatkan dua guru.

  1. Latihan untuk menyempurnakan

Tentunya, dalam pembelajaran tidak langsung sempurna, jam terbang dan pengalaman merupakan kunci dari pembelajaran diferensiasi dari sisi pengajar, dengan banyaknya pengalaman akan membentuk pembelajaran yang sempurna juga. Pengajar dianjurkan untuk menguasai keterampilan, pengetahuan menyeluruh tentang materi pemelajaran, manajemen kelas, dan kemampuan mengendalikan pembelajaran dengan baik. Dengan hal dasar bisa dikuasai, pembelajaran berbasis diferensiasi akan berlangsung semakin baik.

  1. Memulai dengan satu hal

Keberhasilan pembelajaran diferensiasi tidaklah instan, perlahan membangun materi yang sekiranya pengajar menguasai dengan baik, misalnya dasar fisika, jika dasar fisika berhasil, tambahkan perlahan materi yang sudah dikembangkan. Ketika sudah mampu mengendalikan materi yang dikembangkan, pengajar bisa menggabungkan beberapa materi yang sudah jauh lebih dikembangkan untuk metode pembelajarannya.

  1. Percobaan

Pembelajaran dilakukan harus dibarengi dengan uji coba dan evaluasi, uji coba bukan hanya berbentuk ujian kertas, namun dalam prosesnya harus terus diperhatikan. Mulai dari penentuan tingkat kesiapan siswa dalam pembelajaran diferensiasi yang dilakukan, pengumpulan informasi tambahan pengenai perkembangan siswa yang akan berdampak dengan pembelajaran, dan perkembangan siswa tentang suatu pembelajar agak dapat membagi sesuai dengan kriteria dari standar dan kemampuan siswanya (Kusumawati, 2017)

Pembelajaran diferensiasi bukan sesuatu pembelajaran yang mudah, apalagi metode ini masih belum akrab diterapkan diberbagai institusi pendidikan, ada baiknya semua pengajar terus memberikan dukungan dan mempelajari dengan baik bagaimana siswanya didalam pembelajaran, ini juga membantu komunikasi antar guru dalam pembentukan kurikulum. (TeachThough Staff, n.d.) Dalam pembelajaran juga ada baiknya kita sebagai pengajar mengikuti langkah dan perkembangan siswanya daripada memaksa siswa untuk mengikuti perkembangan guru, dengan begitu pembelajaran bisa berlangsung dengan rata karena kerjasama antar siswa dan pengajar. (Kusumawati, 2017)

 

 

 

Putri Nadia Amini