Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dan Dipersiapkan Untuk dapat Mengimplementasikan Differentiated Instruction (DI) pada Proses Pembelajaran

Artikel ini ditulis oleh Felycia Renika Noriana – 2201733553

 

Suatu proses pembelajaran dalam kelas biasanya terdiri dari sejumlah siswa dengan karakter dan kebutuhan yang juga berbeda-berbeda. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Tomlinson dalam Subban (2006), perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh para siswa tersebut berkaitan dengan readiness (kesiapan), interest (ketertarikan), dan learning profile (profil belajar) mereka. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu model

pembelajaran yang sesuai dan dapat memaksimalkan potensi pada setiap siswa dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda-beda dalam proses pembelajaran. Terkait hal ini, Differentiated Instruction (DI) dapat menjadi model pembelajaran yang sesuai. Hal ini dikarenakan pada penerapan Differentiated Instruction (DI) dapat memungkinkan adanya suatu cara efektif dalam mengatasi perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap siswa (Tomlinson dalam Subban, 2006).

Implementasi Differentiated Instruction (DI): Preconditions

Berdasarkan penjelasan oleh Tomlinson dalam (Butler dan Lowe, 2008), Differentiated Instruction (DI) didefinisikan sebagai metode pembelajaran yang menyesuaikan pemberian instruksi pembelajaran dengan kebutuhan masing-masing siswa guna memaksimalkan potensi siswa pada area-area tertentu. Maka dari itu, terdapat sejumlah hal yang perlu untuk diperhatikan dan dipersiapkan untuk dapat mengimplementasikan Differentiated Instruction (DI) pada proses pembelajaran. Beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut:

  • Pembelajaran Student-centred dan teacher-based

Pada penerapan Differentiated Instruction (DI) dalam pembelajaran tentunya membutuhkan suatu sistem pembelajaran yang tepat. Menurut Tomlinson dalam Butler dan Lowe (2008), dalam pengimplementasian Differentiated Instruction (DI) sesuai dengan penerapan pembelajaran dengan sistem teacher-based dan student-centered. Dimana, pada penerapan sistem pembelajaran tersebut para pengajar memiliki kontrol dan perlu untuk menyusun variasi strategi pembelajaran dalam kelas sesuai dengan kebutuhan individu setiap siswa untuk dapat membantu mereka dalam mencapai potensi belajar yang maksimal (Tomlinson dalam Butler dan Lowe, 2008).  Selain itu, sebagaimana yang dijelaskan Tomlinson dalam Subban (2006), pada implementasi Differentiated Instruction (DI), tanggung jawab atas proses pembelajaran bukan hanya dimiliki oleh para pengajar, namun para siswa juga bertanggung jawab akan keberhasilan suatu proses pembelajaran.  Maka hal tersebut berarti kedua pihak, baik pengajar maupun siswa, memiliki hubungan timbal balik dan bersama-sama bertanggung jawab atas proses pembelajaran yang dijalankan (Tomlinson dalam Subban, 2006). Oleh karena itu, pada proses pembelajaran Differentiated Instruction (DI) perlu mempersiapkan dan memperhatikan proses penerapan pembelajaran student-centered dan teacher-based dengan baik.

Berdasarkan penjelasan oleh Hesson dalam Ardian dan Munadi (2015), apa yang dimaksud dengan pembelajaran Student-centered learning adalah suatu model pembelajaran yang mengajarkan berpikir integratif, serta memposisikan siswa pada pusat dari suatu proses pembelajaran yang lebih besar. Terkait hal ini, proses pembelajaran yang lebih besar juga melibatkan instruktur, ahli pada bidang tertentu (specialist), dan publik (Hesson dalam Ardian dan Munadi, 2015). Selaras dengan penjelasan Andini (2016), pada pembelajaran student-centered learning dalam Differentiated Instruction (DI) memungkinkan para pengajar dalam memahami dan mendukung setiap siswa untuk dapat bertanggung jawab atas perkembangan proses pembelajaran mereka sesuai dengan kebutuhan individual mereka masing-masing. Terkait hal ini, setiap siswa juga memiliki tanggung jawab atas apa yang mereka putuskan atau lakukan, serta dalam berbagi pengetahuan antara satu siswa dengan yang lainnya dalam kegiatan kelompok (Andini, 2016). Sedangkan berdasarkan pada penjelasan Good dalam Butler dan Lowe (2008), seorang pengajar dapat memberikan instruksi berbeda kepada setiap siswa sesuai kebutuhan mereka melalui kurikulum, konten, proses, hal yang guru harapkan dapat dipelajari oleh siswa (product), dan perbedaan yang dimiliki setiap siswa berdasarkan pada kebutuhan mereka pada proses pembelajaran teacher-based learning pada Differentiated Instruction (DI).

 

  • Menyesuaikan dengan kebutuhan siswa

Pada implementasi Differentiated Instruction (DI) yang baik, perlu adanya upaya dalam menyeimbangkan kebutuhan belajar setiap siswa melalui penyesuaian pembelajaran yang diberikan dengan kebutuhan pembelajaran masing-masing siswa secara lebih spesifik (Tomlinson dalam Subban, 2006). Untuk dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individu setiap siswa, terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pengajar. Beberapa upaya tersebut adalah membuat variasi ataupun kombinasi dari kegiatan, konten, dan asesmen berdasarkan pada masing-masing siswa (Tomlinson dalam Butler dan Lowe, 2008). Oleh karena itu, dalam mengimplementasikan Differentiated Instruction (DI), para pengajar dapat secara lebih fleksibel dan kreatif dalam mengolah dan menggunakan sumber daya dan waktu yang mereka miliki (Turtle dalam Subban, 2006).

 

  • Penetapan goal atau tujuan

Berdasarkan penjelasan oleh Hall dalam Defitriani (2018), dalam merancang variasi pembelajaran pada penerapan Differentiated Instruction (DI), seorang pengajar perlu  untuk menyelaraskan tugas yang diberikan pada siswa dengan tujuan dari proses pembelajaran. Hosnan dalam DefItriani (2018) juga menjelaskan bahwa menyampaikan tujuan merupakan salah satu langkah utama yang harus dilakukan seorang guru atau pengajar dalam menerapkan pembelajaran yang bersifat kooperatif sebagai bentuk dari penerapan salah satu strategi pembelajaran Differentiated Instruction (DI).

 

  • Usaha ekstra dan ketelitian dalam mempersiapkan pembelajaran

Dalam melakukan implementasi Differentiated Instruction (DI) pada pembelajaran, dibutuhkan usaha ekstra yang harus dilakukan seorang pengajar dalam mempersiapkan pembelajaran, dimana pembelajaran tersebut perlu untuk disesuaikan dengan perbedaan kesiapan, ketertarikan, dan profil belajar yang dimiliki oleh setiap siswa (Tomlinson dalam Subban, 2006). Terkait hal ini, Tomlinson dalam Subban (2006) juga menjelaskan bahwa seorang guru atau pengajar diharuskan untuk tidak semakin berpikiran untuk memberi pengajaran yang hanya bertujuan untuk memenuhi kurikulum saja, namun dalam implementasi Differentiated Instruction (DI), para guru atau pengajar diharuskan untuk berpikir bahwa mereka memberikan pembelajaran berdasarkan pada pemenuhan kebutuhan individual setiap siswa. Selain itu, seorang pengajar atau guru juga diharuskan untuk dapat memahami tingkat kemampuan setiap siswa terkait dengan proses mempersiapkan materi dan penempatan pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan individu setiap siswa (Good dalam Butler dan Lowe, 2008). Dalam hal ini, seorang pengajar juga perlu untuk melakukan banyak tahapan dan prosedur untuk dapat secara efektif mengintegrasikan instruksi dalam pengimplementasian Differentiated Instruction dalam pembelajaran (Butler dan Lowe, 2008). Seorang pengajar pada pembelajaran student-centered learning membutuhkan sejumlah waktu terkait dengan jenis aktivitas yang dilakukan dan penataan fisik (physical arrangement) yang digunakan, sehingga hal ini juga selaras dengan penelitian terdahulu yang menjelaskan bahwa seorang pengajar semakin perlu untuk memantau dan mengelola perilaku jika semakin banyak pilihan dan mobilitas yang dimiliki para siswa, ataupun jika semakin banyak social scene atau tempat siswa bersosialisasi (Doyle dalam Garrett, 2008). Oleh karena itulah, para pengajar tidak hanya membutuhkan usaha ekstra dan ketelitian, namun juga perlu untuk menghabiskan waktu yang relatif lama untuk dapat mempersiapkan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap siswa. Selain itu, hal-hal tersebut juga dibutuhkan oleh para pengajar dalam melakukan asesmen dalam memodifikasi dan menyusun variasi pembelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan setiap siswa (Reed dalam Butler dan Lowe, 2008).

 

REFERENSI

Andini, D. W. (2016). “Differentiated Instruction”: Solusi Pembelajaran dalam Keberagaman Siswa di Kelas Inklusif. Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, 2(3), 340–349. Retrieved September 3, 2021, from https://media.neliti.com/media/publications/259034-differentiated-instruction-solusi-pembel-7b868815.pdf

Ardian, A., & Munadi, S. (2015). Pengaruh Strategi Pembelajaran Student-centered Learning dan Kemampuan Spasial terhadap Kreativitas Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan, 22(4), 454–466. Retrieved September 3, 2021, from https://journal.uny.ac.id/index.php/jptk/article/view/7843/6715

Butler, M., & Lowe, K. V. (2010). Using Differentiated Instruction in Teacher Education. Journal for Mathematics Teaching and Learning.  Retrieved September 1, 2021, from http://www.cimt.org.uk/journal/butler.pdf

Defitriani, E. (2018). Differentiated Instruction: Apa, mengapa, dan bagaimana penerapannya. PHI: Jurnal Pendidikan Matematika2(2), 111-120. http://dx.doi.org/10.33087/phi.v2i2.38.

Garrett, T. (2008). Student-Centered and Teacher-Centered Classroom Management: A Case Study of Three Elementary Teachers. Journal of Classroom Interaction, 43(1), 34–47. Retrieved September 3, 2022, from https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ829018.pdf

Subban, P. (2006). Differentiated instruction: A research basis. International Education Journal7(7), 935–947. Retrieved September 1, 2021 from https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ854351.pdf.

 

 

 

Felycia Renika Noriana