SIKAP, KOMPONEN SIKAP, SERTA PERBEDAAN SIKAP DENGAN PERASAAN : ATTITUDE – SOCIAL PSYCHOLOGY

Pada catatan ini, saya akan membahas mengenai definisi dari sikap, komponen terbentuknya sikap, serta perbedaan sikap dengan perasaan. Tulisan ini dibuat dengan tujuan sebagai pelengkap materi pengajaran Video Based Learning untuk mata kuliah Social Psychology berkaitan dengan topik attitude atau sikap yang dibuat oleh Ayu Wandira Gustriandini Meivitazahra Hariyanto dan Pingkan C.B. Rumondor, M.Psi., Psikolog . Video bahan ajar lebih lengkapnya dapat Anda lihat melalui digital content Attitude : Social Psychology.

 

Definisi Sikap  

Sebelum membahas lebih dalam terkait dengan sikap dan komponen-komponennya. Hal pertama yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah definisi dari sikap. Apakah Anda sudah mengetahui definisi dari sikap atau attitude? Jika belum mari kita bahas bersama. Manusia mengevaluasi apa yang ditemukannya, kemudian mereka membentuk suatu sikap. Maka dari itu, apakah definisi sikap sebenarnya? Dalam ilmu psikologi sosial, sikap didefinisikan sebagai evaluasi akan manusia, objek, atau ide (Aronson, Wilson, Akert, 2012). Contoh, ketika Anda mengevaluasi drama Korea “Partner or Justice” sebagai sesuatu yang menghibur, berarti Anda memiliki sikap positif terhadap drama korea tersebut. Jadi, sikap dalam psikologi sosial bukan berarti postur tubuh ataupun perilaku seseorang.

Sikap seseorang merupakan hal yang penting karena sikap menentukan apa yang akan ia lakukan. Sebagai contoh, sikap Anda terhadap drama Korea “Partner or Justice” akan menentukan apakah Anda akan menontonnya atau tidak. Semakin positif sikap Anda terhadap drama korea tersebut maka semakin besar kemungkinan Anda akan menontonnya. Contoh lainnya, sikap Anda terhadap sayuran juga dapat menentukan apakah Anda akan makan sayur atau tidak. Jika Anda mengevaluasi bahwa sayuran itu sehat dan berguna maka semakin besar kemungkinan anda akan memakannya.

 

 

Komponen terbentuknya Sikap

Terdapat tiga komponen penting yang membentuk sikap yaitu, komponen kognitif, afektif, dan perilaku. Berikut ini pembahasan mengenai masing-masing komponen.

  1. Cognitively Based Attitude:

Sikap dapat berasal dari keyakinan seseorang mengenai karakteristik dari objek sikap. (Aronson, Wilson, Akert, 2012). Contohnya, jika Anda mempertimbangkan sikap Anda terhadap suatu objek seperti air purifier dengan melihat fakta-fakta mengenai objek tersebut. Sikap Anda terhadap air purifier dapat terbentuk dari  keyakinan anda tentang manfaat objektif dari merek tertentu, seperti seberapa baik merek tersebut dapat menyedot kotoran, berapa biaya yang dibutuhkan untuk membeli air purifier tersebut.

  1. Affectively Based Attitude:

Sikap dapat berasal dari perasaan dan values yang dimiliki seseorang (Aronson, Wilson, Akert, 2012). Berdasarkan pengertian tersebut, sering muncul pertanyaan seperti jika affectively based attitude tidak berasal dari pemeriksaan akan fakta tentang seseorang, objek atau ide yang dievaluasi, dari manakah sumber-sumber sikap ini berasal? Jawabannya adalah mereka dapat berasal dari berbagai sumber seperti, value yang dimiliki seseorang seperti agama dan keyakinan moral. Selain perasaan dan value, sumber lainnya yang mendasari affectively based attitude diantaranya seperti, reaksi sensori seperti saat Anda menyukai rasa dari cheese cake terlepas dari jumlah kalori yang Anda konsumsi dari memakan kue tersebut, kemudian reaksi estetis seperti saat Anda mengagumi sebuah lukisan yang Anda lihat saat Anda mengunjungi museum seni. Sumber lainnya dari affectively based attitude juga dapat melalui conditioning.

Salah satu contoh dari affectively based attitude seperti, jika Anda menyukai suatu tas dengan alasan sesederhana karena Anda menyukai tas tersebut terlepas dari fungsi utama tas tersebut. Berdasarkan contoh di atas menunjukkan bahwa sikap Anda dapat terbentuk condong dari perasaan yang Anda rasakan terhadap tas tersebut dibandingkan fakta objektif yang ada mengenai tas tersebut.

  1. Behaviorally Based Attitude:

Sikap juga dapat berasal dari observasi akan bagaimana seseorang berperilaku terhadap suatu objek (Aronson, Wilson, Akert, 2012). Contohnya, jika Anda bertanya ke teman Anda tentang seberapa suka dirinya berolahraga dan  jika dia menjawab bahwa bahwa dia menganggap suka berolahraga karena sepertinya dia selalu pergi berlari atau pergi ke gym untuk berolahraga, dapat dikatakan ia memiliki behaviorally based attitude. Hal itu karena dia bersikap lebih condong didasarkan pada observasi akan perilakunya daripada kognisi atau perasaannya dari berolahraga.

 

Perbedaan Sikap dengan Perasaan

 Berdasarkan penjabaran tentang definisi dari sikap dan komponen dari sikap maka apakah Anda sudah memiliki gambaran perbedaan antara perasaan dengan sikap?

Secara singkat, sikap seperti yang telah dijelaskan adalah suatu evaluasi yang dilakukan manusia terhadap manusia lain, objek, atau suatu ide. Sedangkan, perasaan menurut definisi APA (n.d.) adalah pengalaman fenomenal mandiri. Perasaan juga bersifat subjektif, evaluatif, dan terpisah dari sensasi, pikiran atau gambaran yang membangkitkannya (APA, n.d.). Berdasarkan komponen dari sikap yang telah dijelaskan sebelumnya pun perasaan bisa menjadi dasar komponen sikap seseorang seperti pada affectively based attitude.

 

Assessment

Apakah Anda sudah paham? Jika Anda sudah memahami penjelasan di atas, silahkan kerjakan latihan soal berikut ini.

  1. Rani hendak mengadopsi anjing. Rani juga sudah melakukan riset terkait jenis anjing. Dia memutuskan untuk memilih jenis Labrador

Retriever  dibandingkan anjing jenis Bulldog. Dia memilih anjing jenis Labrador Retriever karena anjing tersebut menggemaskan, sangat aktif, dan baik dengan anak-anak serta dapat menjaga rumah dengan baik.

Dia pun sudah sempat melewati petshop anjing tersebut berada beberapa kali.

Berdasarkan ilustrasi tersebut, Jelaskan komponen apa saja yang membentuk sikap Rani terhadap anjing jenis Labrador?

 

REFERENSI

APA Dictionary of Psychology. (n.d.). https://dictionary.apa.org/feeling.

Aronson, E., Wilson, T. D., &Akert, R. M. (2013). Social Psychology (8th ed.). Pearson.

 

Penulis:

Ayu Wandira Gustriandini Meivitazahra Hariyanto. Mahasiswa Universitas Bina Nusantara Jurusan Psikologi. Mahasiswa magang Learning Support, Jurusan Psikologi, Universitas Bina Nusantara.

Pingkan C. B. Rumondor, M.Psi., Psikolog, dosen psikologi klinis di Universitas Bina Nusantara, mahasiswa S3 Fakultas Psikologi Indonesia. Subject Content Coordinator – Fundamental on Psychology, Psychology Department, Faculty of Humanities, Universitas Bina Nusantara.

 

Pingkan C. B. Rumondor, M.Psi., Psikolog