Ultrainternasionalisasi Jurnal Ilmiah

Elsevier menyatakan bahwa keragaman asal geografis penulis (diversity in geographical distribution of authors) merupakan salah satu unsur penilaian (bagian dari Journal Policy) agar sebuah jurnal dapat diindeks di pangkalan data komersialnya, Scopus. Sedangkan, situs Pre-evaluation of Scopus submission menjelaskan, “The diversity of authors’ and editors’ countries is considered in the evaluation” (Keragaman negara dari penulis dan editor dipertimbangkan dalam evaluasi).

Sementara itu, di Indonesia, diketahui bahwa dari 5.148 jurnal ilmiah berakreditasi nasional ARJUNA (dengan peringkat SINTA 1 hingga SINTA 6) di Indonesia per 30 Desember 2020, sebanyak 82 (1.6%) diantaranya terindeks di Scopus. Sangat boleh jadi, jurnal-jurnal ilmiah di Indonesia berlomba-lomba untuk dapat terindeks di Scopus. Oleh karena itu, aspirasi wawasan internasional tampak benar-benar dijaga oleh beberapa jurnal dengan membuat gerakan tertentu. Hal ini terlihat dari komposisi penulis internasional dalam mana penulis dengan afiliasi Indonesia mulai banyak – untuk tidak mengatakan trendy – dibersamai oleh penulis dengan afiliasi luar Indonesia. Hal ini jelas diperkuat dengan Panduan bagi Penulis (Author Guidelines) dari jurnal yang bersangkutan: Gratis untuk makalah dari penulis lintas negara! – FREE OF CHARGE will be available for paper submission of authors, from minimum two countries.

Pola serupa dapat kita temukan pada jurnal Indonesia yang lain: Manuscripts submitted by high impact authors first author or corresponding author with minimum Scopus/WoS h-index: 15) and at least two authors from different countries are eligible for the 100% discount on the APC or APC is free of charge. Kalimat yang mirip dapat kita jumpai di laman sebuah jurnal yang berisikan kebijakan pembiayaan.

Guna menekankan keinternasionalannya, sudah semakin lazim kita jumpai kalimat-kalimat yang khusus menandaskan upaya “Internasionalisasi” itu, misalnya: This issue has been available online since 18th September 2020. All articles in this issue (12 original research articles) were authored/co-authored  by 32 authors from 14 affiliations and 4 countries (Indonesia, Iran, Finland, and France).

Gejala ini tampaknya juga melanda negara jiran, seperti dengan pernyataan: … It would be a launching pad in preparations for the other four international journals published to be sent to more reputable indexing bodies, such as Scopus. To meet the more demanding requirements by such bodies, only internationally- authoredpapers shall be considered for publications in the Proceedings (E-BPJ), and in our other four international journals.

Tidak mengherankan, ketika Journal of ASEAN Studies terbitan BINUS University dikabarkan terindeks Scopus, saya membaca ada pertanyaan dari seseorang di sebuah WhatsApp Group, “Selamat kepada JAS! Apakah ini terbitan BINUS? Kalau iya, diversity author tidak diperhitungkan lagi ya? #tanyaadaapa“. Sebuah pertanyaan yang mungkin mengandaikan mutlak pada asumsi “Internasionalisasi” yang disebutkan di atas, dan kemudian melihat kenyataan pada halaman muka isi JAS Vol 8 No 1, 2020, pada saat pengumuman terindeks itu. Padahal, kalau kita cermati, ketentuan dari Ready for Scopus sendiri, keragaman asal negara penulis hanya salah satu dari unsur penilaian, bukan ukuran satu-satunya yang dapat membuat sebuah jurnal diinklusi atau dieksklusi di Scopus.

Amatan saya, fenomena yang saya angkat di atas merupakan sebuah gejala baru, entah kita sebut sebagai “ultrainternasionalisasi” atau yang lain, di kalangan pengelola jurnal Indonesia. Bukan tidak mungkin, fenomena ini akan semakin mewabah ke depan.

Apapun terminologinya, kita sebagai para pengelola jurnal ilmiah di Indonesia hendaknya memastikan agar praktik-praktik pengelolaan jurnal kita, termasuk dalam skema pemberian insentif dan disinsentif kepada penulis yang ingin menerbitkan artikelnya di jurnal kita, sungguh-sungguh memperhatikan kaidah etis.

Apabila sebuah penelitian memang lahir secara natural dari rencana kerjasama penulis antarbangsa, tidak masalah sama sekali (apakah perlu diberikan insentif berupa diskon yang besar, semata-mata karena hal ini?); namun internasionalisasi bukanlah tujuan, apalagi tujuan mutlak sebuah jurnal ilmiah.

Tambah lagi, bila kita ingat, bahkan dalam etika penelitian saja, large inducement (pemberian hadiah yang besar kepada partisipan penelitian) dapat berpotensi menghadirkan persoalan etis.

Penulis: Dr. Juneman Abraham

 

 

 

 

Juneman Abraham