Gotong Royong di kala Pandemi: Crowdlending? Bantu 1 Ajak 2?

Salah satu hal yang sentral dalam perjuangan melawan pandemi Covid-19/virus Corona, tak pelak, adalah Gotong Royong, sebuah modal sosial sekaligus kearifan bangsa Indonesia. Penggali Pancasila, Bung Karno, bahkan pernah menyatakan bahwa jika Pancasila harus diperas menjadi satu sila (Ekasila), maka Ekasila itu adalah: Gotong Royong. Gotong Royong di kala pandemi dapat mewujud dalam berbagai bentuk.

Salah satu bentuknya adalah Crowdlending, atau – dalam bahasa Indonesia – secara populer dikenal dengan istilah: Pendanaan gotong-royong. Dikutip dari Wikipedia, Crowdlending atau P2P (peer-to-peer) lending merupakan:

penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan Pemberi Pinjaman dengan Penerima Pinjaman dalam rangka melakukan perjanjian pinjam meminjam melalui sistem elektronik dengan menggunakan jaringan internet. Layanan P2P merupakan penyelenggara badan hukum Indonesia yang menyediakan, mengelola, dan mengoperasikan Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Penerima Pinjaman (borrower) adalah orang dan/atau badan hukum yang mempunyai utang karena perjanjian Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Pemberi Pinjaman (Investor) adalah orang, badan hukum, dan/atau badan usaha yang mempunyai piutang karena perjanjian Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Peraturan soal P2P diatur dalam Peraturan OJK (POJK).

Gubernur DKI Jakarta, Dr. Anies Baswedan, telah menyerukan pada Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) 2 Mei 2020 yang lalu, dalam berita Anies Ajak Pengusaha Gotong-royong Bantu Sesama Lewat Program KSBB (Kolaborasi Sosial Berskala Besar) Jakarta,

“Kami di Pemprov DKI tidak ingin program yang bersifat bantuan itu harus selalu bersumber dari negara, justru kita ini memfasilitasi bertemunya antara yang bisa memberi dan membutuhkan,” ucap Anies, Sabtu (2/5/2020). Dikutip dari Kompas.com.

Tak kebetulan, pada akhir 2019 lalu, Dr. Juneman Abraham dan rekan, Sheila Putri Fajrianti, menerbitkan sebuah hasil studi yang relevan dengan seruan tersebut, yaitu mengenai penilaian moral di balik nilai-nilai prososialitas (membantu orang lain) melalui perilaku pendanaan gotong-royong (crowdlending). Hasil studi tersebut secara lengkap dapat disimak dalam Moral Judgment behind Prosocial Value Endorsing Online Crowdlending Behavior: Consequentialism vs. Deontology. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan akademis intevensi sosial untuk meningkatkan perilaku crowdlending, misalnya pengusaha besar membantu pengusaha UMKM yang terdampak pandemi Covid19.

 

 

Di samping itu, dalam situasi wabah Covid-19 ini, banyak dari kita ingin berbuat sesuatu bagi sesama, dan tidak sedikit yang tidak mengetahui bagaimana caranya. Sebuah inisiatif menghadirkan video yang memperkenalkan sebuah cara yang disebut “Bantu Satu Ajak Dua”.

Kepada mahasiswa, Dr. Abraham di kelas Psikologi Sosial menanyakan, setelah menonton video tersebut, apakah para mahasiswa akan berpartisipasi mengikuti cara tersebut (dalam arti ini termasuk jika mengajak keluarga – yang memiliki sumber daya ekonomi – untuk mengikuti perilaku tersebut). Hal ini merupakan perluasan cakrawala gotong-royong untuk membantu mereka yang kurang beruntung atau rentan secara ekonomi dalam situasi Pandemi Covid-19, atau disebut oleh Dr. Abraham sebagai KARTINI GESIT. Banyak jawaban yang menunjukkan bahwa kita masih memiliki asa untuk bergotong-royong – dalam berbagai wujud – dan para pemuda siap bahkan sudah bergerak untuk itu!

Berikut ini adalah jawaban teman-teman mahasiswa:

Ya, saya akan berusaha membantu dengan mengajak keluarga saya untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Saya perhatikan di sekitar komplek perumahan saya memang terdapat beberapa pelaku usaha yang nampaknya tidak bisa berdiam diri di rumah. Bukannya mereka tidak menurut, tapi karena dorongan ekonomi yang mengandalkan penghasilan harian untuk bertahan hidup.

Saya menjawab “ya” karena dorongan Normative Social Influence. Saya akan terlihat sangat jahat apabila dengan gamblang menjawab “tidak”. Sejujurnya saya tidak setertarik itu untuk membantu secara langsung orang orang di sekitar perumahan. Maka dari itu saya memilih mencari aman dengan menjawab “ya”. Bukannya saya tidak ikhlas membantu atau semacamnya namun saya dan keluarga lebih senang membantu secara virtual dari rumah seperti menggunakan platform sosial, menitipkan uang sumbangan lewat ketua RT, atau memesan makanan lewat ojek online. Saya harap project dalam video tersebut berhasil diaplikasikan pada puluhan bahkan lebih orang lain di luar sana yang kemudian cukup untuk menciptakan konformitas, sebenarnya akan lebih baik jika tidak ada konformitas, sehingga tujuan mulia project pun tercapai.

Ya. Karena, untuk mengajak seseorang untuk melakukan sesuatu seperti cara “Bantu Satu Ajak Dua” menurut saya kita perlu melakukannya cara tersebut terlebih dahulu barulah kita bisa myakinkan orang lain dan mengajak mereka untuk melakukan hal yang sama. Jika kita tidak melakukannya, mungkin orang lain akan merasa sungkan dan mereka pun mungkin akan berpikir “Kok dia sendiri tidak melakukan apa yang dia ajak kita lakukan. Apakah berarti dia sendiri tidak yakin dengan cara ini?”

Mungkin lebih mencerminkan Informational Social Influence. Karena dari video yang diberikan, diperlihatkan data-data dan dampak dampak apa yang akan mucul jika kita melakukan satu hal atau jika tidak melakukannya. Di video tersebut juga diperlihatkan 2 perwakilan dari orang yang terpaksa untuk tetap keluar rumah dan bekerja dan melihat dengan langsung pernyataan dan pandangan mereka. Saya tahu fenomena ini ada dan terjadi, tapi untuk melihat secara langsung orang-orang yang bersangkutan benar-benar membuat saya terhenyak dan sadar atas keseriusan situasi yang sedang melanda kita sekarang.

Sejujurnya saya sendiri belum siap untuk membantu lingkungan sekitar saya, bukan dikarenakan saya tidak mau melainkan karena ekonomi serta mental saya dan keluarga saya belum siap untuk membantu mereka yang membutuhkan. Begitu juga keluarga saya lainnya yang dimana memang memiliki pekerjaan yang berbasis “usaha” sehingga ekonominya juga sedang menurun. Sehingga belum saatnya saya ikut berkontribusi dalam membantu.

Perilaku Informational Social Influence sendiri merupakan perilaku orang lain yang membuat kita mengikutinya dikarenakan kita melihatnya sebagai sumber yang dapat menjadi tuntunan kita. Menurut saya video yang diberikan dapat membentuk perilaku tersebut kepada masyarakat yang menontonnya. Mereka (bantu1ajak2) mengajak kita untuk dapat membantu sesama yang membutuhkan agar penyebaran COVID-19 tidak naik secara signifikan. Sehingga kita yang belum tahu dengan jelas bagaimana cara membantu selain menyumbangkannya, kita bisa jadi lebih tahu dan dapat mempraktekkannya.

Yes, I would like to participate with the “Bantu Satu Ajak Dua” action because this method is such an innovative way to help and protect each other from Covid-19 virus without applying the lockdown method which may decline our country’s economic condition. I personally think that we can’t depend fully on our government to prevent the spread; the action shall come from our own awareness and it is important to start to help each other during this emergent condition. Hence, the first thing that I would do is to tell and convince my parents about this action so our family can collect as much money as we can afford to help other family, specifically to a less fortunate family near our neighborhood. It is important to see our surroundings first because we have to ensure that we are able to help to fulfill the family’s needs so we can easily make sure that they are staying at home. Then, as what has been told from the video, I will tell and encourage other people to do this action.

My previous answer reflects Informational Social Influence because I see “Bantu Satu Ajak Dua” as a source of information that guides my behavior in helping others to prevent the spread of Covid-19 virus, which will be beneficial to all of us. So, the economical condition will recover more quickly as soon as we go back to the normal situation like it used to be before this outbreak. Before I knew about this innovative action, I didn’t have a good or accurate idea or choice of action to make sure that everyone stays at home to maintain social distancing. I see this “Bantu Satu Ajak Dua” action as a behavior of other people that are aware of helping others, especially to help people who are still forced to work outside even when they are aware of the risk. This action also has provided a powerful and useful source of knowledge for me and everyone else. Hence, I am ready to participate with this action as I am conforming to the others that have participated with this action earlier.

Tidak, karena keluarga saya juga masih butuh untuk keluar rumah agar bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, walau dalam hal ini tidak tinggi intensitasnya (tidak setiap hari keluar, tetapi pasti akan keluar rumah).

Karena soal sebelumnya saya menjawab “tidak”, maka jawaban saya bukanlah cermin dari informational social influence maupun normative social influence. Jawaban saya dapat dikatakan merupakan cerminan dari informational social influence dan normative social influence jika saya mengikuti perilaku “Bantu Satu Ajak Dua”. Normative social influence adalah pengaruh dari orang lain yang menuntun kita untuk “menyesuaikan” (conform) dengan tujuan untuk disukai dan diterima oleh kalangan. Orang-orang yang dipengaruhi oleh normative social influence juga belum tentu menerima secara pribadi kepada kepercayaan dan perilaku orang lain. Maka dari itu, saya akan dikatakan mendapat pengaruh dari normative social influence apabila saya mengikuti perilaku “Bantu Satu Ajak Dua” dengan kondisi dimana saya belum mempercayai perilaku orang tersebut dan dengan tujuan agar saya tidak menarik perhatian masyarakat. Saya pun akan dikatakan mendapat pengaruh dari informational social influence apabila saya juga mengikuti perilaku “Bantu Satu Ajak Dua” yang didasarkan dengan interpretasi bahwa perilaku bantu1ajak2.id lebih benar daripada perilaku saya selama ini dalam menghadapi situasi wabah COVID-19. Dalam hal ini, walau saya berpikir bahwa saran ataupun ide yang diberi dari bantu1ajak2.id merupakan perilaku yang baik dan lebih benar daripada perilaku saya, namun saya tidak berpikir untuk ingin mengikuti perilaku tersebut. Maka dari itu, jawaban saya pun bukan cerminan dari informational social influence pula.

Ya, saya akan ikut berpasrtisipasi mengikuti cara tersebut, selama ini saya dan keluarga saya sebenarnya sudah mencoba melakukan hal itu, dengan memesan makanan dari ojek online lalu memberikan tip yang lumayan besar untuk para ojek online tersebut. Namun saya belum mengajak orang-orang di sekitar saya, karena saya berpikir itu adalah hal yang mungkin lebih baik saya keep sendiri. Namun, setelah menonton video tersebut saya sadar betapa penting nya “Bantu Satu Ajak Dua” ini hanya dengan memberi tahu 2 relasi saya, lalu mereka melanjutkannya hingga hanya 20 orang saja yang melakukan itu, kita bisa sudah menyelamatkan 2 juta masyarakat Indonesia ini.

Menurut saya jawaban saya merupakan cerminan dari Informational Social Influence, karena saya menyesuaikan perilaku saya dengan apa yang dicontohkan oleh orang tersebut, dan saya mempercayai bahwa interpretasi orang tersebut tentang situasi yang sedang dihadapi lebih tepat daripada interpretasi saya dan ia membantu saya dalam menentukan tindakan mana yang benar yang harus saya lakukan.

Mungkin saya akan berpartisipasi mengikuti cara tersebut tapi menurut saya, sangatlah sulit untuk dilakukan di kalangan mahasiswa. Namun, saya akan menyebarluaskan metode ini termasuk ke keluarga saya sendiri karena menurut saya jika kita semua bertindak maka kita dapat memutus rantai penyebaran virus covid-19 ini.

Jawaban saya merupakan cerminan dari Informational Social Influence karena saya melihat metode bantu1ajak2 sebagai sumber/informasi tentang bagaimana saya akan berperilaku. Krisis yang terjadi atas wabah ini membuat saya mempercayai metode ini karena kita sudah tidak punya waktu untuk berdebat mana metode yang benar atau bagaimana kita dapat membantu para pekerja yang terpaksa keluar rumah untuk mencari nafkah. Hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah hal yang ada di depan kita.

Tidak, karena kondisi finansial saya tidak ada dibawah kontrol saya, sebagai mahasiswa tahun pertama yang kembali ke rumah karena virus ini, semua kondisi finansial saya dipegang oleh keluarga, dan keluarga saya juga saat ini tidak berani untuk sembarangan dalam mengelola pengeluaran, sehingga sepertinya tidak mungkin untuk orang-orang di sekitar saya untuk membantu dengan menggunakan metode ini. Bahkan apabila saya diberikan kebebasan untuk melakukan hal ini, saya tidak yakin saya sendiri akan menggunakan metode ini, karena menurut saya masih banyak jalur lain yang dapat ditempuh dalam membantu berkontribusi agar masalah virus ini cepat selesai. Jujur saja di kala masalah seperti ini, dimana ada krisis, saya kurang suka berkontribusi secara material, namun saya lebih suka turun ke lapangan atau melakukan hal lain yang dapat secara pasti membantu masalah tersebut, ketimbang mendonasikan uang kemudian duduk diam tanpa mengetahui tindakan apa yang selanjutnya terjadi. Biarpun pendapat saya seperti itu, saya menghargai dan mengakui bahwa ini adalah metode yang layak, dan bersyukur pada orang-orang yang memiliki hati yang besar untuk help a greater cause.

Saya sepenuhnya sadar bahwa mungkin jawaban saya berbeda dari kebanyakan orang lainnya, sehingga tidak mungkin saya mengatakan hal tersebut akibat Normative Social Influence, dimana orang cenderung ingin merasakan acceptance. Jujur saja saya juga tidak yakin apakah hal yang saya lakukan ini akibat Informational Social Influence karena saya menjawab pertanyaan ini tanpa melihat respons orang lain akan mungkinkah jawaban saya benar atau tidak. Ini pertama kalinya saya mendengar mengenai proyek Bantu Satu Ajak Dua, dan walaupun kebanyakan orang yang menonton video tersebut akan berpartisipasi, saya tidak, maka saya tidak yakin apakah pendapat saya dibawah bentuk social influence atau merupakan pendapat murni dari diri saya sendiri.

Ya, saya ingin berpartisipasi, karena menurut saya kita dapat memaksimalkan bantuan masyarakat serta membantu pemerintah juga dan menurut saya gerakan bantu satu ajak dua ini cukup efisien karena kita tidak perlu menemui banyak orang dan hasilnya pun akan menyebar,

Menurut saya lebih mencerminkan informational social influence karena video tersebut menganjurkan atau merekomendasikan, serta video tersebut berkomposisikan informasi informasi yang cukup akurat dalam situasi covid 19 sekarang ini. Maka video bukan hanya mendidik kita mengenai virus tersebut tetapi juga membimbing kita dalam membantu orang lain sebagai contoh video tersebut memberitahukan bahwa terdapat orang yang secara paksa harus  mencari nafkah karena jasa mereka.

Ya, saya akan mengajak keluarga saya yang memiliki kecukupan ekonomi agar dapat berpartisipasi dalam kegiatan bantu satu ajak dua karena menurut saya kegiatan tersebut dapat memberikan pengaruh yang cukup terlihat (banyaknya orang yang stay di rumah untuk meminimalisasi penularan virus corona) terutama bila banyak orang melakukan hal tersebut.

Jawaban saya merupakan cerminan dari informational social influence. Di video tersebut, ada pembicara atau narator yang menjelaskan dengan jelas apa itu gerakan bantu satu ajak dua dan disitu saya melihat bahwa ia mengajak orang banyak untuk melakukan kegiatan tersebut untuk membantu para pekerja yang masih keluar rumah untuk mencari nafkah. Saya memiliki niatan untuk mengajak anggota keluarga saya lainnya yang memiliki ekonomi yang cukup untuk ikut berpartisipasi karena saya percaya bahwa sang narator dapat melakukan hal yang baik terhadap lingkungan (dlm konteks ini adalah membantu pekerja) dan akan membantu kita memilih tindakan yang tepat.

Ya saya akan berpartisipasi dengan cara mengajak keluarga/orangtua saya untuk membantu orang-orang yang terpaksa untuk keluar rumah. Teman-teman saya banyak juga yang terkena imbasnya. Sebenarnya mereka tidak ingin keluar tapi jika dia tidak keluar dia tidak bisa memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Banyak cara untuk berdonasi kita bisa menunjukan pada teman-teman  bahwa berdonasi itu tidak ribet apalagi sekarang teknologi sudah canggih.

Karena melihat video yang bapak berikan membuat hati saya tergerak untuk melakukan apa yang mereka lakukan yaitu bantu satu ajak dua dalam berpartisipasi agar bisa membantu orang-orang dan supaya bisa meredakan virus covid-19 ini

  

Tentu ini ide yang  bagus, kita memang tidak bisa menyalahkan mereka yang tetap bekerja di luar rumah demi keluarga. Tindakan yang tepat jika saya dan keluarga ikut membantu mereka yang membutuhkan, dan juga saya akan mengajak saudara serta kerabat yang saya rasa mampu dalam segi ekomoni dengan cara menjelaskan tujuan dan manfaat dari yang akan kita lakukan ini.

Informational social influence karena menurut saya apa yang dia sampaikan itu benar juga menurut opini saya. Apa yang saya ingin lakukan bukan karena terpaksa dan hanya ingin di lihat orang lain. Saya tulus ingin membantu Indonesia memutus rantai penyebaran covid-19

Ya, saya akan melakukan gerakan bantu satu ajak dua, karena saya ingin membantu orang-orang agar tetap bisa makan dan juga menurunkan jumlah orang yang terkena covid-19.

 Menurut saya, ini adalah cermin dari informational social influence. Definisi dari informational social influence adalah kesesuaian dibawah penerimaan bukti tentang realita yang sudah disediakan oleh orang lain. Dari video yang sudah kita tonton, kita diberi tahu realita yang sedang terjadi di masyarakat kita sekarang, dan kita harus menerimanya.

Ya, menurut saya gerakan “Bantu Satu, Ajak Dua” ini merupakan cara yang efektif bagi kita untuk mengajak orang-orang untuk melakukan isolasi diri sesuai yang dianjurkan, terutama pada orang-orang terdekat kita. Menurut saya, gerakan ini dapat dimulai dari komunitas terkecil yaitu oleh RT yang dikoordinir dengan RW untuk bekerjasama membantu rakyat yang membutuhkan. Dengan cara seorang RT dan RW mendata siapa yang membutuhkan bantuan dan siapa yang bisa membantu. Gerakan ini harus disebarkan dan kita lakukan bersama-sama.

Menurut saya, jawaban saya merupakan cermin dari Informational Social Influence. Karena, saya pun melakukan cara-cara yang diarahkan serta dianjurkan oleh orang-orang untuk tidak berpergian keluar rumah. Serta, seperti yang ada pada video diatas, gerakan tersebut merupakan sebuah ajakan. Dan kita harus melakukan ini karena informasi yang sudah kita ketahui bahwa virus ini sangat cepat menyebar dan sudah memakan korban yang cukup banyak.

Tentu saja ini ide yang sangat bagus,saya akan melakukan gerakan bantu satu ajak dua karena saya ingin membantu orang orang dan ini merupakan tindakan yang tepat untuk mengurangi atau menurunkan jumlah orang yang terkena covid-19.

Menurut saya, informational social influence karena dari video tersebut realita yang sedang terjadi sekarang ini harus kita terima dan apa yang ingin saya lakukan bukan semata mata agar ingin dilihat oleh orang lain tapi saya sungguh sungguh ingin membantu.

Menurut saya, saya akan melakukannya karena program “bantu satu ajak dua” adalah sesuatu yang dapat saya lakukan secara ekonomis dan usaha. Karena saya memiliki anggaran yang lebih, maka saya tidak akan senggan untuk memberi bagian untuk mereka yang kurang beruntung. Dan untuk mengajaknya menurut saya juga tidak terlalu susah ataupun merepotkan bagi yang melakukannya.

Jawaban saya dicerminkan melalui informational social influence, hal tersebut adalah karena saya melihat dampak yang sedang terjadi (dalam kasus ini yaitu covid) dan jumlah masyarakat yang terkena oleh penyakit tersebut. Serta dengan diberinya contoh untuk membantu mereka yang bersifat masuk akal dan di dalam kemampuan saya, maka saya memilih jawaban saya tersebut.

Iya, sebab dengan berpatisiapsi mengikuti cara tersebut setidaknya kita telah membantu sebagian    orang yang membutuhkan bantuan kita. Selain itu, kita juga dapat mengajak orang lain untuk ikut serta dalam melakukan hal yang dapat membantu banyak orang. Dengan kita membantu mereka, membuat mereka bahagia dan kita yang membantunya juga ikut bahagia.

Perilaku Informational Social Influence yang dimana artinya adalah pengaruh orang lain yang membuat kita menyesuaikan diri karena kita melihat mereka sebagai sumber informasi untuk membimbing perilaku kita : kita menyesuaikan diri karena kita percaya bahwa interpretasi orang lain terhadap situasi yang ambigu lebih benar daripada kita dan akan membantu kita memilih dan akan membantu kita pilih tindakan yang sesuai. Menurut saya, dari video tersebut mengajak kita untuk membantu orang disekitar kita yang membutuhkan bantuan kita. Maka bantuan yang kita berikan itu dapat mengatasi penyebaran virus corona ini.

Iya, saya akan mengikuti cara tersebut. Menurut saya, cara tersebut dapat membantu banyak orang secara langsung, maupun tidak langsung. Seperti contohnya, kita membantu satu keluarga untuk diam di rumah. Secara tidak langsung kita juga membantu untuk flatten the curve, dimana hal tersebut meringankan beban dokter yang menangani kasus COVID-19. Oleh karena itu, menurut saya, lebih baik melakukan cara ini daripada mementingkan diri sendiri. Saya sudah memberi tahu orang tua saya untuk membantu seperti tukang bakso keliling dan ojek online. Karena dampaknya akan lebih nyata daripada menyumbang di lembaga-lembaga besar.

Menurut saya, hal ini termasuk dari Informational Social Influences karena di dalam video, orang tersebut menjelaskan dengan jelas bagaimana dampak nyatanya dan karena ia sendiri melakukannya. Oleh karena itu, akan bnayak memengaruhi pandangan orang lain untuk berbuat hal yang sama dengan cara tersebut dan pastinya akan berdampak baik bagi lingkungan.

Setelah melihat video tersebut, saya merasa tergerak untuk berpartisipasi dalam ‘Bantu Satu Ajak Dua’. Tidak semua orang merasakan hal yang sama ketika pemerintahan menyuruh masyarakat untuk ‘stay at home’, karena masyarakat Indonesia banyak dari berbagai kalangan sosial dan ekonomi. Untuk masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah-kebawah atau bekerja yang mendapatkan upah dalam sehari, dengan keadaan seperti saat ini akan menyulitkan masyarakat tersebut karena mereka tidak dapat bekerja yang berati mereka tidak mendapatkan uang untuk kebutuhan mereka dan keluarganya. Jika saya dan keluarga saya berhasil membantu satu keluarga, saya akan mengajak saudara saya yang lain untuk berpartisipasi dalam membantu kebutuhan dan ekonomi untuk keluarga yang kurang mampu. Dengan begitu, akan mengurangi penyebaran dari virus covid-19 seperti yang dijelaskan dalam video tersebut dan virus covid-19 akan dapat terselesaikan dalam waktu cepat di Indonesia.

Jawaban saya lebih mencerminkan Informational Social Influence, karena saya merasa tergerak untuk berpartisipasi setelah melihat video tersebut. Sehingga Informasi dalam video tersebut, membantu saya dalam memilih dan membimbing perilaku yang menurut saya sesuai.

Menurut saya, jika saya dan keluarga memiliki sumber daya ekonomi yang cukup, tentu saya akan mengajak diri dan juga keluarga saya untuk turut membantu orang lain dengan sistem Bantu Satu Ajak Dua. Namun jelas hal ini memiliki resiko tertipu, oleh karena itu ada baiknya diterapkan terlebih dahulu kepada orang-orang sekitar yang lebih dikenal dan lebih membutuhkan. Bukan karena pilih kasih, namun saat ini keuangan memang sangat sulit bagi setiap orang jadi lebih baik begitu daripada uang yang diberikan malah sia-sia untuk dipermainkan di saat ada orang lain yang lebih butuh. Saya setuju dengan sistem ini karena memang ada banyak sekali orang yang tidak dapat menerapkan sistem kerja dari rumah (Work from Home (WHO)) seperti pedagang-pedagang yang berjualan di jalan, ataupun ojek online. Dan hal tersebut sangat mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. Jadi dengan adanya Bantu Satu Ajak Dua, kita dapat membantu mereka agar tidak kesusahan karena saat mereka keluar pun belum tentu mereka bisa menemukan pelanggan. Banyak orang sudah mulai mendiamkan diri di rumah dibanding keluar bverfoya-foya. Jadi bukannya mendapat penghasilan, mereka justru mendapat kemungkinan tertular virus COVID-19 ini.

Menurut saya, jawaban saya untuk pertanyaan tadi merupakan cermin dari Informational Social Influence. Informational Social Influence maksudnya pengaruh orang lain yang membuat kita membiasakan diri karena kita melihat mereka sebagai sumber informasi yang membimbing dan menuntun perilaku dan tata pendapat kita dimana saya menggunakan pendapat dan opini orang lain yang saya terima dari orang lain, baik melalui verbal ataupun tulisan sebagai panduan dari pendapat yang saya sampaikan di atas.

Saya sudah menonton video tersebut, apakah saya akan ikut berpartisipasi? Saya tidak bisa menentukan dengan pasti saya akan mengajak keluarga saya untuk mengikuti program tersebut. Karna pengaplikasian dari program tersebut tidak semudah seperti yang dijelaskan di video. Misalkan, jika kita membantu orang orang sekitar terhadap masalah finansial agar ia berdiam diri saja dirumah, atau mengundang orang untuk tinggal bersama kita agar dia tidak keluar rumah, menurut saya itu tidak semudah yang dibayangkan, kita tidak pernah tau siapa orang yang kita undang, kita juga tidak tau apakah orang itu akan menafsirkan dengan baik hal yang kita lakukan, selain itu menurut saya di Indonesia penerapan program seperti ini belum bisa diterapkan karna masyarakat Indonesia belum memiliki kesadaran untuk berprilaku jujur, bisa saja dengan adanya program Ini ada orang orang yang memanfaatkan kedaan seperti itu untuk mendapatkan keuntungan.

Menurut jawaban saya sesuai dengan teori Informational Social Influence,  saya tidak mengikuti program tersebut karna saya belum yakin apakah program itu efisien untuk dilakukan.

Saya dan keluarga saya tidak akan membantu dengan cara seperti itu, saya akan jelaskan. Metode “Bantu Satu Ajak Dua” secara teori merupakan metode yang bisa sangat berdampak, tetapi keluarga saya dan saya secara ekonomi kemungkinan tidak dapat membantu menafkahi keluarga lain untuk 14 hari. Dengan ekonomi sekarang menurun secara drastis, mengefek saham dan bisnis keluarga saya dan orang- orang lain. Tetapi bagi yang bisa secara ekonomi membantu keluarga lain, mohon lakukan metode “Bantu Satu Ajak Dua” tersebut.

Lebih mencerminkan informational social influence karena informational social influence merupakan pengaruh orang lain yang membuat kita menyesuaikan diri karena kita melihat mereka sebagai sumber informasi untuk membimbing perilaku kita. Dalam video tersebut diberikan informasi cara membantu bagi orang yang ingin membantu tetapi tidak tahu bagaimana caranya.

Ya, saya akan berpartisipasi mengikuti cara tersebut serta mengajak keluarga saya, karena hal itulah yang akan membantu banyak orang yang kesulitan akan ekonomi saat kondisi seperti ini diluar sana. Dengan kita membantu satu orang, lalu mengajak dua orang lainnya untuk membantu dan seterusnya, dengan begitu mereka yang harus keluar demi mendapatkan pemasukan akan bisa juga melakukan aksi stay at home yang dimana akan membantu juga mengurangi jumlah kasus covid-19 ini.

Jawaban saya dari pertanyaan sebelumnya merupakan cermin dari informational social influence, dimana saya mendapatkan informasi mengenai gerakan tersebut di media sosial, sehingga saya tertarik dan tergerak untuk melakukan hal tersebut.

Ya, saya sangat tertarik untuk ikut ajakan tersebut. Apalagi seperti yang kita lihat di media banyak disebutkan bahwa yang menjadi korban dari self quarantine adalah warga yang mengandalkan pendapatan harian mereka. Walaupun awalnya akan sangat sulit untuk mengajak orang lain tapi jika kita suguhkan video seperti itu bisa merubah pikiran mereka, saya pastinya akan mengajak tetangga kanan-kiri saya.

Jawaban saya tadi adalah cerminan dari Informational Social Influence, seperti yang saya baca di ppt Informational Social influence ini dipengaruhi oleh orang lain yang membuat kita merasa menjadi lebih akurat dan benar berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat,pada ajakan di video tersebut informasi yang diberikan adalah dampak corona pada ekonomi pekerja informal yang ternyata sangat besar jadi dari informasi itu muncul lah ajakan tersebut dan dari situ saya mencontoh perilaku tersebut.

Iya, saya akan mengajak kerabat saya untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Karena, melihat dari segi kemanusiaan, mereka juga terpaksa untuk tetap melakukan yang mereka lakukan.

Normative Social Influence. Saya akan lebih memilih untuk membantu dengan jarak jauh, lewat media sosial. Namun, kalau memang yang dibutuhkan adalah partisipasi secara langsung, saya juga siap membantu.

Ya, setelah saya menonton video di atas, saya merasa tertarik dengan gerakan “Bantu Satu Ajak Dua” di atas. Karena cara tersebut efektif dan mudah dilakukan, melihat orang di sekitar kita banyak sekali yang masih harus ke luar rumah untuk mencukupi kebutuhan ekonomi mereka. Jadi kita bisa membantu 1 orang yang ada di sekitar kita untuk kita bantu secara finansial maupun kebutuhan pangan dan menjamin 1 keluarga tersebut untuk tetap di rumah selama 14 hari lalu mengajak 2 orang lainnya untuk melakukan hal yang sama yaitu bantu 1 ajak 2. Sehingga banyak keluarga yang terbantu untuk tetap di rumah. Selain gerakan ini bisa dilakukan secara langsung dan nyata, gerakan ini juga dapat meminimalisir penyebaran covid19 yang ada di Indonesia.

Menurut saya, jawaban saya di atas merupakan cerminan dari Informational Social Influence. Karena tindakan saya terpengaruh oleh narator yang saya lihat sebagai sumber informasi yang tepat sehingga saya percaya dengan gerakan yang dikatakan oleh narator dan menyetujuinya.

Mungkin saya akan mengajak orangtua saya untuk melakukan metode tersebut. Jadi disini saya menjawab YA. Tapi ada hal yang perlu menjadi consideration kami karena kami juga membutuhkan bahan pangan dan lainnya untuk masa karantina ini, dan mungkin juga ada kebutuhan lain yang mendesak yang memerlukan jumlah uang yang tidak sedikit.

Jawaban saya merupakan cerminan dari Informational Social Influence karena saya juga meminta pendapat dari kedua orangtua saya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan gerakan ini.

Ya, saya tertarik untuk berpartisipasi dan akan mengajak keluarga yang berkecukupan untuk ikut berpartisipasi juga. Alasan nya menurut saya adalah karena konsep bantu satu ajak dua yang diterangkan di video terkait terdengar sangat masuk akal dan sangat mungkin untuk di aplikasiskan, selain itu menurut saya, cara ini akan memberi impact yang signifikan dalam mencegah pelonjakan penularan covid-19.

Jawaban saya merupakan cerminan dari informational social influence karena dalam hal ini, pengaruh dari orang lain (dalam hal ini pembuat video) saya lihat sebagai sumber informasi yang mendorong saya untuk conformkarena saya percaya bahwa interpretasi mereka dalam hal ini lebih tepat dibandingkan interpretasi saya senidiri. Maka dari itu, saya menjadikan mereka sebagai dasar dalam pengambilan tindakan saya di hal ini.

Tidak, karena meski konsepnya baik tapi akan terlalu berat dan sulit untuk berjalan sesuai rencana. Menurut saya Indonesia bukanlah negara yang memiliki banyak orang semampu itu. Jumlah orang yang mampu untuk menghidupi sebuah keluarga selama 2 minggu menurut saya sangatlah sedikit. Saya rasa jumlah keluarga yang mampu harus cukup juga untuk membantu semua keluarga tidak mampu di Indonesia. Misalkan saya setuju menghidupi sebuah keluarga selama 2 minggu, artinya saya harus mengajak 2 orang teman saya untuk berbuat hal sama. Lalu bagaimana jika teman saya tidak mau? Bagaimana jika teman saya tidak mampu menghidupi sebuah keluarga selama 2 minggu? Otomatis rantainya akan terputus. Saya rasa terlalu ektrim jika yang diminta adalah menghidupi sebuah keluarga selama 2 minggu. Jika jumlah keluarga yang mampu jauh lebih sedikit dari yang mampu pun akan percuma saja karena keluarga yang tidak dibantu akan keluar dan penyebaran virus korona pun akan berlanjut dan jika begitu maka bisa jadi setelah 2 minggu, penyebarannya masih banyak dan keluarga yang tadinya dibantu selama 2 minggu pun keluar karena jatah 2 minggunya sudah habis dan harus mencari makan sendiri lagi. Bisa jadi keluarga yang dibantu ini juga ikut terkena virus korona.

Informative social influence karena jawaban saya berdasarkan data dari orang lain seperti jumlah penduduk mampu dan tidak mampu, pandangan orang lain bahwa Indonesia negara berkembang sehingga tidak kuat secara ekonomi, orang-orang disekitar saya yang kurang mampu yang suka mengeluhkan ekonomi mereka dan orang mampu di kelompok pengumpul bantuan sosial teman ayah saya. Untuk data Indonesia tidak memiliki banyak orang berekonomi kuat, ini karena saya percaya pendapat orang lain yang ahli di bidang tersebut, yang mengumpulkan data yang saya percaya berdasarkan fakta dan saya sering melihat di berita internet tentang daerah kumuh yang banyak di Indonesia. Saya mempercayai data dan pendapat orang lain dalam berita. Untuk orang kurang mampu yang suka mengeluh pun banyak sekali karena saya tinggal di desa. Karena masalah korona, banyak dari mereka yang tidak dapat menghasilkan uang. Ada juga orang mampu di organisasi ayah saya yang hanya sedikit, mengeluhkan hal yang sama. Oleh karena itu saya percaya dengan apa yang saya dengan dan lihat bahwa orang tidak mampu banyak dan orang mampu sedikit dan dalam masalah korona ini juga dirugikan sehingga tidak dapat membantu orang lain. Di organisasi ayah saya pun pernah dibahas untuk membantu keluarga yang kekurangan tapi kami hanya dapat membantu untuk paling lama 3 hari perkeluarga, itu pun dengan anggota organisasi yang kuat seperti pemilik Pelabuhan. Oleh karena itu saya percaya opini dan perilaku yang mereka tunjukkan pada saya, memperkuat pendapat saya mengenai proyek Bantu 1 ajak 2 tidak akan berjalan lancar / akan putus rantainya dengan cepat.

Ya, karena jika dengan membantu mereka bisa menekan angka penyebaran wabah covid-19, kenapa tidak? Namun, yang ditakutkan adalah apakah orang yang kita bantu tersebut akan benar-benar mengkarantinakan dirinya dan keluarganya setelah mendapat bantuan tersebut. Yang bisa menjamin bahwa orang yang kita bantu akan menepati janjinya adalah orang itu sendiri. Karena bisa aja bantuan yang telah diberikan dapat disalah gunakan.

Jawaban saya termasuk Informational Social Influence. Seperti defenisinya yang terdapat di buku, bahwa Informational Social Influence adalah pengaruh dari orang lain yang menuntun kita untuk menyesuaikan diri karena kita melihat mereka sebagai sumber informasi untuk membimbing perilaku kita; kita menyesuaikan karena kita percaya bahwa interpretasi orang lain dari situasi ambigu lebih tepat daripada kita dan akan membantu kita memilih tindakan yang sesuai. Situasi covid-19 yang tidak jelas kapan berhentinya, membuat situasi menjadi ambigu. Di tengah-tengah ambiguitas ini terdapat pengaruh dari orang lain dalam bentuk video untuk membantu para pedagang yang kesusahan jika harus menjalani isolasi di rumah. Saya sebagai penonton dari video tersebut terpengaruh dan tergerak untuk ikut membantu sesama yang sedang kesulitan, karena saya percaya interpretasi orang lain pada situasi ini lebih tepat.

Ya, saya akan berpartisipasi mengikuti cara tersebut. Dan saya juga akan mengajak keluarga untuk berpartisipasi karena dengan cara seperti ini memungkinkan untuk mengurangi atau bahkan memutuskan penyebaran virus Covid-19. Dengan bantu satu ajak dua, dan dilakukan seterusnya oleh orang banyak akan sangat membantu berkurangnya orang yang keluar dari rumah dimana menyebabkan penularan virus terjadi dengan cepat.

Dari pertanyaan A, saya menjawab ya dan jawaban tersebut mencerminkan Informational Social Influence. Dimana saya melihart apa yang telah orang lakukan dan saya mendefinisikan dan menginterpretasi situasi tersebut kemudian menyesuaikan diri dan bertindak sesuai dengan contoh perilaku yang dapat diikuti/dilihat dari orang lain.

Tentu saya termotivasi untuk berpartisipasi, namun saya kira lebih sulit mengajak keluarga daripada mengajak atau mengikuti ajakan teman. Karena saya rasa mengajak keluarga akan aneh jika semua anggota keluarga tidak kompak mengikuti. Beda halnya jika mengajak atau mengikuti ajakan teman, karena ajakan atau mengajak teman bersifat lebih pribadi, berbeda dengan mengajak atau mengikuti ajakan keluarga yang bersifat lebih menyeluruh/terikat.

Untuk lingkungan keluarga saya rasa perilaku saya didasari norma keluarga yang mengharuskan saya untuk sebisa mungkin bertindak berdasarkan konsensus sehingga tidak muncul konflik. Tentu jika ada sikap anggota keluarga yang berlawanan dengan sikap anggota keluarga lain maka keadaan tentu terasa tidak nyaman. Ajakan atau mengajak teman tentu berbeda dengan keluarga. Ajakan atau mengajak teman bersifat pribadi, apakah kita masing-masing ingin melakukan hal yang sama. Jika tidak melakukan pun, akibatnya juga tidak sesignifikan di lingkungan keluarga. Maka, ajakan atau mengajak teman lebih bersifat informasional. Hanya sekedar informasi untuk berbuat serupa karena perbuatan yang diajak dianggap benar, penting, dan sebagainya oleh teman kepada teman. Namun, dengan catatan bahwa jika “teman” yang dimaksud adalah teman dekat, sahabat, dan lainnya, maka informasional bisa berubah menjadi normatif karena hubungan tersebut sudah lebih intim. Intim yang dimaksud di sini adalah sikap, perilaku, dan perasaan saling terpengaruh oleh sikap, perilaku, dan perasaan sesama pasangan agar dapat saling menerima. Maka, jika ada salah satu dari pasangan berbuat berlawanan dari ekspektasi, terjadilah disonansi.

Saya ingin mengajak keluarga saya untuk melakukan hal ini. Menolong orang lain adalah perbuatan yang terpuji. Menolong orang lain sekaligus menolong para tenaga medis merupakan dua kali lipat perbuatan terpuji. Seharusnya semua orang mendapatkan kesempatan untuk beristirahat di masa-masa social/physical distancing saat ini. Kesempatan beristirahat ini sangat baik digunakan untuk kembali memikirkan arah dan tujuan hidup, serta untuk melakukan beberapa hal yang tidak bisa dilakukan dalam kesibukan. Ada sebuah ungkapan yang saya percayai dan saya jadikan dasar setiap perbuatan saya (termasuk mengajak keluarga melakukan hal ini), yaitu “jadi jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi tidak melakukannya, ia berdosa”.

Jawaban saya lebih mencermikan Informational Social Influence daripada tipe influence yang lain. Saya mendapatkan informasi dari orang lain bahwa berbuat baik ada perbuatan yang terpuji. Dalam hal ini, melakukan gerakan bantu1ajak2 adalah perbuatan yang baik menurut standar sosial (dan moral). Akan tetapi, tidak melakukan gerakan ini juga bukanlah perbuatan yang jahat, sehingga lebih tidak mungkin jawaban saya adalah cermin dari Normative Social Influence, karena tidak melakukan gerakan ini tidak akan membuat saya/keluarga saya dikucilkan masyarakat.

Tidak, dikarenakan keluarga saya tetap harus keluar rumah dikarenakan ada suatu kebutuhan dan juga pekerjaan dan juga keluarga saya kurang percaya terhadap ojek online yang membuat mereka lebih memilih untuk pergi beli sendiri. Jadi tidak mungkin saya mengajak keluarga saya untuk berpartisipasi dengan cara tersebut.

Menurut saya dari hasil pilihan jawaban saya, termasuk cermin dari Normative social influence. Normative social influence adalah dimana “menyesuaikan orang lain”, yang dimana keluarga saya sendiri mengikuti apa yang teman orang tua saya lakukan yang mungkin termakan oleh berita-berita yang ada untuk mencegah hal buruk apapun yang terjadi.

Untuk keadaan saat ini, saya belum akan mengikuti cara ini. Karena banyak alasan yang tidak mendukung. Keadaan Indonesia saat ini, banyak orang yang memanfaatkan orang lain dan banyak juga yang mengalami krisis kepercayaan, cara ini tidak akan mudah. Lalu banyak juga tagihan-tagihan yang masih berjalan. Anggap saja 1 keluarga disokong kebutuhan pokoknya, tetapi bagaimana jika keluarga ini memikirkan bagaimana untuk membayar tagihan yang akan datang 2 minggu lagi? tetap saja ia harus pergi keluar untuk bekerja, jadi caranya tidak efisien lagi. Kecuali Indonesia sudah berada ditahap tagihan sangat diringankan, dan tidak ada orang yang hanya memanfaatkan satu sama lain. Mungkin cara ini akan bekerja.

Menurut saya jawaban saya merupakan cerminan dari Informational Social Influence, karena saya merasa saya hanya menangkap ide/informasi yang disampaikan pada video tersebut sebagai panduan informasi lebih saya saja, untuk menganalisa apa tindakan yang akan saya lakukan, dan juga karena saya menjawab untuk sekarang saya tidak ikut melakukan cara diatas.

Ya, saya tertarik untuk berpatisipasi dalam gerakan tersebut. Bahkan, keluarga saya sudah melakukan gerakan tersebut. Saat ini om saya sedang tinggal di rumah saya dalam 14 hari karantina. Om saya bekerja dalam bidang jasa dimana ia akan dibayar ketika ada pelanggan, oleh karena itu ia mau tidak mau harus keluar rumah untuk mencari uang. Karena kami peduli pada om saya, kami mengajak ia tinggal dirumah kami dan membiayai kebutuhan pokoknya. Setelah melakukan hal tersebut, saya mengajak teman-teman saya untuk melakukan hal yang sama

Jawaban saya merupakan cermin dari Informational Social Influence, dimana orang lain mempengaruhi perbuatan kita karena kita menggangap bahwa informasi yang mereka berikan lebih benar dan dapat dipercaya. Saya merasa bahwa influensi dari pencipta gerakan “Bantu Satu Ajak Dua” membuat saya berpikir bahwa gerakan yang ia lakukan adalah hal tepat yang harus dilakukan dalam epidemi ini dan pantas diikuti. Oleh karena itu, saya ikut melakukan gerakan yang sama dan mengajak orang lain untuk mengikutinya juga.

Ya, saya akan mencoba untuk berpartisipasi mengikuti cara tersebut karena di situasi seperti ini bukan lagi menjadi tanggungjawab pemerintah saja, melainkan menjadi tanggungjawab kita bersama untuk menunjukan sisi kemanusiaan kita. Namun, saya kurang setuju jika bantuan yang diberikan berupa materi secara mentah. Saya lebih setuju jika bantuan berupa bahan makanan pokok seperti beras, minyak, gula, sirup, dan berbagai bahan makanan lain yang dapat bertahan lama dan pasti dibutuhkan.

Menurut saya jawaban saya merupakan cermin dari Informational Social Influence karena jawaban saya dipengaruhi oleh video tersebut dimana kita diajak untuk membantu orang lain dengan alasan alasan yang masuk akal seperti kepentingan bersama, yaitu mencegah penyebaran virus ini lebih besar lagi. Selain itu, keputusan yang saya ambil juga berdasarkan kebiasaan yang diajarkan oleh orangtua saya untuk membantu orang lain jika kita mampu. Jadi, jawaban tersebut juga dipengaruhi oleh interpretasi orangtua saya sebagai sumber yang dapat dipercaya, dalam keadaan seperti ini.

Ya saya ingin mengikuti cara tersebut karena menurut saya pribadi, dengan membantu orang lain maka kita telah menolong orang yang lebih berkekurangan dari kita dan kita pun mendapat berkat. Orang yang telah terbantu pun pasti merasa sangat berterima kasih dan lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas. Saya akan meyakinkan orang tua saya untuk membantu orang di pinggiran kota, karena dari yang saya lihat orang di pinggiran masih kurang sadar dengan situasi sekarang atau mungkin mereka tidak memiliki pilihan lain karena tidak mendapat bantuan perlengkapan dan dana. Sehingga kita dapat membantu pemerintah mempercepat proses penurunan kasus COVID-19 ini. Dan tidak lupa juga mengajak teman untuk melakukan hal yang sama.

Jawaban saya di atas mencerminkan Informational Social Influence karena dari informasi mengenai “Bantu Satu Ajak Dua” tersebut saya membuat keputusan untuk mengikuti hal tersebut. Karena sebelumnya saya masih bingung dengan cara apa saya harus membantu selain stay at home, dilain sisi dengan situasi yang tidak pasti ini kita cenderung mengikuti orang atau kelompok yang kita yakini lebih ahli.

Ya, saya akan mengajak keluarga saya untuk berpartisipasi dengan cara tersebut. Karena menurut saya sekarang ini sangatlah penting bagi kita untuk melakukan self-quarantine ataupun social distancing untuk membantu memperlambat penyebaran wabah covid-19 ini.

Menurut saya jawaban saya termasuk ke dalam normative social influence karena saya berpartisipasi dalam ajakan ‘bantu satu ajak dua’ agar keadaan sekarang ini menjadi lebih baik.

Setelah menonton video tentang bantu1ajak2, saya akan terlebih dahulu mendiskusikan hal tersebut dengan keluarga saya. Kemungkinan besar keluarga saya akan sepakat untuk mengikuti ide dalam video tersebut. Karena, dalam melawan covid-19 yang mewabah sekarang ini, tidak hanya Social distancing yang perlu diterapkan tetapi juga untuk tetap di rumah kecuali keperluan mendesak. Dengan membantu mereka yang terpaksa keluar untuk mencari nafkah, tidak hanya memperkecil penyebaran tetapi juga melindungi mereka dari terpapar virus tersebut.

Menurut saya, jawaban saya merupakan cermin dari informational Social Influence. Informational Social Influence menggunakan opini dan tindakan mereka sebagai panduan opini dan tindakan saya. Tindakan saya dan opini mereka menegaskan kenyataan sosial bagi saya, dan saya menggunakan itu sebagai pedoman bagi tindakan dan opini saya.

Setelah menonton video ini, saya merada terdorong daninfluenceduntuk ikut berpartisipasi dalam tindakan tersebut. Ini merupakan cara yang menurut saya sangat efektif untuk menurunkan penyebaran wabah COVID-19 ini walaupun memang harus ada yang dikorbankan. Saya juga turut merasa prihatin dengan orang-orang yang tidak punya pilihan untuk tinggal di rumah seperti yang lain. Walaupun mereka tetap keluar rumah, hasil usaha mereka tersebut belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka karena banyak konsumen yang mereka harapkan membayar untuk bahan maupun jasa yang mereka tawarkan harus tinggal di rumah. Oleh sebab itu, cara yang terbaik untuk dilakukan adalah penjangkauan dari kita yang berkecukupan kepada mereka.

Menurut saya, jawaban saya mencerminkan Informational Social Influence karena saya berusaha menyesuaikan (conform) perilaku saya dengan perilaku orang yang saya anggap sebagai sumber informasi, yaitu pembicara dalam video. Hal ini sesuai dengan konsep yang saya baca dalam buku Social Psychology karya Aronson, Wilson, dan Akert. Sebenarnya, bisa juga menjadi Normative Social Influence jika individu tidak berfokus kepada pembicara dalam video, tetapi tujuannya lebih cenderung karena norma sosial, yaitu ketentuan dalam masyarakat mengenai seperti apa perilaku yang dapat diterima. Dalam hal ini, norma yang mendorong untuk berpartisipasi adalah saling tolong-menolong jika kita punya kesempatan, bukan hanya karena situasi tertentu.

Saya sendiri mungkin akan mempertimbangkan untuk melakukannya, namun dengan orang tua sendiri saja pasti tidak mengizinkan, mengapa? Karena orang tua saya mempunya pendapat “jika tidak kenal, kenapa harus memantu?” serta tidak mencukupi sumber ekonomi yang memadai untuk membantu satu keluarga dikarenakan ayah saya sudah pensiun dan ibu saya berhenti menjadi catering sementara karena COVID-19

Informational social influence, karena saya bergantung dengan apa yang akan orang tua saya lakukan.

When we are verbalizing in the aspect of family I would ecstatically join into forces in availing my family members deal with the current situation of this major outbreak. The whole point that I grasped from having optically canvassed the video is that it accentuates in availing the society to circumscribe the current state of physical contact as we are vigilant that the covid-19 virus transmits through air particles and can facilely infect a major quantity of the human population. Having kenned the subsisting fact that not all of my elongated family gains the opportune financial status to sustain an adequate living through this pandemic will involuntary affect my decision in taking action to lend them an availing hand as elaborated in the following youtube video.As For my perspective I circumscribe the degree of me availing to my family members only; because if I were to be rational in this occurrence the fact that I am still financially fortified through my parents make it infeasible to me to lend an availing hand to yet strangers that I have no connections through.

My answers above are more pointed to the construal of Informational Normative Influence; Informational Normative influence is the vicissitude in opinions or demeanor that occurs when we conform to people who we believe have precise information. We predicate our notions on those presented to us. Why I decided on presenting my conceptions under the category Informational Normative Influence, is due to the fact that I utilized the facts that were exhibited and I predicated my action pertaining to the current conditions that are more liable to be dealt with the substratum of understanding the subsisting situations.

Ya, saya akan berusaha untuk ikut mengajak keluarga dan teman-teman saya untuk mengikuti/berpartisipasi dalam kegeiatan tersebut dengan tujuan untuk menghambat kecepatan penyebaran virus dan sedikit membantu para medis yang telah bersusah payah untuk menyembuhkan orang-orang yang terjangkit virus. Jika kita membantu orang-orang yang harus terpaksa keluar rumah untuk mencari nafkah, memberikannya bahan makanan yang dasar seperti beras,dsb untuk sampai 14 hari kemudian, maka mereka pun akan tinggal tetap dirumah dan tidak terjangkit virus, dan dengan perlahan-lahan akan memperlambat tingkat kecepatan penyebaran virus corona di Indonesia.

Saya menjawab “ya” dan menurut saya,keputusan saya lebih mencerminkan Informational Social Influence. Dimana saya memutuskan untuk berpartisipasi dikarenakan adanya data yang diperlihatkan oleh para ahli yang mendata perkembangan situasi yang terjadi tentang penyebaran virus tersebut. Di dalam video itu juga diperlihatkan dimana tidak semua orang bias tinggal dan karantina di rumah masing-masing. Ada orang-orang yang terpaksa keluar rumah untuk mencari nafkah, untuk supaya bias bertahan hidup. Dan mereka melakukan itu bukan karena tidak peduli dengan wabah/virus ini tapi mereka tidak mempunyai pilihan yang lain. Dan oleh karena itu, saya ingin berpartisipasi dalam kegiatan ini supaya walaupun dengan secara tidak langsung, saya bias membantu mereka dan pemerintah.

 

Juneman Abraham