Mengatasi Perangkap Perbandingan

Masih ingat artikel sebelumnya mengenai Perbandingan Sosial, Kebahagiaan dan Pernikahan?  Salah satu alasan mengapa seseorang berusaha keras menjalani gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan ekonominya ialah karena mereka membandingkan diri ke atas.

Sebetulnya, perbandingan ke atas tidak selalu berujung buruk. Adakalanya perbandingan ke atas membuat kita menjadi tambah semangat, jadi termotivasi menjalani hidup. Misalnya, seorang penulis yang melihat bahwa rekan satu levelnya telah menghasilkan 5 karya dalam setahun, sedangkan dirinya baru menghasilkan 3 karya. Informasi tersebut bisa membuat si penulis menjadi makin semangat unutk mengerjakan karya ke-4 nya.

Masalahnya, di jaman media sosial seperti sekarang ini, sangat mudah sekali kita melakukan perbandingan ke atas. Coba lihat saja Instagram, twitter atau facebook Anda. Rasanya bertebaran sekali selebgram, selebtwit, atau teman yang memberikan contoh mengenai gambaran hidup yang “ideal”. Seakan gaya hidup “sarapan di Jakarta, makan siang di Singapore, makan malam di Tokyo”, atau “pagi ngopi di café, siang makan di bistro, malam clubbing”, adalah hal yang lumrah. Tidak banyak yang tahu bahwa para selebgram bekerja keras agar mendapatkan foto yang instagramable. Tentu saja, saat posting, mereka tidak mengeluhkan betapa sedikit jam tidur mereka karena berusaha menyelesaikan tiap item permintaan dari perusahaan yang mengajak mereka kerjasama. Apa akibatnya bagi Anda sang pengamat media sosial? Jika tidak hati-hati, kita bisa berakhir seperti perempuan dalam contoh di tulisan sebelumnya: membandingkan, makin tidak percaya diri, dan berakhir membelanjakan uang lebih banyak dari yang mampu kita keluarkan.

Gambar diambil dari: https://mycitylife.ca/people/health/social-medias-body-mage-dr-jennifer-mills/

Lalu, bagaimana melindungi diri dari jebakan perbandingan sosial? Seorang reporter Psychology Today, Rebecca Webber (2017) merangkum beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menghindarkan diri dari jebakan perbandingan sosial. Berikut ini beberapa hal praktis yang bisa Anda lakukan:

  1. Gunakan sosial media secara tepat, untuk menjalin relasi, bukan sekedar membandingkan diri kita dengan orang lain. Jika ada content yang mengganggu atau membuat self-esteem Anda turun, gunakan fitur “mute” atau unfollow. Hindari scrolling tanpa arah, cobalah untuk menjalin relasi yang sungguhan, dengan teman-teman virtual Anda yang sudah ada sebelumnya.
  2. Bandingkan diri dengan orang yang satu level dengan Anda. Perbandingan sosial tidak selalu merugikan. Jika ingin membandingkan diri dengan orang lain, carilah orang yang dekat dengan Anda. Seumuran, satu profesi, yang kira-kira berada dalam tingkat yang sama dengan Anda. Hindari membandingkan diri dengan orang yang jelas-jelas berada di tingkatan paling atas dari tangga sosial.
  3. Syukuri apa yang Andamiliki dalam hidup Anda sekarang. Likes dan follow, serta benda-benda ber-merk bukan segalanya dalam hidup ini. Ingatlah bahwa Anda masih memiliki teman, sahabat, keluarga, dan pekerjaan/pendidikan yang sedang Anda rintis.
  4. Bandingkan diri Anda dengan diri Anda sendiri di masa lalu. Perbandingan ini memungkinkan Anda mengevaluasi diri dan mengatur strategi selanjutnya.
  5. Ikut bahagia dengan rekan Anda yang lebih sukses. Iri hati hanya akan membuat Anda lelah. Cobalah untuk melihat lagi apa yang Anda kagumidari rekan tersebut dan turut berbahagia tentang kondisinya. Tentu saja, dengan tulus ya. Nanti Anda sendiri yang akan merasakan dampak positifnya.

 

Jadi, siap mengatasi perangkap perbandingan? Selamat mencoba dan semoga sukses!

 

Referensi:

Webber, R. (2017). The Comparison Trap. Diunduh dari: https://www.psychologytoday.com/us/articles/201711/the-comparison-trap

*gambar diambil dari: https://mycitylife.ca/people/health/social-medias-body-mage-dr-jennifer-mills/

 

Penulis: Pingkan C. B. Rumondor, M.Psi., Psikolog, dosen psikologi klinis di Universitas Bina Nusantara, mahasiswa S3 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Praktek di Lab & Psychological Services, Universitas Bina Nusantara.

Pingkan C. B. Rumondor