SHERLY PURNAMA SARI1601266513

 

BAB I PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang Masalah

 

Manusia di dunia tidak hidup sendiri, karena manusia adalah makhluk sosial.Yang disebut dengan makhluk sosial adalah manusia yang memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan saling berinteraksi dengan manusia lainnya. Tanpa ada kehadiran orang lain dalam kehidupan seseorang maka ia akan merasa kesepian.

Kesepian atau loneliness didefinisikan sebagai perasaan kehilangan dan ketidakpuasan yang dihasilkan oleh ketidaksesuaian antara jenis hubungan social yang kita inginkan dan jenis hubungan sosial yang kita miliki (Perlman & Peplau dalam Taylor, Peplau & Sears, 2012).Kesepian merupakan suatu fenomena yang sering sekali terjadi (Check, Perlman, dan Malamuth, 1985), dan merupakan salah satu situasi yang paling menyakitkan yang dialami manusia (Ftzgibbons, 1989). Hampir semua manusia pernah mengalamai yang namanya kesepian namun perasaan tersebut akan berbeda antar satu individu dengan individu lainnya (Matondang, 1991).

Weiss (dalam Peplau dan Perlman, 1982) mengemukakan bahwa kesepian tidak disebabkan oleh kesendirian, namun disebabkan karena tidak terpenuhinya kebutuhan akan hubungan atau rangkaian hubungan yang pasti, atau karena tidak tersedianya hubungan yang dibutuhkan oleh individu tersebut. Kesepian biasanya disertai penyebab negatif, yaitu perasaan depresi, kecemasan, ketidakbahagiaan, ketidakpuasan yang diasosiasikan dengan sikap pesimis, menyalahkan diri sendiri, dan rasa malu (Anderson et al; Jackons, Soderlind, dan Weiss; Jones, Carpenter, dan Quintana; dalam Baron dan Byrne, 2001).

Peplau dan Perlman (1982) mengatakan bahwa terdapat 3 pengertian penting dari kesepian, yaitu sebagai berikut:

  1. Pendekatan Need for Intimacy

 

Pendekatan ini menekankan mengenai kebutuhan seseorang dalam berhubungan dekat dengan orang lain. Definisi kesepian dari pendekatan ini adalah:

“Loneliness caused not by being alone but being some without definite needed relationship or set of relationship. Loneliness appears always to be a reponse to the absent of some particular type of relationships or more accurately, a response to the absence of some particular relational provision.”

(Weiss, dalam Peplau dan Perlman, 1982:4)

Menurut pendekatan ini, kesepian adalah akibat tidak terpenuhinya kebutuhan akan akrab dengan orang lain.

 

  1. Pendekatan Cognitive Processes

Pendekatan ini melibatkan persepsi seseorang dan evaluasi hubungan sosialnya.Kesepian dalam pendekatan ini menyatakan adanya perbedaan atau kesenjangan antara hubungan sosial yang individu inginkan dan yang individu capai. Definisi kesepian dari pendekatan ini adalah: “..an individual emotional and cognitive reason to having fewer and less satisfying relationships than he or she desires.”

(Archibald, Bartholomew, dan Marx, dalam Baron dan Byrne, 2004:304)

Menurut pendekatan ini, kesepian merupakan hasil dari persepsi dan evaluasi individu terhadap hubungan sosial yang dianggap tidak memuaskan.

Menurut Sermat, kesepian timbul akibat adanya perbedaan antar jenis hubungan yang dialami individu pada saat itu dengan jenis hubungan yang dia inginkan.

  1. Pendekatan Social Reinforcement

Pendekatan ini mengatakan bahwa kesepian disebabkan oleh kurangnya reinforcement dari lingkungan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang merasa kesepian jika interaksi sosial yang ia alami kurang menyenangkan dan tidak dapat menghasilkan reinforcement. Definisi kesepian dari pendekatan ini adalah:

“..is a feeling of deprivation caused by the lack of certain kinds of human contacts the feeling that someone is missing. And since one has to have had some expectations of what it was that would be in this empty space, loneliness can further be characterized as the sense of deprivation that comes when certain expexted human relationships are absent” (Gordon, dalam Peplau dan Perlman, 1982: 4) .

Menurut pendekatan ini, hubungan sosial yang memuaskan dapat dianggap sebagai suatu bentuk reinforcement dan ketiadaan reinforcement ini dapat menimbulkan kesepian.

Dapat disimpulkan bahwa kesepian adalah perasaan yang sangat tidak menyenangkan bagi setiap individu. Banyak hal yang menjadi faktor penyebab terjadinya kesepian seperti berakhirnya suatu hubungan dekat seperti kematian, perceraian, putus cinta, serta perpisahan secara fisik yang kadang membawa kita ke arah kesepian,kemampuan yang kurang untuk bersosialisasi dengan individu lain, faktor kualitas dari hubungan sosial yang rendah, faktor perubahan situasional juga dapat menimbulkan kesepian,status sosial ekonomi, dan karakteristik latar belakang individu. Setiap individu memiliki cara masing-masing untuk mengurangi rasa kesepian, salah satunya adalah dengan menggunakan internet.

Manusia melakukan kegiatan komunikasi dengan manusia lain melalui berbagaicara dan media, salah satunya adalah dengan media Internet. Komunikasi dalam Internet disebut computer mediated communication atau CMC.CMC memfasilitasi manusia dengan aplikasi yang beragam, salah satunya media sosial. Media sosial terdiri dari collaborative projects, blogs and microblogs, content communities, social networking sites, virtual game worlds, dan virtual social worlds (Kaplan&Heinlein, 2010). Kebanyakan dari individu yang menggunakan internet adalah pengguna situs jejaring sosial. Situs jejaring sosial adalah layanan berbasis web yang memungkinkan individu untuk (1) membangun suatu profil umum atau semi-umum dalam sistem yang terbatasi, (2) melihat daftar pengguna lain yang berbagi informasi, (3) melihat dan melintasi daftar  teman dan orang lain di dalam sistem tersebut (Boyd & Ellison, 2007).

Namun, dengan adanya internet dan situs jejaring sosial dapat membawa dampak buruk terhadap individu karena mereka mengalami kecanduan internet. Kecanduan internetadalah kondisi dimana individu menggunakan internet secara berlebihan dan sering mengabaikan kegiatan lain yang lebih penting.

Menurut Maressa Orzack, direktur dari Computer Addiction Study di RumahsakitMcLean milik Universitas Harvard, antara 5-10% dari pengguna Internet menderita semacam ketergantungan terhadap Web (Web dependency). Ada penelitian lain yang mendukung bahwa kecanduan internet membawa dampak buruk yaitu menurut Center of Internet Addiction Recovery, para pecandu Internet menderita problem-problem emosi seperti depresi dan gangguan kecemasan dan seringkali menggunakan dunia fantasi Internet untuk secara psikologis lari dari perasaan tidak enak atau situasi stress.

 

  • Pertanyaan Penelitian
  1. Apakah ada pengaruh dari loneliness terhadap penggunaan internet yang berlebihan?
    • Tujuan Penelitian
  2. Untuk mengetahui pengaruh loneliness terhadap penggunaan internet yang berlebihan.
  3. Agar bisa meningkatkan kesadaran individu akan pentingnya kegiatan lain selain menggunakan internet.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Loneliness

Manusia merupakan makhluk sosial yang dalam keseharian hidup sangat membutuhkan individu lain. Dari sisi gender, seorang lelaki pasti membutuhkan perempuan dalam mencari keturunan dan begitupun sebaliknya.Dari sisi kemasyarakatan, manusia hidup berkelompok adalah cara paling baik dan sangat bermanfaat dalam kehidupan.Pada dasarnya manusia diciptakan Tuhan untuk selalu bersama dengan manusia yang lainnya baik perempuan maupun lelaki.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tidak semua manusia mampu berinteraksi dengan baik dengan individu lainnya. Banyak hal yang menjadikan kita sebagai manusia terbatas dalam berinteraksi antar sesama, antara lain dari segi bahasa, agama, kepribadian, dan lain sebagainya. Karena komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam berinteraksi dengan sesama maka aka nada dampak positif maupun negatif dalam berinteraksi.

Kurangnya komunikasi atau interaksi dengan sesama dapat menyebabkan seseorang mengalami kesepian ( Loneliness ). Loneliness adalah suatu perasaan yang tidak menyenangkan akibat dari kurangnya interaksi sosial yang dialami individu baik secara kualitas maupun kuantitas.

Pengertian loneliness lainnya adalah Loneliness diartikan oleh Peplau & Perlman (dalam Brage, Meredith & Woodward, 1998) sebagai perasaan dirugikan dan tidak terpuaskan yang dihasilkan dari kesenjangan antara hubungan sosial yang diinginkan dan hubungan sosial yang dimiliki. Deaux, Dane & Wrightsman (1993) menyimpulkan bahwa ada tiga elemen dari defenisi loneliness yang dikemukakan oleh Peplau & Perlman, yaitu :

  1. merupakan pengalaman subyektif, yang mana tidak bisa diukur dengan observasi sederhana.
  2. lonelinessmerupakan perasaan yang tidak menyenangkan.
  3. secara umum merupakan hasil dari kurangnya/terhambatnya hubungan sosial.

Menurut Robert Weiss (dalam Santrock, 2003), loneliness merupakan reaksi dari ketiadaan jenis-jenis tertentu dari hubungan. Loneliness terjadi ketika adanya ketidaksesuaian antara apa yang diharapkan seseorang dan kenyataan dari kehidupan interpersonalnya, sehingga seseorang menjadi sendiri dan kesepian (Burger, 1995). Selanjutnya, loneliness akan disertai oleh berbagai macam emosi negatif seperti depresi, kecemasan, ketidakbahagiaan, ketidakpuasan, menyalahkan diri sendiri (Anderson, 1994) dan malu (Jones, Carpenter & Quintana, 1985).

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa loneliness merupakan suat perasaan yang tidak menyenangkan yang disebabkan karena kurangnya kemampuan diri dalam interaksi sosial, ketidaksesuaian antara hubungan sosial yang diharapkan dengan kenyataan kehidupan interpersonalnya yang dimiliki seseorang.

2.2 Jenis-jenis Loneliness

Weiss (dalam Santrock, 2003) menyebutkan adanya dua bentuk loneliness yang berkaitan dengan tidak tersedianya kondisi sosial yang berbeda-beda, yaitu

  1. Isolasi emosional (emotional isolation) adalah suatu bentuk loneliness yang muncul ketika seseorang tidak memiliki ikatan hubungan yang intim; orang dewasa yang lajang, bercerai, dan ditinggal mati oleh pasangannya sering mengalami loneliness jenis ini.
  2. Isolasi sosial (social isolation) adalah suatu bentuk loneliness yang muncul ketika seseorang tidak memiliki keterlibatan yang terintegrasi dalam dirinya; tidak ikut berpartisipasi dalam kelompok atau komunitas yang melibatkan adanya kebersamaan, minat yang sama, aktivitas yang terorganisasi, peran-peran yang berarti; suatu bentuk loneliness yang dapat membuat seseorang merasa diasingkan, bosan, dan cemas.

Menurut Young (dalam Weiten & Lloyd, 2006) loneliness dapat dibagi menjadi dua bentuk berdasarkan durasi loneliness yang dialaminya, yaitu:

  1. Transient lonelinessyakni perasaan loneliness yang singkat dan muncul sesekali, yang banyak dialami individu ketika kehidupan sosialnya sudah cukup layak. Transient loneliness menghabiskan waktu yang pendek dan fase, seperti ketika mendengarkan sebuah lagu atau ekspresi yang mengingatkan pada seseorang yang dicintai yang telah pergi jauh (Meer dalam Newman & Newman, 2006).
  2. Transitional lonelinessyakni ketika individu yang sebelumnya sudah merasa puas dengan kehidupan sosialnya menjadi loneliness setelah mengalami gangguan dalam jaringan sosialnya tersebut (misalnya meninggalnya orang yang dicintai, bercerai atau pindah ke tempat baru).
  3. Chronic lonelinessadalah kondisi ketika individu merasa tidak dapat memiliki kepuasan dalam jaringan sosial yang dimilikinya setelah jangka waktu tertentu. Chronic loneliness menghabiskan waktu yang panjang dan tidak dapat dihubungkan dengan stressor yang spesifik. Orang yang mengalami chronic loneliness bisa saja berada dalam kontak sosial namun tidak memperoleh tingkat intimasi dalam interaksi tersebut dengan orang lain (Berg & Peplau, 1982). Sebaliknya, individu yang memiliki kemampuan sosial tinggi, yaitu meliputi mampu bersahabat, kemampuan komunikasi, kesesuaian perilaku nonverbal dan respon terhadap orang lain, memiliki sistem dukungan sosial yang lebih baik dan tingkat kesepian yang rendah (Rokach, Bacanli & Ramberan, 2000).

2.3 Penyebab Loneliness


Menurut Brehm et al (2002) terdapat empat hal yang dapat menyebabkan seseorang mengalami loneliness, yaitu :

  1. Ketidakadekuatan dalam hubungan yang dimiliki seseorang

Menurut Brehm et al (2002) hubungan seseorang yang tidak adekuat akan menyebabkan seseorang tidak puas akan hubungan yang dimiliki. Ada banyak alasan seseorang merasa tidak puas dengan hubungan yang tidak adekuat. Rubenstein dan Shaver (1982) menyimpulkan beberapa alasan yang banyak dikemukakan oleh orang yang loneliness, yaitu sebagai berikut :

1). Being unattached; tidak memiliki pasangan, tidak memiliki partner seksual, berpisah dengan pasangannya atau pacarnya.
2). Alienation; merasa berbeda, merasa tidak dimengerti, tidak dibutuhkan dan tidak memiliki teman dekat.

3). Being Alone; pulang ke rumah tanpa ada yang menyambut, selalu sendiri.
4). Forced isolation; dikurung di dalam rumah, dirawat inap di rumah sakit, tidak bisa kemana-mana.

5). Dislocation; jauh dari rumah (merantau), memulai pekerjaan atau sekolah baru, sering pindah rumah, sering melakukan perjalanan (dalam Brehm et al, 2002).

Dua kategori pertama dapat dibedakan menurut tipe loneliness dari Weiss yaitu isolasi emosional (being unattached) dan isolasi sosial (alienation). Kelima kategori ini juga dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya yaitu being unattached, alienationdan being alonedisebabkan oleh karakteristik individu yang loneliness, sedangkan forced isolation dan dislocation disebabkan oleh karakteristik orang-orang yang berada di sekitar lingkungan individu yang merasa loneliness.

  1. Terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan

Menurut Brehm et al (2002) loneliness juga dapat muncul karena terjadi perubahan terhadap apa yang diinginkan seseorang dari suatu hubungan. Pada saat tertentu hubungan sosial yang dimiliki seseorang cukup memuaskan.Sehingga orang tersebut tidak mengalami loneliness. Tetapi di saat lain hubungan tersebut tidak lagi memuaskan karena orang itu telah merubah apa yang diinginkannya dari hubungan tersebut. Menurut Peplau (dalam Brehm et al, 2002), perubahan itu dapat muncul dari beberapa sumber yaitu :

1). Perubahan mood seseorang

Jenis hubungan yang diinginkan seseorang ketika sedang senang berbeda dengan jenis hubungan yang diinginkan ketika sedang sedih. Bagi beberapa orang akan cenderung membutuhkan orangtuanya ketika sedang senang dan akan cenderung membutuhkan teman-temannya ketika sedang sedih.

 

2). Usia

Seiring dengan bertambahnya usia, perkembangan seseorang membawa berbagai perubahan yang akan mempengaruhi harapan atau keinginan orang itu terhadap suatu hubungan. Jenis persahabatan yang cukup memuaskan ketika seseorang berusia 15 tahun mungkin tidak akan memuaskan orang tersebut saat berusia 25 tahun.

3). Perubahan situasi

Banyak orang tidak mau menjalin hubungan emosional yang dekat dengan orang lain ketika sedang membina karir. Namun, ketika karir sudah mapan orang tersebut akan dihadapkan pada kebutuhan yang besar akan suatu hubungan yang memiliki komitmen secara emosional. Brehm et al (2002) menyimpulkan bahwa pemikiran, harapan dan keinginan seseorang terhadap hubungan yang dimiliki dapat berubah. Jika hubungan yang dimiliki orang tersebut tidak ikut berubah sesuai dengan pemikiran, harapan dan keinginannya maka orang itu akan mengalami loneliness.

  1. Self-esteem

Loneliness berhubungan dengan self-esteem yang rendah.Orang yang memiliki self-esteem yang rendah cenderung merasa tidak nyaman pada situasi yang beresiko secara sosial (misalnya berbicara didepan umum dan berada di kerumunan orang yang tidak dikenal). Dalam keadaan seperti ini orang tersebut akan menghindari kontak-kontak sosial tertentu secara terus menerus akibatnya akan mengalami loneliness.

  1. Perilaku interpersonal

Perilaku interpersonal akan menentukan keberhasilan individu dalam membangun hubungan yang diharapkan. Dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami loneliness, orang yang mengalami loneliness akan menilai orang lain secara negatif, tidak begitu menyukai orang lain, tidak mempercayai orang lain, menginterpretasikan tindakan dan intensi (kecenderungan untuk berperilaku) orang lain secara negatif, dan cenderung memegang sikap-sikap yang bermusuhan. Orang yang mengalami loneliness cenderung terhambat dalam keterampilan sosial, cenderung pasif bila dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami loneliness dan ragu-ragu dalam mengekspresikan pendapat di depan umum. Orang yang mengalami loneliness cenderung tidak responsif dan tidak sensitif secara sosial. Orang yang mengalami loneliness juga cenderung lambat dalam membangun keintiman dalam hubungan yang dimilikinya dengan orang lain. Perilaku ini akan membatasi kesempatan orang itu untuk bersama dengan orang lain dan memiliki kontribusi terhadap pola interaksi yang tidak memuaskan (Peplau & Perlman, Saks & Krupart, dalam Brehm et al, 2002).

  1. Atribusi penyebab
    Menurut pandangan Peplau dan Perlman (dalam Brehm et al, 2002) perasaan loneliness muncul sebagai kombinasi dari adanya kesenjangan hubungan sosial pada individu ditambah dengan atribusi penyebab. Atribusi penyebab dibagi atas komponen internal-eksternal dan stabil-tidak stabil. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Tabel 1
Penjelasan Loneliness Berdasarkan Atribusi Penyebab

sherly

Sumber: Shaver & Rubenstein (dalam Brehm et al, 2002) hlm: 413.

Tabel diatas menunjukkan bahwa individu yang mempersepsi loneliness secara internal dan stabil menganggap dirinya adalah penyebab loneliness sehingga individu lebih sulit untuk keluar dari perasaan loneliness tersebut.Sedangkan, individu yang mempersepsi loneliness secara eksternal dan tidak stabil berharap sesuatu dapat merubah keadaan menjadi lebih baik sehingga memungkinkann untuk keluar dari perasaan loneliness tersebut.

2.4 Perasaan Individu Ketika Mengalami Loneliness

Ketika mengalami loneliness, individu akan merasakan ketidakpuasan, kehilangan, dan distress. Namun, hal ini tidak berarti bahwa perasaan ini sama di setiap waktu. Faktanya menunjukkan bahwa orang-orang yang berbeda bisa saja memiliki perasaan loneliness yang berbeda dalam situasi yang berbeda pula (Lopata dalam Brehm et al, 2002).Berdasarkan survei mengenai loneliness yang dilakukan oleh Rubeinstein, Shaver & Peplau (dalam Brehm et al, 2002) diuraikan bahwa terdapat empat jenis perasaan yang dialami oleh orang yang loneliness, yaitu:

  1. Desperation

Desperation merupakan perasaan keputusasaan, kehilangan harapan, serta perasaan yang sangat menyedihkan sehingga seseorang mampu melakukan tindakan nekat. Beberapa perasaan yang spesifik dari desperation adalah:

(1) Putus asa, yaitu memiliki harapan sedikit dan siap melakukan sesuatu tanpa memperdulikan bahaya pada diri sendiri maupun orang lain,

(2) Tidak berdaya, yaitu membutuhkan bantuan orang lain tanpa kekuatan mengontrol sesuatu atau tidak dapat melakukan sesuatu,

(3) Takut, yaitu ditakutkan atau dikejutkan oleh seseorang atau sesuatu, sesuatu yang buruk akan terjadi,

(4) Tidak punya harapan, yaitu tidak mempunyai pengalaman, tidak menunjukkan harapan,

(5) Merasa ditinggalkan, yaitu ditinggalkan/dibuang seseorang, serta

(6) Mudah mendapat kecaman atau kritik, yaitu mudah dilukai baik secara fisik maupun emosional,

  1. Impatient Boredom

Impatient Boredom yaitu rasa bosan yang tidak tertahankan, jenuh, tidak suka menunggu lama, dan tidak sabar. Beberapa indikator Impatient Boredom seperti

(1) Tidak sabar, yaitu menunjukkan perasaan kurang sabar, sanagt menginginkan sesuatu,

(2) Bosan, yaitu merasa jemu,

(3) Ingin berada di tempat lain, yaitu seseorang yang merasa dirinya berada di tempat yang berbeda dari tempat individu tersebut berada saat ini,

(4) Kesulitan, yaitu khawatir atau cemas dalam menghadapi suatu keadaan,

(5) Sering marah, yaitu filled with anger, serta

(6) Tidak dapat berkonsentrasi, yaitu tidak mempunyai keahlian, kekuatan, atau pengetahuan dalam memberikan perhatian penuh terhadap sesuatu.

  1. Self-Deprecation

Self-Deprecation yaitu suatu perasaan ketika seseorang tidak mampu menyelesaikan masalahnya, mulai menyalahkan serta mengutuk diri sendiri. Indikator Self-Deprecation diantaranya

(1) Tidak atraktif, yaitu suatu perasaan ketika seseorang tidak senang atau tidak tertarik terhadap suatu hal,

(2) Terpuruk, yaitu sedih yang mendalam, lebih rendah dari sebelumnya,

(3) Bodoh, yaitu menunjukkan kurangnya intelegensi yang dimiliki,

(4) Malu, yaitu menunjukkan perasaan malu atau keadaan yang sangat memalukan terhadap sesuatu yang telah dilakukan, serta

(5) Merasa tidak aman, yaitu kurangnya kenyamanan, tidak aman.

  1. Depression

Depression menurut Davison (2004) merupakan tahapan emosi yang ditandai dengan kesedihan yang mendalam, perasaan bersalah, menarik diri dari orang lain, serta kurang tidur. Indikator Depression menurut Brehm et al (2002) yaitu,

(1) Sedih, yaitu tidak bahagia atau menyebabkan penderitaan,

(2) Depresi, yaitu murung, muram, sedih,

(3) Hampa, yaitu tidak mengandung apa-apa atau tidak ada sama sekali, tidak memiliki nilai atau arti,

(4) Terisolasi, yaitu jauh dari orang lain,

(5) Menyesali diri, yaitu perasaan kasihan atau simpati pada diri sendiri,

(6) Melankolis, yaitu perasaan sedih yang mendalam dan dalam waktu yang lama,

(7) Mengasingkan diri, yaitu menjauhkan diri sehingga menyebabkan seseorang menjadi tidak bersahabat, serta

(8) berharap memiliki seseorang yang spesial, yaitu individu mengharapkan memiliki seseorang yang dekat dengan individu dengan lebih intim.

2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loneliness

Faktor-faktor yang mempengaruhi loneliness diantaranya:

 

  1. Usia

Orang yang berusia tua memiliki stereotipe tertentu di dalam masyarakat.Banyak orang yang menganggap semakin tua seseorang semakin merasa loneliness.Tetapi banyak penelitian yang telah membuktikan stereotipe ini keliru.Berdasarkan penelitian Ostrov & Offer (dalam Brehm et al, 2002) ditemukan bahwa orang yang paling merasakan loneliness justru berasal dari orang-orang yang berusia remaja dan dewasa awal. Fenomena ini kemudian diteliti lagi oleh Perlman pada tahun 1990 (Taylor, Peplau & Sears, 2000) dan menemukan hasil yang sama bahwa loneliness lebih tinggi di antara remaja dan dewasa muda dan lebih rendah di antara orang-orang yang lebih tua. Menurut Brehm et al (2002) orang-orang yang lebih muda menghadapi banyak transisi sosial yang besar, seperti meninggalkan rumah untuk pertama kali, merantau, memasuki dunia kuliah, atau memasuki dunia kerja full time untuk pertama kalinya, yang mana semuanya ini dapat menyebabkan loneliness. Sejalan dengan bertambahnya usia, kehidupan sosial menjadi semakin stabil. Dengan bertambahnya usia seiring dengan meningkatnya keterampilan sosial seseorang dan menjadi semakin realistik terhadap hubungan sosial yang diharapkan.

  1. Status Perkawinan

Secara umum, orang yang tidak menikah lebih merasa loneliness bila dibandingkan dengan orang menikah (Freedman; Perlman & Peplau; dalam Brehm et al, 2002).Perbedaan ini diperhitungkan dengan membandingkan antara orang yang menikah dengan orang yang bercerai (Perlman & Peplau; Rubeinstein & Shaver dalam Brehm et al, 2002). Ketika kelompok orang yang menikah dan kelompok orang yang belum menikah dibandingkan, kedua kelompok ini menunjukkan level loneliness yang sama (Perlman & Peplau dalam Brehm et al, 2002). Berdasarkan penelitian ini Brehm menyimpulkan bahwa loneliness lebih merupakan reaksi terhadap kehilangan hubungan perkawinan (marital relationship) daripada ketidakhadiran dari pasangan suami/istri pada diri seseorang.

  1. Gender

Studi mengenai loneliness menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan loneliness antara laki-laki dan perempuan.Menurut Borys dan Perlman (dalam Brehm et al, 2002) laki-laki lebih sulit menyatakan loneliness secara tegas bila dibandingkan dengan perempuan.Hal ini disebabkan oleh stereotipe peran gender yang berlaku dalam masyarakat.Berdasarkan stereotipe peran gender, pengekspresian emosi kurang sesuai bagi laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan (Borys & Perlman, dalam Deaux, Dane & Wrightsman, 1993).

  1. Status sosial ekonomi

Weiss (dalam Brehm et al, 2002) melaporkan fakta bahwa individu dengan tingkat penghasilan rendah cenderung mengalami loneliness lebih tinggi daripada individu dengan tingkat penghasilan tinggi.

  1. Karakteristik Latar Belakang yang Lain

Rubeinsein & Shaver (dalam Brehm et al, 2002) menemukan satu karakteristik latar belakang seseorang yang kuat sebagai prediktor loneliness. Individu dengan orang tua yang bercerai akan lebih loneliness bila dibandingkan dengan individu dengan orang tua yang tidak bercerai. Semakin muda usia seseorang ketika orangtuanya bercerai semakin tinggi tingkat loneliness yang akan dialami orang tersebut ketika dewasa. Tetapi hal ini tidak berlaku pada individu yang orangtuanya meninggal ketika individu tersebut masih kanak- kanak, individu tersebut tidak lebih loneliness ketika dewasa bila dibandingkan dengan individu dengan orang tua yang berpisah semasa kanak- kanak atau remaja.Menurut Brehm et al (2002) proses perceraian meningkatkan potensi anak-anak dengan orangtua yang bercerai untuk mengalami loneliness ketika anak-anak tersebut dewasa.

2.6 Reaksi Terhadap Loneliness

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Shaver & Rubeinstein (1982, dalam Brehm et al, 2002) disimpulkan beberapa reaksi terhadap loneliness, yaitu:

  1. Melakukan kegiatan aktif

Reaksi terhadap loneliness berupa kegiatan-kegiatan aktif dan membangun terhadap diri sendiri seperti: belajar atau bekerja, menulis, mendengarkan musik, melakukan olahraga, melakukan hobi, pergi ke bioskop, membaca atau memainkan alat musik.

  1. Membuat kontak sosial

Reaksi terhadap loneliness berupa membuat kontak sosial dengan orang lain seperti: menelepon teman, mengunjungi seseorang.

 

  1. Melakukan kegiatan pasif

Reaksi terhadap loneliness yang sifatnya pasif seperti: menangis, tidur, duduk dan berpikir, tidak melakukan apapun, makan berlebihan, memakan obat penenang, menonton televisi, mabuk.

  1. Kegiatan selingan yang kurang membangun

Reaksi terhadap loneliness berupa menghabiskan uang dan berbelanja.

2.6.1 Teori menurut Erich Fromm

Menurut Erich Fromm kebutuhan manusia terbagi menjadi 5            :

  1. Keterhubungan ( Relatedness ) : kebutuhan untuk bisa bergabung dengan makhluk lain yang membuat mereka tidak merasa sendirian.
  2. Transedensi ( Transcendence ) : merasakan ada sesuatu yang lebih besar dari kita.
  3. Keberakaran ( Rootedness ) : kita dengan alam punya ikatan, jika tidak punya ikatan akan merasa kesepian.
  4. Rasa identitas ( Sense of identity ) : kebutuhan menjadi aku, kemampuan untuk menyadari dirinya sebagai entitas yang terpisah.
  5. Kerangka Orientasi ( Frame of Orientation ) : manusia perlu peta jalan, sebuah kerangka orientasi, untuk menjadi penunjuk jalan mereka kedunia. Tanpa peta manusia akan bingung dan tak sanggup bertindak dengan suatu tujuan dan suatu konsistensi.
  • Social Media Addiction

2.7.1 Addiction

Addiction merupakan suatu hubungan emosional dengan suatu objek atau kejadian, dimana individu yang mengalaminya mencoba untuk menemukan kebutuhannnya terhadap intimasi.Addiction (pada tingkat yang paling dasar) adalah sebuah usaha untuk mengontrol dan memenuhi keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan (Ivan, 2007).

Menurut Arthur T. Horvart (1989) dari Center for Cognitive Therapy, addiction adalah:

“An activity or substance we repeatedly carve to experience, and for which we are willing if necessary to pay a price (or negative consequences).”

Berdasarkan defenisi di atas addiction berarti tidak hanya hanya terhadap zat saja tetapi juga terhadap aktivitas tertentu yang dilakukan secara berulang- ulang dan menimbulkan dampak negatif.Masih menurut Hovart, contoh kecanduan bisa bermacam-macam, diantaranya karena zat atau aktivitas tertentu seperti sexual activity, gambling, overspending, shoplifting, dan sebagainya.Addiction tidak selalu menjadi kuat seiring dengan berjalannya waktu.Jika kenyamanan yang diperoleh dari addiction merupakan reduksi dari mood yang negatif maka addiction dapat menjadi coping stress.Addiction yang kuat akan menyebabkan perilaku adiktif tersebut terintegrasi dalam aspek kehidupan individu.

2.7.2 Tahap-tahap Addiction

Tashman (2006) mengungkapkan addiction terdiri dari 3 tahapan. Ketiga tahapan tersebut yaitu:

  1. Tahap pertama disebut dengan internal change (perubahan internal)

Tahap ini ditandai dengan individu yang mulai menyadari perubahan mood yang dialaminya ketika individu tersebut terlibat dengan sumber addiction.Perasaan menjadi mudah marah, dan pada umumnya, menarik diri dan menjauhkan dirinya dari masalah-masalah dan perasaan yang tidak menyenangkan. Individu akan makin merasa addict dengan sumber addiction ketika merasakan stress. Mulai tahap ini, individu mulai merasa addict dengan sumber addiction. Individu akan menjauh dari orang lain dan mengalami pengalaman kecanduan.

  1. Tahap kedua disebut dengan life style change(perubahan gaya hidup)
    Pada tahap ini, individu membangun kehidupannya disekitar sumber addiction. Saat ini individu berapa pada tingkat tidak dapat mengontrol tingkah lakunya. Individu akan berupaya mengatur kehidupannya disekitar sumber addiction. Ketika individu tersebut tidak berhubungan langsung dengan sumber addiction, maka individu akan terus-menerus memikirkannya.
  1. Tahap ketiga disebut dengan life breakdown(rusaknya kehidupan)
    Pada tahap ini, individu menganggap semua yang dilakukan benar, menurut dirinya. Tidak ada yang salah atau gagal. Individu menjadi sulit mengendalikan perasaannya dan sangat sulit berdiskusi mengenai masalah dalam kehidupannya.

2.8 Social Media

Media sosial adalah sebuah media online, dimana penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan isi seperti blog, jejaring sosial, forum dan sebagainya.Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content“.Web 2.0 menjadi platform dasar media sosial. Media sosial ada dalam berbagai bentuk yang berbeda, termasuk social network, forum internet, weblogs, social blogs, micro blogging, wikis, podcasts, gambar, video, rating dan bookmark sosial (Kaplan dan Haenlein,2010;Weber,2009). Kaplan dan Haenlein menciptakan skema klasifikasi untuk berbagai jenis media sosial dalam artikel Horizons Bisnis mereka diterbitkan dalam 2010. Menurut Kaplan dan Haenlein ada enam jenis media sosial: proyek kolaborasi (misalnya, wikipedia), blog dan microblogs (misalnya, twitter), komunitas konten (misalnya youtube), situs jaringan sosial (misalnya facebook), virtual game (misalnya world of warcraft), dan virtual social (misalnya second life).

Menurut Antony Mayfield dari iCrossing, media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa.Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas.Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri.Selain kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri sendiri dalam media sosial adalah alasan mengapa media sosial berkembang pesat.

Sementara jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook, Myspace, dan Twitter. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpertisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.

Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita.

Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan social media dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Kita sebagai pengguna social media dengan bebas bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainnya.

Jika dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa menyampaikan pendapat secara terbuka karena satu dan lain hal, maka tidak jika kita menggunakan media sosial. Kita bisa menulis apa saja yang kita mau atau kita bebas mengomentari apapun yang ditulis atau disajikan orang lain. Ini berarti komunikasi terjalin dua arah. Komunikasi ini kemudian menciptakan komunitas dengan cepat karena ada ketertarikan yang sama akan suatu hal.

2.8.1 Ciri – ciri media sosial

            Media sosial mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :

  • Pesan yang di sampaikan tidak hanya untuk satu orang saja namun bisa keberbagai banyak orang contohnya pesan melalui SMS ataupun internet
  • Pesan yang di sampaikan bebas, tanpa harus melalui suatu Gatekeeper
  • Pesan yang di sampaikan cenderung lebih cepat di banding media lainnya
  • Penerima pesan yang menentukan waktu interaksi

2.8.2 Peran dan Fungsi Media Sosial

Media sosial merupakan alat promosi bisnis yang efektif karena dapat diakses oleh siapa saja, sehingga jaringan promosi bisa lebih luas.Media sosial menjadi bagian yang sangat diperlukan oleh pemasaran bagi banyak perusahaan dan merupakan salah satu cara terbaik untuk menjangkau pelanggan dan klien. Media sosial sperti blog, facebook, twitter, dab youtube memiliki sejumlah manfaat bagi perusahaan dan lebih cepat dari media konvensional seperti media cetak dan iklan TV, brosur dan selebaran.

Media sosial memiliki kelebihan dibandingkan dengan media konvensional, antara lain :

  • Kesederhanaan

Dalam sebuah produksi media konvensional dibutuhkan keterampilan tingkat tinggi dan keterampilan marketing yang unggul. Sedangkan media sosial sangat mudah digunakan, bahkan untuk orang tanpa dasar TI pun dapat mengaksesnya, yang dibutuhkan hanyalah komputer dan koneksi internet.

  • Membangun Hubungan

Sosial media menawarkan kesempatan tak tertandingi untuk berinteraksi dengan  pelanggan dan membangun hubungan. Perusahaan mendapatkan sebuah feedback langsung, ide, pengujian dan mengelola layanan pelanggan dengan cepat.Tidak dengan media tradisional yang tidak dapat melakukan hal tersebut, media tradisional hanya melakukan komunikasi satu arah.

  • Jangkauan Global

Media tradisional dapat menjangkau secara global tetapi tentu saja dengan biaya sangat mahal dan memakan waktu.Melalui media sosial, bisnis dapat mengkomunikasikan informasi dalam sekejap, terlepas dari lokasi geografis.Media sosial juga memungkinkan untuk menyesuaikan konten anda untuk setiap segmen pasar dan memberikan kesempatan bisnis untuk mengirimkan pesan ke lebih banyak pengguna.

  • Terukur

Dengan sistemtracking yang mudah, pengiriman pesan dapat terukur, sehingga perusahaan langsung dapat mengetahui efektifitas promosi.Tidak demikian dengan media konvensional yang membutuhkan waktu yang lama.

Fungsi Media Sosial

Ketika kita mendefinisikan media sosial sebagai sistem komunikasi maka kita harus mendefinisikan fungsi-fungsi terkait dengan sistem komunikasi, yaitu :

  • Administrasi

Pengorganisasian proofil karyawan perusahaan dalam jaringan sosial yang relevan dan relatif dimana posisi pasar anda sekarang.Pembentukan pelatihan kebijakan media sosial, dan pendidikan untuk semua karyawan pada penggunaan media sosial. Pembentukan sebuah blog organisasi dan integrasi  konten dalam masyarakat yang relevan. Riset pasatr untuk menemukan dimana pasar anda.

  • Mendengarkan dan Belajar

Pembuatan sistem pemantauan untuk mendengar apa yang pasar anda inginkan, apa yang relevan dengan mereka.

  • Berpikir dan Perencanaan

Dengan melihat tahap 1 dan 2, bagaiman anda akan tetap didepan pasar dan begaiman anda berkomunikasi ke pasar. Bagaiman teknologi sosial meningkatkan efisiensi operasional hubungan pasar.

  • Pengukuran

Menetapkan langkah-langkah efektif sangat penting untuk  mengukur apakah metode yang digunakan, isi dibuat dan alat yang anda gunakan efektif dalam meningkatkan posisi dan hubungan pasar anda.

2.9 Hubungan Loneliness terhadap social media addiction

Weiss (dalam Weiten & Llyod, 2006) mengungkapkan bahwa loneliness disebabkan bukan karena kesendirian, tetapi karena tidak adanya hubungan tertentu yang diharapkan.Loneliness selalu muncul sebagai respon terhadap ketidakhadiran beberapa atau tipe-tipe hubungan khusus atau lebih tepatnya sebuah respon terhadap ketidakadaan suatu hungan yang diharapkan.

Saat ini social media dianggap sebagai salah satu cara untuk mengurangi loneliness, meskipun pendekatan ini sendiri dianggap dapat menjadi pedang yang bermata dua (McKenna & Bargh dalam Weiten & Llyod, 2006). Di satu sisi, penggunaan internet pada individu yang mengalami loneliness biasanya menimbulkan keuntungan seperti mengurangi loneliness, mengembangkan perasaan mendapat dukungan sosial, dan membentuk persahabatan secara online (Shaw & Gant; Morahan-Martin & Schumacher dalam Weiten & Llyod, 2006). Penelitian lain menunjukkan bahwa pada individu yang mengalami loneliness lebih sering menunjukkan penggunaan internet juga menyebabkan gangguan dalam fungsi kehidupan sehari-harinya (Morahan-Martin & Schumacher dalam Weiten & Llyod, 2006) serta memicu timbulnya internet addiction (Nalwa & Anand dalam Weiten & Llyod, 2006).

Jadi dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kesepian terhadap seringnya menggunakan sosial media disebabkan karena dengan adanya sosial media kesepian yang terjadi pada individu lebih berkurang. Dengan adanya media sosial para pengguna media sosial tersebut merasa bisa berkomunikasi dengan individu lain walaupun tidak saling berinteraksi secara langsung.

2.10 Hipotesis

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah: ” pengaruh loneliness terhadap sosial media addiction”

 

REFERENSI

Kaplan, Andreas M.; Michael Haenlein (2010) “Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media”. Business Horizons 53(1): 59–68

http://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial

http://jayaputrasbloq.blogspot.com/2011/02/definisi-atau-pengertian-istilah-social.html

https://www.academia.edu/8385036/Kecanduan_Internet_dan_Terapi_Kognitif_Perilaku_Internet_Addiction_Disorder_

Turnip, S. S. (1997). Cara menanggulangi penghayatan loneliness pada dewasa muda.(skripsi tidak diterbitkan). Depok : Fakultas Psikologi Unversitas Indonesia.

Anonim. (2003). Effect loneliness.Dalam Psychology Today Magazine. Http://en.wikipedia.org/wiki/loneliness.

Baron, R. A & Bryne, D. (2005). Psikologi sosial. Jilid II. Edisi kesepuluh. Jakarta : PT. Erlangga.

Bruno, F. J. S. (2000).Conguer loneliness : cara menaklukkan kesepian. Alih Bahasa :Sitanggang. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.