CEMBURU ???

Dalam suatu hubungan romantis sering muncul adanya kecemburuan. Cemburu dikatakan sebagai hal yang wajar dalam hubungan romantis dan cemburu sering dinyatakan sebagai tanda cinta. Kecemburuan sendiri dapat terjadi ketika melihat pasangan berjalan berdua dengan lawan jenis, ketika menemukan pesan romantis untuk pasangan, ketika pasangan pulang larut malam, atau ketika telepon atau sms yang tidak dibalas oleh pasangan. Saat merasa cemburu akan muncul emosi yang kompleks, dari rasa takut, marah, sampai terhina. Cemburu sendiri merupakan persepsi akan adanya ancaman atas hubungan romantis yang dimiliki. Maksud dari ancaman ini adalah pihak ketiga yang akan masuk atau menganggu hubungan dengan pasangan.
Cemburu sendiri terdiri dari tiga elemen, yaitu kognitif, emosi, dan perilaku. Elemen kognitif akan berperan terhadap persepsi terhadap ada atau tidaknya ancaman. Apabila dipersepsikan ada ancaman, maka elemen emosi akan berperan dengan munculnya rasa takut, marah, dan terhina. Ketika sudah merasakan emosi yang merepresentasikan emosi tersebut maka akan muncul perilaku, seperti menginterogasi pasangan, memonitor kegiatan pasangan, marah-marah pada pasangan.
Menurut jenisnya, cemburu dapat terbagi dua, yaitu suspicious jealousy dan realistic jealousy. Suspicious jealousy merupakan bentuk kecemburuan yang kronis, dimana terjadi ketidakpercayaan dan kecurigaan pada pasangan. Biasanya hal ini terjadi pada individu yang tidak puas atas kehidupannya sendiri. Kecemburuan ini terjadi karena mempersepsikan adanya ancaman terhadap hubungan, namun ancaman tersebut sebenarnya tidak nyata atau tidak ada. Sedangkan realistic jealousy merupakan bentuk kecemburuan yang muncul ketika individu mempersepsikan adanya ancaman yang nyata dalam hubungannya dengan pasangan. Kecemburuan ini dapat memperkuat hubungan romantis yang dimiliki.
Diantara dua jenis cemburu tersebut tentu realistic jealousy lah yang lebih baik apabila harus terjadi dalam hubungan romantik. Cemburu sebenarnya tidak selalu negatif, karena cemburu merupakan alarm terhadap adanya ancaman yang akan datang dalam hubungan. Apabila sudah merasakan adanya ketidakberesan dalam hubungan, maka dapat dilakukan upaya introspeksi pada hubungan tersebut. Pasangan dapat saling berkomunikasi untuk secara terbuka mengungkapkan ketidakpuasan pada hubungan atau pasangan.
Apabila individu mengalami suspicious jealousy, maka hal ini dapat dilatarbelakangi oleh kurangnya rasa percaya diri, tidak merasa sepadan dengan pasangan, memiliki ketergantungan yang tinggi pada pasangan, pada dasarnya memiliki sifat neuroticism (pencemas), serta memiliki pola kelekatan anxious. Pada individu yang memiliki suspicious jealousy ini sebaiknya melakukan pengembangan diri agar tidak memiliki kecemburuan yang tidak beralasan terhadap pasangan, karena jika kecemburuan ini terus berlangsung maka pada akhirnya dapat merusak hubungan yang dimiliki. Pengembangan diri yang sangat perlu dilakukan adalah meningkatkan rasa percaya diri dan menumbuhkan kepercayaan pada orang lain (terutama pasangan).

Referensi
Aylor, B., & Dainton, M. (Fall 2001). Antecedent of romantic jealousy experience, expression, and goals. Western Journal of Communication, 65(4), 370-391.
Pines, A. M. (March 1992). Romantic jealousy : The shadow of love. Nursing & Allied Health Source, 25(2), 1992.
Scheinkman, M., & Werneck, D. (December 2010). Disarming Jealousy in couples relationships : A Multidimensional approach. Family Process, 49(4), 486-502.

By Rani Agias Fitri, rfitri@binus.edu