People Innovation Excellence

HUBUNGAN STRESS DAN EMOTIONAL EATING

Suci Laksita Putri1601259275

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap orang secara umum, pasti pernah ,mengalami masalah dalam hidupnya. Masalah tersebut dapat datang dari berbagai sumber seperti dari keluarga, lingkungan, kesehatan, pekerjaan, kehidupan asmara, pendidikan dan lain-lain. Sebagai manusia, tentu kita menginginkan kehidupan yang baik-baik saja, namun kenyataannya tidak semua berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan.

Banyaknya masalah yang di hadapi dapat membuat seseorang menjadi tertekan. Banyak cara dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan tekanan antara lain dengan narkoba, berbelanja atau makan. Salah satu cara yang dilakukan yang akan menjadi fokus perhatian proposal ini adalah makan atau lebih tepatnya adalah upaya pelepasan stress dikaitkan dengan emotional eating .

Stress yang dialami secara terus menerus dapat menyebabkan menurunnya immune system, penyakit kardiovaskular hingga kanker. Cara yang dilakukan untuk meregulasi stress ata disebut coping stress dapat diidentifikasikan ke dalam 2 tipe yaitu problem focused coping, “is the cognitive strategy of squarely facing one’s trouble and trying to solve them” dan emotion focused coping, “involves responding to the stress that you are feeling” (Laura A. King, 2011, 563).

Emotional eating adalah pola makan yang dilakukan seseorang bukan untuk kebutuhan fisiologis melainkan karena faktor emosi yang sedang dirasakan.

Observasi dari berbagai literature menunjukan bahwa emotional eating disebabkan oleh pengaruh dari cortisol hormone “Cortisol is involved in appetite regulation” (Wolkowitz, Epel, & Rues, 2001). They suggest that overeating of ‘comfort foods’ in humans may be stimulated by cortisol in response to stress, which can result in abdominal obesity (Dallman, Pecoraro, Akana, La Fleur, Gomez and Houshyar, 2003)”,Social Eating, social support, nervous energy, Childhood Habits, Stuffing Emotions.

Dari wawancara pendahuluan yang peneliti lakukan terhadap 30 orang mahasiswa binus, penyebab stress dapat dikategorikan menjadi 3 sumber yaitu keluarga, asmara dan ujian. Masalah yang akan diangkat dalam proposal ini adalah stress dan emotional eating yang dirumuskan menjadi : “adakah kaitan stress dan emotional eating?”

Dalam literature terdapat beberapa pendapat berbeda yang mengatakan bahwa apabila seseorang berada dalam tekanan, nafsu makannya cenderung berkurang atau nafsu makan ketika sedang berada dalam tekanan justru bertambah. “Emotional eating has been associated with both increased and decreased food intake” (Greeno & Wing, 1994), Proposal ini mencoba melihat fenomena tersebut sehingga dapat diketahui prosentasi dari hasil penelitian yang akan dilakukan peneliti.

Tekanan penyebab stress dapat berasal dari berbagai sumber. Proposal ini hanya akan memfokuskan penyebab stress pada tiga sumber, yakni keluarga, hubungan asmara dan ujian dihubungkan dengan emotional eating pada mahasiswa Binus angkatan 2012.

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, rumusan masalah yang dikemukakan adalah “bagaimana hubungan antara pola stress dengan binge eating?”.

1.3. Fokus Permasalahan

Fokus permasalahan adalah tiga jenis sumber stress dikaitkan dengan eating emotion. Tiga jenis stress dimaksud yakni sumber stress yang berasal dari keluarga, kehidupan asmara, dan ujian.

lokus penelitian adalah penelitian ini dilakukan di fakultas psikologi Binus angkatan 2012, dengan populasi, sampel, dan responden akan disesuaikan dengan teknik sampling yang ada.

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara sumber stress dengan emotional eating sesuai dengan fokus di atas, dimana ketiga sumber dimaksud diharapkan dapat dietmukan polanya melalui penelitian yang akan dilakukan nanti.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi hubungan

Hubungan adalah keterkaitan antara dua objek yang netral dan tidak ada pengaruh apapun, karena implikasi dari hubungan tersebut akan menjadi hasil dari penelitian ini.

2.2 Stress

Menurut Richard lazarus “stress is a two-way process; it involves the production of stressors by the environment, and the response of an individual subjected to these stressors”. Menurut Alimul (2008), stres yang dialami manusia dapat berasal dari berbagai sumber dari dalam diri seseorang, keluarga dan lingkungan.

  1. Sumber Stres di Dalam Diri
    Sumber stres dalam diri sendiri pada umumnya dikarenakan

konflik yang terjadi antara keinginan dan kenyataan berbeda, dalam hal ini adalah berbagai permasalahan yang terjadi yang tidak sesuai dengan dirinya dan tidak mampu diatasi, maka dapat menimbulkan suatu stres.

  1. Sumber Stres di Dalam Keluarga
    Stres ini bersunber dari masalah keluarga ditandai dengan adanya perselisihan masalah keluarga, masalah keuangan serta adanya tujuan yang berbeda diantara keluarga. Permasalahan ini akan selalu menimbulkan suatu keadaan yang dinamakan stres.
  2. Sumber Stres di Dalam Masyarakat dan Lingkungan
    Sumber stres ini dapat terjadi di lingkungan atau masyarakat pada umumnya, seperti lingkungan pekerjaan, secara umum disebut sebagai stres pekerja karena lingkungan fisik, dikarenakan kurangnya hubungan interpersonal serta kurangnya adanya pengakuan di masyarakat sehingga tidak dapat berkembang.

 

2.3 Emotional Eating

Menurut Eric Gondwe, emotional eating adalah pola makan individu secara berulang yang terjadi bukan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis karena perasaan lapar melaikan karena didasari oleh faktor emosional. ((Webster Wellness)

Emotional eating is when an individual uses food and eating to manage mood or stress.

Symptoms emotional eating: (By Elizabeth Scott)

  • Turning to food to regulate emotions
  • Feeling compelled to overeat during stressful, depressing, or emotional situations
  • Obsessing about food when you are experiencing negative or stressful feelings and situations
  • Eating when you are not hungry or beyond the point of being full
  • Feeling upset about your eating behaviors but compulsively drawn to eat and unable to stop

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menjadi emotional eaters seperti pengaruh dari cortisol hormone,tingginya hormon kortisol dapat menyebabkan seseorang ingin mengkonsumsi makanan khususnya dengan rasa asin dan manis social eating,seseorang yang sedang dalam keadaan stress dan tertekan membutuhkan social support dari orang orang terdekatnya, hal tersebut diwujudkan dengan kegiatan untuk makan bersama. nervous energy, Childhood Habits,seseorang yang pada masa kecilnya diberikan reward berupa makanan sehingga orang tersebut setelah dewasa menjadikannya sebagai kebiasaan. Stuffing Emotions, seseorang yang makan bukan karena rasa lapar melainkan untuk memberikan rasa nyaman

2. 4 Mahasiswa Binus

Mahasiswa Binus yang dimaksud dalam proposal ini adalah mahasiswa psikologi angkatan 2012.

 

 

2.5 Kerangka berpikir

SUCI

REFERENSI

 

KING, L. A. (2011). The Science of psychology (2 ed.). New York, United States of America: McGraw-Hill.

A Prospective Study of Overeating, Binge Eating, and Depressive Symptoms Among Adolescent and Young Adult Women. (2011, december 13). Retrieved april 27, 2015, from Journal of Adolescenct Health: http://www.jahonline.org/article/S1054-139X(11)00343-0/fulltext

 

Gluck, M. E. (2005, may 11). Stress response and binge eating disorder. Retrieved april 26, 2015, from http://www.saegre.org.ar/biblioteca/arbol_bibliografico/octubre2006/Appetite-2006-binge-eating-disorder.pdf

 

Neale, A. M. (2013). Abnormal Psychology (twelfth ed.).

Sons, J. W. (2013). Abnormal Psychology (twelfth ed.). singapore.

 

Webster Wellness. (n.d.). Retrieved from http://www.websterwellnessprofessionals.com/emotional-eating.html

 

A Prospective Study of Overeating, Binge Eating, and Depressive Symptoms Among Adolescent and Young Adult Women. (2011, december 13). Retrieved april 27, 2015, from Journal of Adolescenct Health: http://www.jahonline.org/article/S1054-139X(11)00343-0/fulltext

 

Neale, A. M. (2013). Abnormal Psychology (twelfth ed.).

Sons, J. W. (2013). Abnormal Psychology (twelfth ed.). singapore.

 

Elizabeth Scott, M. (n.d.). Stress and Emotional Eating: What Causes Emotional Eating. Retrieved from http://stress.about.com/od/unhealthybehaviors/a/eating.htm

 

Sincero, S. M. (n.d.). Stress and Cognitive Appraisal. Retrieved from https://explorable.com/stress-and-cognitive-appraisal

 

 

 

 

 

 

 


Published at : Updated
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close