People Innovation Excellence

EMPATHY PARADOX

Kalau kata ‘empati’ dan ‘paradox’ secara terpisah barangkali kita pernah mendengarnya. Namun apabila keduanya digabungkan menjadi ‘empathy paradox’, apa ya maksudnya? Sara Konrath dari University of Michigan, USA mengatakan bahwa generasi muda sekarang telah mengalami ‘empathy paradox’ akibat penggunaan teknologi seperti situs jejaring sosial dan smartphone. Biasanya kita merasa dekat atau berempati dengan sahabat kita yang curhat lewat situs jejaring sosialnya atau chat. Teknologi membuat kita tidak lagi berjarak dengan orang lain, tapi justru mendekatkan dengan orang lain. Namun perasaan bahwa kita didekatkan oleh teknologi tidak disertai dengan perasaan kedekatan secara psikologis. Itulah empathy paradox.

Pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Hal itu membuat seseorang hidup lebih baik dan lebih sehat secara psikologis. Orang ingin terhubung satu dengan yang lainnya. Koneksi dengan orang lain saat ini dipermudah lewat teknologi dan semakin disukai. Terbukti bahwa situs jejaring sosial atau media sosial beragam jenis dibanjiri oleh penggemarnya dari tahun ke tahun. Penggunaan internet dan smartphone jadi trend yang semakin meningkat setiap tahun. Bisa saja dipastikan bahwa anak muda dewasa ini hampir semuanya memiliki profil setidaknya pada salah satu akun situs jejaring sosial. Namun keterhubungan yang semakin dekat satu sama lain ternyata tidak disertai dengan kepedulian terhadap kondisi orang lain.

Contoh nyata yang sering terjadi di fasilitas publik. Kita akan senang duduk di Commuterline, TransJakarta, atau sarana publik lainnya sambil koneksi lewat media sosial atau chat, tapi kita tidak peduli ketika ada seseorang dekat kita yang sebenarnya lebih membutuhkan kursi itu daripada kita. Makan bersama di meja makan, tapi setiap orang yang makan dimeja itu makan sambil chatting lewat smartphone, kurang peduli ketika selesai makan sebaiknya membantu membereskan piring dan meja atau tidak mau menanggapi perkataan orang yang duduk di sebelah kita.

Empathy paradox dari Sara Konrath ini diawali dengan penelitian terkait attachment. Attachment merupakan semacam sistem motivasi yang mendasari relasi kita dengan orang lain. Sehingga dapat dipahami perbedaan pola relasi antar individu satu dengan yang lainnya. Hasil studi Konrath dan rekan-rekannya terhadap sekumpulan mahasiswa menunjukkan bahwa orang muda dengan pola attachment yang secure (menilai diri positif dan orang lain positif) semakin menurun dari tahun ke tahun. Tetapi orang muda dengan pola attachment yang insecure (kurang dapat berinteraksi dengang orang lain secara positif) menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pola attachment insecure yang paling banyak dijumpai dikalangan anak muda adalah attachment dismissing, yaitu menilai diri positif tetapi menilai orang lain negatif. Akibatnya terkesan acuh tak acuh dengan orang lain dan bahkan cenderung senang berinteraksi dengan orang lain lewat dunia maya tanpa menggunakan identitas asli dirinya.

Kondisi tersebut memang terjadi di negara Amerika Serikat. Tapi dengan maraknya penggunaan internet dan terbanyak hanya digunakan untuk situs jejaring sosial, tak pelak kondisi yang ada di negeri Paman Sam itu bisa terjadi pada orang muda di Indonesia. Jadi apa yang bisa dilakukan? Pertama, gunakan situs jejaring sosial secara sehat dan tepat. Tidak perlu berlama-lama, dan diimbangi juga dengan kegiatan interaksi tatap muka selain online. Kedua, miliki penilaian yang positif pada diri sendiri dan orang lain. Buka diri untuk menerima kelebihan dan kelemahan diri termasuk kelebihan dan kelemahan orang lain. Ketiga, ayo peduli dengan kondisi orang lain lewat tindakan nyata.

Oleh:

Esther Widhi Andangsari, M.Psi., Psi.

Sumber:
Chopik, W., & Peterson, C. Changes in technology use and adult attachment orientation from 2002 to 2012. Computers in Human Behavior, 38(2014), 208-212.

Konrath, S.H. (2012). The empathy paradox: increasing disconnection in the age of increasing connections. In R. Luppicini (Ed.). Handbook of research on technoself: identity in a technological society (pp.204-228). IGI Global.

Konrath, S., Chopik, W., Hsing, C., & O’Brien, E. (2014). Changes in Adult Attachment Styles in American College Students Over Time: A Meta Analysis. Personality and Social Psychology Review, (2014), 1-23.

Editor by: Berdi Dwijayanto,S.Psi.


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close