People Innovation Excellence

Cerita dari Chiang Mai, Part 2: EMDR

Pada posting sebelumnya saya membahas mengenai definisi trauma dan gejala post traumatic stress disorder (PTSD). Ternyata, tidak semua orang yang mengalami peristiwa traumatik pasti mengembangkan gejala PTSD. Namun, bagaimana dengan orang yang mengalami gejala PTSD? Intervensi psikologis apa yang bisa membantu mengurangi gejala PTSD? Salah satu jenis psikoterapi yang efektif untuk menurunkan gejala PTSD adalah Eye Movement Desensitization and Reprocessing atau lebih dikenal dengan EMDR.

Apa hubungan antara trauma dan pergerakan mata? Seperti apa gambaran sesi terapi EMDR? Bagaimana EMDR dapat menurunkan gejala PTSD? Mari simak tulisan berikut untuk mengetahui jawabannya.

Asal mula EMDR

EMDR: berawal dari gerakan mata berkembang menjadi psikoterapi efektif
EMDR: berawal dari gerakan mata berkembang menjadi psikoterapi efektif

 

EMDR bermula dari pengalaman Francine Shapiro pada tahun 1987, pada masa ia baru didiagnosa kanker saat tengah mengerjakan disertasi di bidang Sastra Inggris. Pada suatu hari, di musim semi, ia memperhatikan bahwa pikiran-pikiran yang mengganggunya tiba-tiba menghilang. Saat ia mencoba mengingat kembali pikiran menggangu tersebut, ternyata pikiran tersebut tidak semengganggu sebelumnya. Dari peristiwa inilah ia berusaha mencari tahu, hal apa yang menyebabkan berkurangnya intensitas gangguan tersebut. Secara tidak sengaja, ia menemukan bahwa jika ia menggerakkan mata sambil berkonsentrasi dengan ingatan yang mengganggu, ternyata ingatan ini berkurang intensitasnya (Shapiro, 2001). Dari situlah ia mulai meneliti mengenai pergerakan mata dan kaitannya dengan desensitizasi. Mungkin anda dapat menebak bahwa Shapiro familiar dengan teori behaviorisme, terutama Andrew Salter dan Joseph Wolpe.

Pada musim dingin 1987, Shapiro pun mengadakan penelitian randomized control trial EMDR yang pertama. Terlepas dari kelahiran yang berasal dari suatu kebetulan, EMDR berkembang menjadi sebuah psikoterapi yang terbukti efektif untuk PTSD. Berdasarkan informasi di website http://www.emdr.com/what-is-emdr/ telah ada lebih dari 30 penelitian dengan kontrol ketat yang membuktikan efektivitas EMDR.

Deskripsi Psikoterapi EMDR

Terapi EMDR berfokus pada masa lalu, masa kini dan masa depan. Pada sesi terapi, klien akan diminta untuk mengingat kembali situasi masa lalu yang menimbulkan distress, sambil diingatkan pada keadaannya sekarang. Setelah itu, klien akan dipandu untuk mengembangkan keterampilan dan sikap yang dibutuhkan untuk masa depan yang lebih positif. Ketiga fokus itu dijalankan dalam 8 fase, yaitu:

Fase 1: History taking

Pada awal pertemuan, psikolog akan menggali latar belakang klien baik secara umum maupun spesifik terkait dengan peristiwa yang menggangu. Lalu psikolog akan menilai kesiapan klien untuk melanjutkan ke fase berikutnya. Selain itu, psikolog bersama-sama dengan klien juga akan membuat perencanaan treatment, menentukan ingatan mana saja yang akan menjadi target pemrosesan dan darimana akan mulai pemrosesan.

Fase 2: Preparation

Pantai yang tenang, salah satu contoh safe place.
Pantai yang tenang, salah satu contoh safe place.

Dalam fase ke-2 ini, psikolog akan memperkenalkan beberapa cara mengatasi perasaan-perasaan negatif. Misalnya teknik pernapasan, safe place, dan lain sebagainya. Tujuan fase ini ialah untuk mempersiapkan klien memasuki fase selanjutnya dan memperlengkapi klien menghadapi kehidupannya di luar ruangan praktek.

Fase 3: Assessment

Kata ‘assessment’ disini agak berbeda dengan assessment yang biasa dipakai dalam ilmu psikologi. Dalam fase ini, klien bukan diobservasi atau diberikan tes psikologis, melainkan diminta mengingat lagi peristiwa yang mengganggu dan psikolog akan meng-assess beberapa hal terkait peristiwa tersebut, misalnya: gambaran yang paling mengganggu, pikiran negatif yang muncul saat mengingat peristiwa tersebut, emosi yang dirasakan, derajat ketidaknyamanan (SUDS: Subjective Unit of Discomfort), hingga pikiran positif yang ingin dimiliki saat mengingat kejadian tersebut.

Fase 4: Desensitization

Stimulasi Bilateral: bukan hanya gerakan mata.
Stimulasi Bilateral: bukan hanya gerakan mata.

Dalam fase ini, klien diminta fokus pada gambar yang dilaporkan di fase 3. Kemudian psikolog akan memberikan stimulasi yang membuat mata klien bergerak dari kiri ke kanan. Selain stimulasi gerakan mata, bisa juga stimulasi lain seperti tepukan di tangan, atau suara yang bergerak dari satu arah ke arah lainnya (Bilateral Stimulation). Setelah selesai stimulasi selama sekitar 24-30 detik, klien diminta untuk melaporkan apapun yang ia amati dalam tiap “set”. Set ini akan diulang hingga ada perubahan positif dalam apa yang dilaporkan oleh klien. Perubahan positif ini ditandai oleh SUDS yang turun hingga 0, yang artinya tidak ada gangguan sama sekali.

Fase 5: Installation

Setelah itu, klien diminta untuk memikirkan pikiran positif yang ingin dimiliki. Lalu diminta meninjau kembali apakah pikiran tersebut masih cocok, atau ada pikiran positif lain yang ingin dimiliki. Setelah klien memutuskan pikiran positif yang diinginkan, maka psikolog akan meminta klien fokus pada pikiran tersebut sambil melanjutkan set. Tujuan dari fase ini ialah memperkuat pikiran positif yang ingin diyakini oleh klien.

Fase 6: Body Scan

Setelah klien merasa sangat yakin dengan pikiran positif tersebut, selanjutnya klien akan diminta untuk memperhatikan sekujur tubuhnya. Lalu klien diminta melaporkan jika ada sensasi tertentu yang kurang nyaman. Jika ada, maka akan diadakan kembali set bilateral stimulation sampai klien melaporkan perubahan yang positif.

Fase 7: Closure

Dalam fase 7, psikolog akan meminta klien untuk membuat catatan harian. Jika ada insight, mimpi, pikiran, atau pengalaman yang terkait dengan ingatan yang sedang diproses, klien diharap mencatat dalam catatan hariannya dan mendiskusikan lebih lanjut dengan psikolog pada sesi selanjutnya.

Fase 8: Re-evaluation

Sesi selanjutnya dimulai dari fase 8, dimana psikolog akan membahas kemajuan yang telah dialami klien. Pada fase ini juga akan ditinjau kembali rencana treatment selanjutnya.

Landasan EMDR: AIP Model

Prinsip 2 EMDR tentang ingatan traumatik. Gambar dari: http://image.slidesharecdn.com/understandingtraumaandtreatment-141107162755-conversion-gate01/95/understanding-trauma-and-how-to-treat-it-27-638.jpg?cb=1415377770
Prinsip 2 EMDR tentang ingatan traumatik.
Gambar dari: http://image.slidesharecdn.com/understandingtraumaandtreatment-141107162755-conversion-gate01/95/understanding-trauma-and-how-to-treat-it-27-638.jpg?cb=1415377770

Dalam perkembangannya, EMDR kini dilandasi oleh teori yang dikembangkan Shapiro yaitu Adaptive Information Processing atau sering disebut juga AIP model. AIP model memiliki tiga prinsip utama (Shapiro, 1995, 2001, dalam Leeds, 2009), yaitu:

  1. Manusia memiliki sistem pemrosesan informasi adaptif yang memungkinkannya untuk mengatur kembali respon terhadap suatu kejadian yang mengganggu dalam kehidupuan. Prinsip ini menjelaskan mengapa tidak semua orang Aceh yang mengalami tsunami memiliki gejala PTSD. Ibarat luka fisik yang perlahan bisa sembuh sendiri, demikian juga dengan “luka” psikologis.
  2. Suatu peristiwa traumatik atau stres yang terus menerus dapat mengganggu sistem pemrosesan ini. Saat sistem pemrosesan ini terganggu, maka seseorang terhambat untuk mencapai resolusi yang adaptif. Hipotesis ini didasari penelitian tentang respon otak terhadap peristiwa traumatik atau stres yang terus menerus. Salah satu penelitian dari Kolk (1996, dalam Leeds, 2009) menemukan bahwa ingatan traumatik tersimpan dalam bentuk memori jangka pendek yang implisit dan menyimpan sensasi tubuh, emosi, dan respon fisiologis. Sementara ingatan non-traumatik tersimpan dalam bentuk memori jangka panjang. Dengan kata lain, orang yang memiliki ingatan traumatik dapat merasakan sensasi tubuh, emosi dan respon fisiologis lainnya saat kejadian traumatik itu terjadi, meskipun kejadian tersebut sudah lama berlalu.
  3. Prosedur EMDR dan pergerakan mata dari kiri ke kanan bisa mengembalikan keseimbangan pada sistem pemrosesan informasi adaptif yang dimiliki individu sehingga individu tersebut mencapai suatu resolusi yang adaptif.

Ada satu hal menarik yang penulis temui dari komentar Dr. Derek Farrell, trainer EMDR. Ia menceritakan bahwa Francine Shapiro agak menyesal memberi nama EMDR pada terapi ini. Jika bisa memutar balik waktu, ia akan memberikan nama lain yang menekankan Adaptive Information Processing. Hal ini karena Shapiro kemudian menemukan bahwa bukan hanya pergerakan mata yang bisa mengembalikan keseimbangan sistem pemrosesan adaptif, tapi juga stimulasi bilateral lainya, seperti tapping (ketukan di tangan kiri-kanan), atau melalui audio. Namun, karena sudah terlanjur dikenal, maka nama terapi ini tetap EMDR.

Singkat cerita, EMDR adalah suatu bentu psikoterapi yang memungkinkan seseorang untuk pulih dari gejala yang timbul karena mengalami suatu peristiwa traumatik. Semoga sudah jelas mengapa EMDR menjadi salah satu pilihan, bahkan rekomedasi dari WHO untuk individu yang mengalami PTSD (Epstein, 2013). Semoga jelas juga kaitan antara trauma dan pergerakan mata. Bukti empirik yang menunjukkan efektivitas terapi EMDR memang bukan fokus artikel ini. Namun jika anda tertarik mengetahui hal ini, jangan ragu menghubungi saya. Mungkin akan saya tulis di artikel berikutnya.

Pada seri selanjutnya dari tulisan ini, penulis akan menceritakan pengalaman mengikuti EMDR Supervisory Training di Chiangmai, Thailand. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

 

Referensi:

_____.What is EMDR? Diunduh dari http://www.emdr.com/what-is-emdr/ pada 25 Februari 2016

Epstein, D. (2013). WHO releases guidance on mental health care after trauma. Diunduh dari http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2013/trauma_mental_health_20130806/en/ pada 25 Februari 2016.

Leeds, A. M. (2009). A Guide to the Standard EMDR Protocols for Clinicians, Supervisors, and Consultants. Springer Publishing Company: New York.

Shapiro, F. (2001). Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR): Basic Principles, Protocols, and Procedures 2nd ed. The Guilford Press: New York.

 

Tentang penulis:

Pingkan C. B. Rumondor, M.Psi., Psikolog ialah seorang psikolog klinis dewasa yang tertarik dengan isu hubungan romantis baik pacaran maupun pernikahan, serta trauma. Telah mengikuti workshop Couple and Family Therapy, serta sertifikasi terapis EMDR, dan sertifikasi alat ukur kepribadian Lumina. Bisa dihubungi di prumondor@binus.edu.


Published at : Updated
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close