People Innovation Excellence

HUBUNGAN ANTARA LEVEL OF ANXIETY DENGAN MASALAH INSOMNIA PADA MAHASISWA DALAM MENGHADAPI UJIAN SEMESTER

HUBUNGAN ANTARA LEVEL OF ANXIETY DENGAN MASALAH INSOMNIA PADA MAHASISWA DALAM MENGHADAPI UJIAN SEMESTER

 

 

 

 

 

 

 

 

Mata Kuliah Metode Penulisan Ilmiah dan Proposal

 

Disusun oleh :

Qalisha Avininda Hanny

1601250401

LE64

 

 

 

PSIKOLOGI

2015

Daftar Isi

Daftar Isi 1

BAB 1 PENDAHULUAN.. 2

1.1 Latar Belakang. 2

1.2 Rumusan Masalah. 5

1.3 Tujuan Penelitian. 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.. 6

2.1 Kecemasan. 6

2.1.1 Definisi Kecemasan. 6

2.1.2 Bentuk Kecemasan. 7

2.1.3 Faktor Penyebab Kecemasan. 8

2.2 Insomnia. 10

2.2.2 Jenis – Jenis Insomnia. 12

2.3.1 Definisi Dewasa Awal 12

2.4 Kerangka Berfikir 14

2.4.1 Skema Kerangka Berfikir 14

2.4.1 Penjelasan Skema Kerangka Berfikir 14

Daftar Pustaka. 16

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

qalisha

Perubahan zaman yang semakin berkembang tentu memberikan dampak yang signifikan kepada masyarakat tidak terkecuali di Indonesia. Pada umumnya mereka lebih disibukkan dengan aktifitas yang lebih memakan banyak waktu seperti bekerja. Hampir seluruh waktu dihabiskan untuk mengerjakan hal – hal yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Dengan demikian mereka sering mengesampingkan bahkan melupakan kesehatan diri sendiri. Kemajuan dan perkembangan zaman juga menyebabkan tidak adanya perbedaan antara waktu siang hari dan malam hari. Banyak individu yang menghabiskan waktu malam untuk menyelesaikan tugas daripada beristirahat dan tidur. Padahal pada waktu siang hari mereka telah disibukkan dengan pekerjaan. Berdasarkan AIA Healthy Living Index 2013 Indonesia dianggap sebagai negara dengan peringkat terendah dari 15 negara Asia Pasifik dalam hal indeks pola hidup sehat. Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat dewasa yang sudah bekerja. Remaja bahkan anak-anak juga mengalami pola hidup yang tidak teratur. (dalam artikel lifestyle.bisnis.com)

Banyak akibat yang ditimbulkan dari masalah pola hidup yang tidak teratur salah satunya adalah terganggunya fase tidur. Menurut hasil survei yang dilakukan oleh AIA Group, menyebutkan masyarakat Indonesia dianggap menghendaki waktu tidur selama 7,8 jam per hari, tetapi mereka hanya bisa merealisasikan waktu tidur per hari selama 6,8 jam. Sedangkan seperti yang sudah kita ketahui, tidur adalah kebutuhan setiap manusia yang diperlukan oleh tubuh supaya kinerja dan performa tubuh tetap optimal saat tubuh sedang terjaga. Tidur juga menjadi bagian penting dalam menyimpan memori pada proses belajar. Ketika tidur tubuh akan meregenerasi sel-sel, mendukung fungsi otak dan mengisi kembali energi tubuh. Pola tidur yang baik dan teratur memberikan efek yang bagus terhadap kesehatan (Guyton & Hall, 1997). Menurut Lanywati (2001), kebutuhan tidur yang cukup, ditentukan selain oleh jumlah faktor jam tidur (kuantitas tidur), juga oleh kedalaman tidur (kualitas tidur).

Tidur yang normal melibatkan dua fase Nonrapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Selama NREM seorang yang tidur melalui empat tahapan siklus tidur yang biasanya berlangsung selama 90 menit. Kualitas tidur dari tahap 1 sampai tahap 4 akan semakin dalam. Pada tahap 1 dan 2 kualitas tidur seseorang masih dangkal sehingga lebih mudah untuk terbangun. Tahap 3 dan 4 melibatkan tidur yang dalam dan seseorang sulit untuk terbangun. Tidur REM merupakan fase pada akhir tiap siklus tidur (Perry & Potter, 2006). Apabila seseorang yang kurang cukup menjalani tidur pada fase REM maka keesokan harinya akan menunjukkan kegiatan yang cenderung hiperaktif, kurang dapat mengendalikan diri dan emosi, serta nafsu makan yang bertambah. Fase tidur NREM yang kurang cukup, akan mengakibatkan keadaan fisik menjadi kurang gesit di keesokan harinya (Potter & Perry, 2005).

Masalah fase tidur yang paling sering dialami masyarakat adalah Insomnia. Insomnia merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai pada semua lingkungan, baik pada negara maju maupun negara berkembang. Insomnia merupakan gejala kesulitan dalam memulai tidur, ketidakmampuan untuk mempertahankan kondisi tidur selama yang diinginkan dan bangun terlalu pagi dimana gejala tersebut biasanya diikuti oleh gangguan fungsional saat bangun (Hauri, 1998 dalam Pallesan, 2002). Sedangkan menurut DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder), Insomnia adalah kesulitan individu dalam memulai, mempertahakan dan merasakan kualitas tidur yang buruk. Insomnia tidak bisa dilihat dari waktu seseorang tidur tetapi lebih menjelaskan tentang kualitas tidur dan seberapa nyaman dia beristirahat ketika tidur. Individu yang kurang tidur dalam beberapa hari cenderung menjadi kurang efisien dalam melakukan kegiatan, kesulitan berkonsentrasi dan menjadi mudah marah (Thompson, 1985). Seseorang yang mengalami Insomnia tentu terganggu baik dari jumlah jam tidur dan kualitas kedalam tidur. Mereka cenderung merasa lemas, kurang bersemangat, masih mengantuk dan terkadang menguras energi emosional. Perasaan atau suasana hati juga menjadi sangat terganggu dan tidak menentu. Tentunya ini akan mengganggu kesehatan, kinerja, dan kualitas hidup. Insomnia dapat dibagi menjadi insomnia sekunder dan primer. Insomnia sekunder adalah insomnia yang disebabkan oleh faktor medis, psikiatri atau substansi, sedangkan insomnia primer merupakan insomnia yang disebabkan oleh faktor psikologis (Espie dalam Pallesen, 2002).

Seseorang dapat dikatakan mengalami Insomnia apabila mengalami kesulitan tidur paling tidak 3 kali dalam seminggu dan terjadi selama 3 bulan. Gejala yang timbul pada penderita Insomnia menurut DSM V adalah kesulitan untuk tidur termasuk kesulitan dalam menentukan posisi yang nyaman ketika tidur, terbangun ketika tidur di malam hari dan sulit untuk kembali tidur. Penderita insomnia pun tidak terbatas pada kisaran umur tertentu. Semua usia rawan terkena insomnia, baik pada bayi, anak – anak, remaja, dewasa, maupun usia lanjut. Remaja merupakan usia paling rentan mengalami Insomnia terutama mahasiswa. Salah satu hal yang dapat menyebabkan seseorang mengalami Insomnia adalah kecemasan.

Kecemasan adalah fenomena psikologis yang normal terjadi pada individu, tidak jarang kecemasan yang dialami dapat menimbulkan efek yang negatif pada kehidupan individu tersebut. Mereka yang sering mengalami kecemasan merasa dirinya tidak sempurna, karena selalu merasa khawatir terhadap hal – hal tertentu. Pada penderita insomnia termasuk mahasiswa, umumnya tidak bangun tidur dalam keadaan fresh atau segar. Sehingga timbul kecemasan yang berlebihan. Menurut Chatterjee & Walshi (2010), kecemasan paling sering dialami oleh anak dan remaja dengan tingkat pravelensi (tingkat kemunculan dalam 1 tahun) sekitar 4% menjadi 25% dengan rata-rata 8%. Kecemasan sering dijumpai pada kehidupan sehari – hari, seperti saat ujian, saat mengikuti pertandingan, dan bertemu dengan orang baru.

Mofrad (2009) menjelaskan kecemasan berhubungan dengan kurangnya kontrol pada suatu kejadian maupun peristiwa yang menghasilkan rasa takut dan khawatir pada diri individu tersebut. Individu yang mengalami kecemasan disebabkan oleh beberapa hal, seperti ketidakmampuan dalam menghadapi suatu keadaan atau situasi tertentu. Kecemasan juga dapat terjadi karena individu memiliki pandangan yang negatif tentang diri dan lingkungan sekitarnya. Pada tingkat yang rendah, kecemasan dapat membantu individu untuk bersiaga dan waspada dalam menentukan langkah dalam mencegah adanya bahaya, hal ini bertujuan untuk memperkecil dampak bahaya yang akan datang. Kecemasan sampai tingkat tertentu atau pada tingkat sedang dapat mendorong meningkatnya performa pada diri individu. Namun apabila kecemasan yang dialami individu sangat tinggi, justru akan sangat mengganggu keefektifan individu (Fausiah & Widuri, 2008).

Dalam kesehariannya, ada banyak pekerjaan, tantangan dan tuntutan yang harus dijalankan oleh mahasiswa. Berbagai hal dan situasi juga dapat mempengaruhi keberhasilan mahasiswa atau justru menghambatnya. Ini terlihat pada saat menghadapi ujian semester, mereka dapat mengendalikan ketegangan dan tetap tenang atau bahkan takut dan panik terhadap kegagalan yang akan mereka alami. Sehingga timbul berbagai macam masalah, mulai dari tidak teraturnya pola makan, kurang istirahat, sampai terganggunya fase tidur. Bagi mahasiswa yang dapat menyesuaikan diri dengan baik maka mereka dapat menanggulangi masalahnya tersebut. Sebaliknya mereka yang kurang dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat mengganggu kegiatan sehari-hari baik di dalam perkuliahan maupun kegiatan di rumah sehingga terjadinya hambatan dalam dirinya.

Berdasarkan informasi, serta penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya. Maka dari itu penulis ingin melihat serta membuktikan apakah ada hubungan antara Level of Anxiety (Tingkat Kecemasan) terhadap Insomnia yang dialami oleh Mahasiswa dalam menghadapi ujian semester.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apakah ada hubungan antara Level of Anxiety terhadap Insomnia yang dialami oleh Mahasiswa dalam mengahadapi ujian semester?

 

1.3  Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara level of Anxiety terhadap masalah Insomnia yang dialami oleh Mahasiswa dalam mengahadapi ujian semester.

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Kecemasan

2.1.1   Definisi Kecemasan

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggris disebut anxiety berasal dari Bahasa Latin “angustus” yang berarti kaku, dan “ango, anci” yang berarti mencekik. Kecemasan dapat diartikan sebagai perasaan kuatir, cemas, gelisah, dan takut yang muncul secara bersamaan, yang biasanya diikuti dengan naiknya rangsangan pada tubuh, seperti jantung berdebar-debar, keringat dingin. Kecemasan dapat timbul sebagai reaksi terhadap “bahaya” baik yang sungguh-sungguh ada maupun yang tidak (imajinasi) yang seringkali disebut dengan.

Beberapa ahli juga mengemukakan pendapat mereka tentang defini dari kecemasan. Kecemasan adalah respon yang dipelajari terhadap seperangkat stimulus yang memperingatkan kita bahwa suatu peristiwa yang tidak menyenangkan akan terjadi (Mowrer, 1950). Kemudian Freud dalam Trimiati (2004) menyatakan bahwa kecemasan suatu perasaan yang melibatkan persepsi tidak menyenangkan dan diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu. Dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya. Menurut Mofrad (2009), kecemasan berhubungan dengan kurangnya kontrol pada suatu kejadian maupun peristiwa yang menghasilkan rasa takut dan khawatir pada diri individu. Halgin dan Whitbourne (2010) menambahkan bahwa individu yang mengalami kecemasan dilanda ketidakmampuan yang intens sehingga membuat individu tidak berfungsi dalam kehidupan sehari-harinya yang membuatnya mencoba untuk menghindar.

Sedangkan Taylor (1953) dalam Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) menjelaskan bahwa kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang muncul pada umumnya tidak menyenangkan dan menimbulkan atau disertai perubahan baik secara fisiologi maupun psikologis. Berdasarkan beberapa uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah suatu perasaan subjektif dan persepsi terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan serta adanya ketidakmampuan untuk mengontrol perasaan pada suatu kejadian atau peristiwa yang menimbulkan rasa takut dan khawatir dalam diri.

Menurut Ormrod (2003), kecemasan terbagi menjadi 2 macam yaitu Facilitating anxiety dan Debilitating anxiety. Macam-macam dari kecemasan ini mempengaruh tindakan seseorang dalam belajar. Facilitating anxiety adalah kecemasan yang sifatnya menunjang aktivitas belajar, sehingga dengan adanya kecemasan orang akan belajar dengan hasil yang lebih baik. Sementara Debilitating anxiety merupakan kecemasan yang bersifat menghambat aktivitas belajar sehingga dengan adanya kecemasan ini orang akan belajar dengan hasil yang kurang baik.

2.1.2   Bentuk Kecemasan

Kecemasan merupakan suatu respon terhadap situasi yang penuh dengan tekanan. Timbulnya kegelisahan, kekhawatiran dan ketegangan yang dialami seorang individu secara fisik (Powell, 1983). Seperti sesak nafas, detak jantung yang semakin cepat, kekakuan otot, berkeringat dan mual. Menurut Townsend (1996) kecemasan memiliki 4 tingkatan yaitu ringan, sedang, berat dan panik.

  1. Kecemasan Ringan

Berhubungan dengan ketegangan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan persepsinya. Kecemasan yang ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan kreatifitas. Hal-hal yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar dan motivasi yang meningkat.

  1. Kecemasan Sedang

Pada tingkat ini memungkinkan seseorang untuk fokus pada masalah yang penting dan mengesampingkan hal lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun tetap terarah. Manifestasi yang terjadi yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut nadi dan pernapasan meningkat, berbicara cepat dengan volume tinggi, mampu untuk belajar namun tidak optimal, konsentrasi menurun, mudah tersinggung dan pelupa.

  1. Kecemasan Berat

Seseorang yang berada pada tingkat ini cenderung memusatkan diri pada sesuatu yang terperinci dan spesifik, serta tidak dapat berpikir tentang hal yang lebih umum. Mereka membutuhkan banyak pengarahan untuk dapat fokus dengan hal lain. Manifestasi yang muncul adalah pusing, sakit kepala, tidak dapat tidur (Insomnia), diare, tidak mau belajar secara efektif, berfokus ada diri sendiri dan bingung

  1. Panik

Panik berhubungan dengan ketakutan dan teror karena mengalami kehilangan kendali atau kontrol dalam diri. Mereka tidak mampu melakukan sesuatu dengan pengarahan. Gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah sulit bernapas, pucat, pembicaraan inkoheren, tidak dapat merespon perintah yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami halusinasi dan delusi.

Taylor menjelaskan kecemasan berkaitan dengan tingkat dorongan (level of drive) yang dimiliki oleh seseorang yang dapat mempengaruhi perilakunya. Kemudia menurut Taylor kecemsana dapat dimanifestasikan melalui reaksi cemas seperti panik, bingung, mudah merasa lelah, sensitif, reaksi yang berlebihan pada suatu rangsangan tertentu, gemetar, dan jantung berdebar (Taylor dalam McDowell, 2006; Taylor dalam Jati, 2002).

Taylor juga mengelompokan gejala-gejala kecemasan yang dimasukkan kedalam Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) :

  1. Menjadi gelisah ketika sesuatu tidak sesuai dengan harapan.
  2. Sering mengalami kesulitan bernapas, sakit perut, keringat berlebihan.
  3. Merasa takut pada bnayk hal.
  4. Sulit tidur pada malam hari, jantung berdebar-debar, mengalami mimpi buruk.
  5. Sulit berkonsentrasi, selalu merasa sendiri, mudah marah dan tersinggung.

 

2.1.3   Faktor Penyebab Kecemasan

Sumber kecemasan yang bersifat internal berasal dari dalam diri individu, tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri dapat menimbulkan kecemasan. Sedangkan sumber kecemasan yang bersifat eksternal berasal dari lingkungan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan terjadi secara cepat dapat menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam diri individu, hal inilah yang dapat memicu timbulnya kecemasan.

Faktor penyebab timbulnya kecemasan menurut Collins dalam Susabda (1983) bahwa kecemasan disebabkan oleh :

  1. Threat (Ancaman) baik ancaman terhadap tubuh, jiwa atau psikisnya (seperti kehilangan kemerdekaan, kehilangan arti kehidupan) maupun ancaman terhadap eksistensinya (seperti kehilangan hak).
  2. Conflik (Pertentangan) yaitu karena adanya dua keinginan yang keadaannya bertolak belakang, hampir setiap dua konflik, dua alternatif atau lebih yang masing-masing yang mempunyai ifat approach dan avoidance.
  3. Fear (Ketakutan) kecemasan sering timbul karena ketakutan akan sesuatu, ketakutan akan kegagalan menimbulkan kecemasan, misalnya ketakutan akan kegagalan dalam mengahadapi ujian atau ketakutan akan penolakan menimbulkan kecemasn setiap kali harus berhadapan dengan orang baru.
  4. Unfulled Need (Kebutuhan yang tidak terpenuhi) kebutuhan manusia begitu kompleks dan bila ia gagal untuk memenuhinya maka timbullah kecemasan.

Greenberger & Padesky (2004) menyatakan bahwa kecemasan berasal dari dua aspek, yakni aspek kognitif dan aspek kepanikan yang terjadi pada seseorang. diantaranya adalah :

  1. Aspek kognitif, yang meliputi :
  2. Kecemasan disertai dengan persepsi bahwa seseorang sedang berada dalam bahaya atau terancam atau rentan dalam hal tertentu, sehingga gejala fisik kecemasan membuat seseorang siap merespon bahaya atau ancaman yang menurutnya akan terjadi.
  3. Ancaman tersebut bersifat fisik, mental atau sosial, diantaranya adalah :
  • Ancaman fisik terjadi ketika seseorang percaya bahwa ia akan terluka secara fisik.
  • Ancaman mental terjadi ketika sesuatu membuat khawatir bahwa dia akan menjadi gila atau hilang ingatan.
  • Ancaman sosial terjadi ketika seseorang percaya bahwa ia akan ditolak, dipermalukan, merasa malu atau dikecewakan.
  1. Persepsi ancaman berbeda-beda untuk setiap orang.
  2. Sebagian orang, karena pengalaman mereka bisa terancam dengan begitu mudahnya dan akan lebih sering cemas. Orang lain mungkin akan memiliki rasa aman dan keselamatan yang lebih besar. Tumbuh dilingkungan yang kacau dan tidak sabil bisa membuat seseorang menyimpulkan bahwa dunia dan orang lain selalu berbahaya.
  3. Pemikiran tentang kecemasan berorientasi pada masa depan dan sering kali memprediksi malapetaka. Pemikiran tentang kecemasan juga sering meliputi citra tentang bahaya. Pemikiran-pemikiran ini semua adalah masa depan dan semuanya memprediksi hasil yan buruk.

 

  1. Aspek kepanikan

Panik merupakan perasaan cemas atau takut yang ekstrem. Rasa panik terdiri atas kombinasi emosi dan gejala fisik yang berbeda. Seringkali rasa panik ditandai dengan adanya perubahan sensasi fisik atau mental, dalam diri seseorang yang menderita gangguan panic, terjadi lingkaran setan saat gejala-gejala fisik, emosi, dan pemikiran saling berinteraksi dan meningkat dengan cepat. Pemikiran ini menimbulkan ketakutan dan kecemasan serta merangsang keluarnya adrenalin. Pemikiran yang katastrofik dan reaksi fisik serta emosional yang lebih intens yang terjadi bias menimbulkan dihindarinya aktivitas atau situasi saat kepanikan telah terjadi sebelumnya.

2.2  Insomnia

2.2.1 Definisi Insomnia

Menurut Adiyati (2010) keluhan insomnia mencakup ketidakmampuan untuk tidur, sering terbangun pada malam hari, ketidakmampuan untuk kembali tidur, dan terbangun pada dini hari. Insomnia didefinisikan dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental sebagai keluhan kesulitan memulai atau mempertahankan tidur yang berlangsung selama minimal 1 bulan (Kriteria A) dan menyebabkan penderitaan yang  bermakna secara klinis atau gangguan dalam bidang sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya (Kriteria B) (Milner & Belicki, 2010).

Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur atau tidur non-restoratif yang berlangsung setidaknya satu  bulan dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu. Menurut The International Classification of Sleep Disorders, insomnia adalah kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam, disertai rasa tidak nyaman setelah episode tidur tersebut. Jadi, Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur  berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk melakukannya.

Lebih lanjut lagi, Mushoffa dkk (2013) menjelaskan bahwa insomnia merupakan gangguan untuk memperoleh keadaan tidur yang maksimal, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Definisi lainnya menurut Kaplan dan Sadock (Siregar, 2011) yang mengungkapkan bahwa insomnia adalah kesukaran dalam memulai atau mempertahankan tidur yang bersifat sementara atau persisten. Dalam sumber lain  juga disebutkan bahwa insomnia adalah ketidakmampuan seseorang untuk tidur, tetap tidur atau ketidakmampuan merasakan segar dengan tidur (Siregar, 2011). Sedangkan  American Psychological Association (2007) mengatakan bahwa insomnia merupakan kesulitan dalam memulai atau mempertahankan tidur yang menyebabkan kelelahan, tingkat keparahan atau kegigihan yang menyebabkan distress klinis signifikan atau penurunan fungsi.

Menurut Wahyu Wiyono dan Arif. Widodo (2010) Insomnia adalah kesukaran dalam memulai dan mempertahankan tidur. Insomnia menurut John P.J Pinel (2009) adalah gangguan menginisiasi dan mempertahankan tidur. Dari beberapa definisi diatas peneliti mengambil kesimpulan insomnia adalah gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan dalam memulai tidur dan mempertahankan tidur sehingga merasa tidur yang dilakukan tidak berkualitas.

Insomnia ditandai dengan gejala kesulitan untuk memulai tidur atau memerlukan waktu yang lama (sekitar satu jam atau lebih) untuk dapat tertidur, sering terbangun di malam hari dan sulit untuk tidur kembali dan memiliki waktu yang sedikit dalam tidur, waktu tidur hanya 1-4 jam dalam sehari, sehingga penderita insomnia sering merasa kurang dalam waktu tidurnya.

Berdasarkan penjelasan dari beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan Insomnia merupakan ketidakmampuan untuk tidur dengan kualitas dan kuantitas yang baik. Seseorang dapat dikatakan memiliki masalah tidur yaitu Insomnia apabila mengalami kesukaran untuk memulai dan mempertahankan tidur.

 

 

2.2.2   Jenis – Jenis Insomnia

Menurut Widya (2010) berdasarkan jangka waktu atau lamanya seseorang mengalami masalah insomnia dapat dibagi menjadi 3 jenis :

  1. Insomnia transient (sementara)

Keadaan yang termasuk dalam jenis adalah ketika seseorang mengeluh kesulitan tidur yang berlangsung selama beberapa hari sampai dengan satu minggu. Hal ini disebabkan oleh stres, kecemasan, work-time­, perubahan dalam lingkungan tidur, waktu tidur yang tidak teratur.

  1. Insomnia jangka pendek

Keadaan ketika seseorang tidak mampu tidur dengan baik secara konsisten untuk jangka waktu antara 1-4 minggu. Insomnia jangka pendek disebabkan oleh stres dan kecemasaan secara terus-menerus atau berkelanjutan, penyakit akut, dan efek samping pengobatan.

  1. Insomnia Kronis

Keadaan yang termasuk dalam insomnia kronis adalah keluhan sulit tidur selama lebih dari 4 minggu. Dapat disebabkan oleh adanya perubahan struktur kimia otak dan hormon otak, terdapat gangguan psikiatrik (kecemasan yang tinggi).

 

  • Dewasa Awal

2.3.1   Definisi Dewasa Awal

Berbagai perubahan yang terjadi pada masa dewasa awal telah menyebabkan banyak ahli psikologi perkembangan untuk melihat periode ini sebagai fase transisi. Bagi kebanyakan individu, menjadi dewasa melibatkan periode transisi yang panjang. Transisi dari masa remaja ke dewasa menurut Arnet (2006) disebut sebagai tahap beranjak dewasa (emerging adulthood) yang terjadi pada usia 18 sampai 25 tahun. Pada saat tahap emerging adulthood, orang tidak lagi remaja, tetapi mereka belum sepenuhnya mengambil tanggung jawab sebagai orang dewasa. Sebaliknya, mereka masih terlibat dalam menentukan siapa mereka dan apa jalur karir hidup yang mereka harus jalani.

Masa ini ditandai oleh eksperimen dan eksplorasi. Mereka berada tahap perkembangan yang masih mencari jati diri, dan gaya hidup seperti apa yang mereka ingin jalani. Secara singkat, emerging adulthood adalah usia eksplorasi identitas, di mana individu lebih berfokus pada diri dan tidak pasti dari mereka akan kemudian di awal masa dewasa.

Terdapat 5 ciri yang mendeskripsikan tahap beranjak dewasa (Arnet, 2006) :

  1. Eksplorasi Identitas, bernajak dewasa adalah masa dimana di dalam diri sebagian besar individu terjadi perubahan penting yang menyangkut identitas.
  2. Ketidakstabilan, dewasa awal adalah sebuah masa ketika seseorang sering mengalami ketidakstabilan dalam hal relasi, pekerjaan dan pendidikan.
  3. Self-focused (terfikus pada diri). Menurut Arnet (2006) Individu yang berada di masa benranjak dewasa cenderung terfokus pada diri mereka sendiri.
  4. Feeling in between (merasa seperti berada di peralihan). Banyak individu yang berada pada tahap dewasa awal tidak menganggap dirinya sebagai remaja ataupun sebenuhnya sudah dewasa dan berpengalaman.
  5. Usia di masa individu memiliki peluang untuk mengubah kehidupan mereka. Arnet juga menjelaskan dua cara individu dalam masa beranjak dewasa mempergunakan usia untuk berbagai kemungkinan :
  6. Banyak orang yang sedang bernajak dewasa optimis dengan masa depannya.
  7. Bagi mereka yang mengalami kesulitan ketika bertumbuh besar, masa beranjak dewasa adalah sebuah kesempatan untuk mengarahkan kehidupan mereka ke arah yang lebih positif.

 

 

 

 

 

2.4  Kerangka Berfikir

2.4.1   Skema Kerangka Berfikir

Perkembangan Zaman
Gangguan pola tidur Insomnia
Kecemasan

(level of anxiety)

Pola hidup dan Gaya Hidup yang tidak Seimbang

 

 

 

 

 

 

 

Mahasiswa

?

 

Ujian semester

 

 

 

 

2.4.1   Penjelasan Skema Kerangka Berfikir

Berdasarkan skema diatas dapat dijelaskan bahwa dengan adanya perkembangan zaman saat ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat yang ada di dalamnya, tidak terkecuali masyarakat Indonesia. Dilansir dari beberapa sumber media elektronik, Indonesia mengalami perubahan pola dan gaya hidup ke arah yang lebih buruk. Hal tersebut mengakibatkan ketidakteraturan dalam menggunakan waktu tidur. Selain itu dengan adanya perubahan zaman dan pola hidup yang tidak teratur, salah satu hal yang dialami oleh masyarakat adalah terganggunya fase tidur. Tidur merupakan kebutuhan setiap manusia yang diperlukan oleh tubuh supaya kinerja dan performa tubuh tetap optimal saat tubuh sedang terjaga. Tidur juga menjadi bagian penting dalam menyimpan memori pada proses belajar. Ketika tidur tubuh akan meregenerasi sel-sel, mendukung fungsi otak dan mengisi kembali energi tubuh. Pola tidur yang baik dan teratur memberikan efek yang bagus terhadap kesehatan (Guyton & Hall, 1997). Masalah yang paling sering umum pada fase tidur adalah Insomnia. Menurut DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder), Insomnia adalah kesulitan individu dalam memulai, mempertahakan dan merasakan kualitas tidur yang buruk. Insomnia tidak bisa dilihat dari waktu seseorang tidur tetapi lebih menjelaskan tentang kualitas tidur dan seberapa nyaman dia beristirahat ketika tidur. Salah satu penyebab dari Insomnia adalah anxiety atau kecemasan. Mofrad (2009) menjelaskan kecemasan berhubungan dengan kurangnya kontrol pada suatu kejadian maupun peristiwa yang menghasilkan rasa takut dan khawatir pada diri individu tersebut. Individu yang mengalami kecemasan disebabkan oleh beberapa hal, seperti ketidakmampuan dalam menghadapi suatu keadaan atau situasi tertentu. Kecemasan juga dapat terjadi karena individu memiliki pandangan yang negatif tentang diri dan lingkungan sekitarnya. Ketidak teratur dalam fase tidur yang diakibatkan oleh kecemasan sering terjadi pada masyarakat yang banyak melakukan aktifitas berat setiap harinya, termasuk Mahasiswa. Banyak fenomena yang terjadi di kalangan Mahasiswa, mulai dari tugas, presentasi, dan ujian semester. Kecemasan yang timbul ketika ingin menghadapi ujian semester membuat mahasiswa khawatir dan mengganggu fase tidur mereka. Oleh karena itu sesuai dengan penjelasan diatas, penelitian ini ingin melihat hubungan antara Level of Anxiety dengan masalah Insomnia yang terjadi pada Mahasiswa dalam menghadapi ujian semester.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Deb, S., Chatterjee, P., & Walshi, K. (2010). Anxiety among High School Students in India : Comparison across gender, school type, social strata and perceptions of quality time with parents. Australian Journal of Educational & Development .

Feldman, R. S. (2013). Psychology and Your Life. New York: McGraw-Hill.

Halgin, P., & Whitbourne, K. (2010). Psikologi Abnormal; Perspektif Klinis Pada Gangguan Psikologis (Ed. keenam Buku 1 ed.). Jakarta: Salemba Humanika.

Japardi, I. (2002). Gangguan Tidur. Sumatera Utara: Fakultas Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatera Utara.

Milner, C., & Belicki, K. (2010). Assessment and Treatment of Insomnia in Adults: A Guide for Clinicans. Journal Counseling and Developmental , 236-244.

Mofrad, S., Abdullah, R., Samah, A. B., Mansor, B. M., & Baba, B. M. (2009). Maternal Psychological Distress and Separation Anxiety Disorder in Children. Journal of Student Anxiety.

Morin. (2011). Pravalence of Insomnia and Its Treatment in Canadia. Canadian Journal of Psychiatry , 540-548.

Prayitno. (2004). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sadock, B., & Kaplan. (2007). Synopsis of Psychiatry: Behavior Sciences / Clinical Psychiatry. Lippincott Williams & Wilkins.

Santrock, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Santrock, J. W. (2012). Life-Span Development: Perkembangan Masa-Hidup (Edisi Ketigabelas Jilid 2 ed.). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Siregar, M. (2011). Insomnia: Mengenal Sebab-Sebab, Akibat-Akibat dan Cara Terapi. Yogyakarta.


Published at : Updated
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close