RATRI ULFARESTI – 1601254236 – LB64

RATIH

BAB I

Pendahuluan

 

1.1       Latar Belakang

Jakarta merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia, khususnya dalam bidang transportasi publik. Pilihan transportasi yang digunakan warga Jakarta adalah bus, kopaja, metromini, transjakarta, angkot, KRL, dll. Alasan masyarakat menggunakan transportasi untuk mengurangi kemacetan. Selain itu, juga untuk mendukung program pemerintah yang ingin warganya tidak menggunakan kendaraan pribadi. Kenyamanan, keamanan, dan ketepatan waktu menjadi prioritas utama masyarakat menggunakan transportasi publik. Oleh karena itu, Transportasi yang banyak dipilih/diminati masyarakat adalah KRL (Kereta Rel Listrik).

KRL merupakan kereta rel yang bergerak dengan sistem propulsi motor listrik. Di Indonesia, Kereta Rel Listrik ditemukan di kawasan Jabotabek, dan merupakan kereta yang melayani para komuter. Salah satu masyarakat yang menggunakan KRL, yaitu para pekerja. Para pekerja tersebut menggunakan KRL dikarenakan jarak tempuh antara rumah dan kantor yang sangat jauh. Keadaan tersebut menjadi keunggulan lebih dibandingkan transportasi publik lain.Dengan memiliki keunggulan yang lebih KRL telah mejadi primadona transportasi masyarakat Jakarta. Pertumbuhan penumpang KRL tumbuh dengan pesat mencapai 600 penumpang/hari. Jumlah ini akan terus bertambah hingga 1,2 juta penumpang/hari pada tahun 2019. Pada Juli 2013 jumlah armada KRL mencapai 452 kereta (gerbong) dengan perjalanan sebanyak 568/hari. Setiap 1 rangkaian KRL Commuter Line terdapat 2 kereta (gerbong) KKW (Kereta Khusus Wanita). (www.krl.co.id 07/2013).

Masalah yang sering terjadi bagi para pengguna KRL, yaitu pelecehan seksual, pencopetan, memberikan tempat duduk kepada ibu hamil, penyandang cacat, dan manula. Persoalan tersebut menjadi tindakan yang dirasakan oleh masyarakat Jakarta yang mobilitasnya menggunakan KRL. Pelecehan seksual merupakan manifestasi dari kekuasaan seseorang terhadap yang lain. pelecehan seksual dapat dilakukan dalam berbagai bentuk mulai dari perkataan yang berkonotasi seksual dan kontak fisik (menepuk atau menyentuh tubuh seseorang) hingga mengajak berbuat cabul yang terang-terangan dan serangan seksual (Santrock, 2011). Peristiwa tak mengenakkan itu tak luput juga terjadi di KRL (Kereta Rel Listrik) Ekonomi, seperti yang terjadi pada S, seorang karyawati di kawasan Sudirman, Jakarta. Pelecehan seksual oleh gerombolan pria ini diceritakan oleh rekan S, Dina Nirmala, kepada detikcom, Selasa (26/4/2011). Setelah peristiwa itu, S yang berjilbab, langsung shock dan terus menerus menangis. Berikut cerita lengkap Dina yang juga diposting di milis KRL-Mania:

Pagi ini saat datang ke kantor, saya agak terkejut melihat salah satu rekan kerja hanya tertunduk menangis dan badannya gemetar. Setelah ditanya, dengan susah payah rekan saya ini menuturkan pengalaman pahit yang menimpanya. Pagi ini rekan saya, naik KRL ekonomi jurusan Tanah Abang, jam 8.00 WIB dari Stasiun Universitas Pancasila. Kondisi kereta sangat padat. Mencari posisi nyaman dan aman sangatlah sulit. Terutama ketika ada dorongan orang-orang yang masuk di stasiun berikutnya. Di dalam kereta, dia tidak mencurigai apapun saat melihat sekitar 10 orang pria bergerombol. Desakan penumpang dari Stasiun Lenteng Agung, memaksanya masuk lebih jauh ke dalam gerbong. Jadilah ia dikelilingi gerombolan pria tersebut. Dan hal tak terduga terjadi ketika pria yang berada di belakangnya mulai menurunkan tangan. Ternyata pria itu sedang membuka celana panjang, mengeluarkan alat vital, dan mulai mengesek di bagian belakang rekan saya. Teman-teman pria itu seperti menutupi keadaan yang ada. Yang lebih miris, ketika rekan saya ini berteriak minta tolong, tidak ada yang bisa membantu karena kondisi kereta sangat padat. Satu ketika saat rekan berteriak, “Pak tolong, saya mohon jangan dorong, kereta sudah padet dan saya terjepit”. Gerombolan pria tersebut malah tertawa. Seperti kegirangan dan makin jadi menggesek bagian belakang rekan kerja saya. Pria itu sedikit mendesah dan mengeluarkan kata-kotor kotor di kuping rekan kerja saya.Setelah bersusah payah teriak dan merangsek menuju pintu, rekan saya turun di Stasiun Pasar Minggu lalu naik ojek ke kantor. Sambil bercerita, ia tak henti mengeluarkan air mata dan badannya terguncang karena shock dan trauma.(www.detiknews.com 26/04/2011)

Selain pelecehan seksual masalah yang ada pada KRL melibatkan konflik yang sangat menghebohkan media sosial. Linimasa twitter digegerkan dengan tersebarnya gambar tangkapan layar sebuah jejaring sosial path yang berisi tentang keluhan pengguna terhadap kondisi pemberian tempat duduk untuk ibu hamil di layanan transportasi umum kereta api.

Pengguna path tersebut tampak kesal dengan ibu hamil yang meminta tempat duduk secara tiba-tiba di kereta api dan menganggap hal ini menyusahkan dirinya. Tulisannya yang bernada sinis pun terlihat ditanggapi serupa oleh rekan-rekannya.

“benciii banget ama ibu2 hamil yang tiba2 dateng minta duduk..ya gw tau lw hamil tapi pliss dong berangkat pagi..ke stasiun yg jauh sekalian biar dapet duduk gw aja ga hamil bela2in berangkat pagi demi dapet tmpt duduk.. dasar emg ga mau susaah…ckckck nyusain org..kalo ga mau susaah ga ush kerjaa bu dirumah aja..mntang2 hamil maunya dingertiin trs..tp sndirinyaa ga mau usahaa…cape deh..” (boomee.co 16/04/2014)

Permasalahan diatas adalah tindakan tidak bermoral dan negatif yang dilakukan oleh pengguna KRL di Jakarta. Pelecehan seksual dilakukan oleh para tersangka yang memiliki kesempatan. Kesempatan tersebut dipergunakan oleh tersangka untuk mengeluarkan aksinya, seperti cerita diatas menggosok-gosok alat vitalnya pada saat kereta penuh ataupun berdesak-desakan. Kejadian tersebut membuat kenyamanan dan keamanan KRL dipertanggung jawabkan oleh para pengguna yang setiap harinya menggunakan transportasi tersebut. Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan bantuan dari orang lain, maka dari itu secara sadar atau tidak pada saat menggunakan transportasi publik khususnya KRL dibutuhkan rasa empati.

Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri sendiri dalam keadaan psikologis orang lain dan melihat suatu situasi dari sudut pandang orang lain Hurlock, 1998 (dalam Pujiyanti, 2009). Sedangkan Batson (dalam Andromeda, 2014) menyatakan empati merupakan pengalaman menempatkan diri pada keadaan emosi orang lain seolah-olah mengalaminya sendiri. Kemudian Batson juga menjelaskan bahwa empati yang dapat menimbulkan dorongan untuk menolong dan tujuan dari menolong itu memberikan kesejahteraan. Dari sinilah Batson mengungkapkan bahwa empatilah yang akan mendorong orang untuk melakukan tindakan altruisme.

Altruisme adalah tindakan sukarela untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun atau disebut juga tindakan tanpa pamrih Sears (dalam Pujiyanti, 2009). Menurut Myers (dalam Pujiyanti, 2009) altruisme didefinisikan sebagai hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan sendiri. Perilaku menolong ini nantinya akan meningkatkan kesadaran pada diri si penolong White & Gerstain (dalam Pujiyanti, 2009 ). Individu dengan kesadaran sosial yang tinggi dan rasa kemanuasiaan yang besar akan lebih mementingkan kepentingan orang lain, dan karenanya mereka akan menolong tanpa memikirkan kepentingan sendiri dan pertolongan yang diberikan pun cenderung ikhlas dan tanpa pamrih. Hal ini dilakukan dengan tulus dan ikhlas karena dapat memberikan kepuasan dan kesenangan psikologis tersendiri bagi si penolong. Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai hubungan antaraempati dengan perilaku altruisme bagi pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) di Jakarta.

Individu yang memiliki rasa empati tinggi dengan maksud untuk menolong orang lain khususnya di KRL merupakan hal yang sulit untuk ditebak karena rasa empati itu muncul secara naluriah dari hati si penolong. Empati juga salah satu bagian dan tindakan yang manusiawi dilakukan oleh para penolong dan secara tidak sadar tindakan tersebut dapat mengurangi beban atau ikut merasakan penderitaan yang sedang dialami. Menurut Batson (dalam Andromeda, 2014) empati merupakan pengalaman menempatkan diri pada keadaan emosi orang lain seolah-olah mengalaminya sendiri. Kemudian batson menjelaskan bahwa empati dapat menimbulkan dorongan untuk menolong dan tujuan dari menolong itu akan memberikan kesejahteraan bagi target empati. Altruisme adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun, kecuali telah memberikan suatu kebaikan Sears (dalam Pujiyanti, 2009). Sebagai manusia yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan bantuan orang lain, individu yang berniat menolong di transportasi publik khususnya KRL merupakan tindakan yang secara spontanitas atau tiba-tiba muncul dalam dirinya. Tetapi ada sebagian individu yang berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, alasannya dapat merugikan dirinya sebagai penolong dalam hal waktu, biaya, dsb.

Kedua hal tersebut saling berkaitan, karena empati lahir secara naluriah dan empati juga mendukung munculnya perilaku altruisme. Dalam diri seseorang rasa empati dan perilaku altruisme memberikan suatu tindakan yang positif, yaitu membantu orang yang membutuhkan di KRL. Bantuan tersebut yang dapat dilakukan seperti memberikan tempat duduk kepada ibu hamil, lansia, dan penyandang cacat. Adapun tindakan yang lebih tinggi pertolongannya, yaitu pelecehan seksual, pencopetan, serta tindakan kriminal lainnya. Berdasarkan uraian diatas baik empati maupun altruisme memiliki peran yang sangat penting bagi individu yang kesehariannya menggunakan transportasi publik khususnya KRL.                

BAB II

Tinjauan Pustaka

 

2.1       Empati

Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri sendiri dalam keadaan psikologis orang lain dan untuk melihat suatu situasi dari sudut pandang orang lain Hurlock, 1988 (dalam Pujiyanti, 2009). Batson (dalam Andromeda, 2014) menyatakan empati merupakan pengalaman menempatkan diri pada keadaan emosi orang lain seolah-olah mengalaminya sendiri. Kemudian Batson menjelaskan bahwa empati dapat menimbulkan dorongan untuk menolong dan tujuan dari menolong itu untuk memberikan kesejahteraan bagi target empati. Baron dan Byrne, 2005:111 (dalam Asih dan Pratiwi, 2010) yang menyatakan bahwa empati merupakan kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, serta mengambil perspektif orang lain.

2.1.1 Fungsi empati

Empati memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut:

  1. Menyesuaikan diri

Menurut Dymon (dalam Spica, 2008) seseorang yang tingkat empatinya tinggiakan memiliki tingkat penyesuaian diri yang baik. Dengan kemampuan empati yang dimilikinya, sesorang dapat memahami sudut pandang orang lain dan menyadari bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda.

  1. Mempererat hubungan dengan orang lain

Menurut Lauster (dalam Spica, 2008) jika seseorang berusaha saling menempatkan dirinya dalam kedudukan orang lain (berempati) maka salah paham atau ketidaksepahaman antara individu dapat dihindari. Dengan demikian, empati dapat mempererat hubungan dengan orang lain.

 

 

  1. Meningkatkan harga diri

Kemampuan untuk melihat dari sudut pandang orang lain, seseorang mampu menciptakan hubungan interpersonal yang hangat. Dengan adanya hubungan yang berkualitas seseorang dapat berinteraksi dan menyatakan identitas diri yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan rasa harga diri seseorang.

  1. Menigkatkan pemahaman diri

Kemampuan untuk memahami perspektif orang lain, membuat sesorang menyadari bahwa orang lain pun dapat membuat penilaian berdasarkan perilakunya. Hal ini akan membuat individu lebih menyadari dan memperhatikan pendapat orang lain mengenai dirinya. Melalui proses ini akhirnya akan terbentuk suatu konsep diri melalui perbandingan sosial, yaitu dengan mengamati dan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

  1. Mendukung munculnya perilaku altruistik

Teori perkembangan kognitif mengemukakan bahwa salah satu dasar untuk mempunyai sikap penerimaan orang lain adalah dimilikinya kemampuan empati. reaksi empati yan muncul akan membuat sesorang orang mempunyai gagasan tentang sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu Mussen, 1989 (dalam Spica, 2008).

2.1.2 Aspek-aspek empati

Menurut Baron dan Byrne, 2005 (dalam Asih dan Pratiwi, 2010) aspek empati sebagai berikut:

  1. Kognitif

Individu yang memiliki kemampuan empati dapat memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa hal tersebut dapat terjadi pada orang tersebut.

  1. Afektif

Individu yang berempati merasakan apa yang orang lain rasakan.

 

Batson dan Coke (dalam Asih dan Pratiwi, 2010) menyatakan bahwa di dalam empati juga terdapat aspek-aspek, yaitu:

  1. Kehangatan

Kehangatan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap hangat terhadap orang lain.

  1. Kelembutan

Kelembutan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap maupun bertutur kata lemah lembut terhadap orang lain.

  1. Peduli

Peduli merupakan suatu sikap yang dimiliki seseorang untuk memberikan perhatian terhadap sesame maupun lingkungan sekitarnya.

  1. Kasihan

Kasihan merupakan suatu perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap iba atau belas asih terhadap orang lain.

2.1.3 Komponen empati

Menurut Mayroff (dalam Pujiyanti, 2009) terdiri atas perpaduan tiga komponen, yakni:

  1. Pemahaman terhadap orang lain dengan sensitif dan tepat, namun tetap menjagaketerpisahan dari orang lain tersebut.
  2. Pemahaman keadaan yang mendorong munculnya perasaan tersebut.
  3. Cara berkomunikasi dengan orang lain yang membuat orang lain merasa diterima dan dipahami.

 

 

2.2       Altruisme

Altruisme dapat didefinisikan sebagai hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan sendiri Myers (dalam Pujiyanti, 2009). Altruisme adalah minat yang tidak mementingkan diri sendiri untuk menolong orang lain (Santrock, 2003). Altruisme adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun, kecuali telah memberikan suatu kebaikan Sears (dalam Pujiyanti, 2009 ).

Menurut Macaulay dan Berkowitz (dalam Pujiyanti, 2009) altruisme adalah pertolongan yang diberikan seseorang kepada orang lain tanpa mengharapkan rewards dari sumber-sumber luar. Altruisme merupakan perilaku yang dikendalikan oleh perasaan bertanggung jawab terhadap orang lain, misalnya menolong dan berbagi (dalam Pujiyanti ,2009).

2.2.1 Komponen Perilaku Altruisme

Menurut Einsberg dan Mussen (dalam Pujiyanti, 2009) hal-hal yang termasuk dalam komponen altruisme adalah sebagai berikut:

  1. Sharing ( memberi )

Individu yang sering berperilaku altruis biasanya sering memberikan sesuatu bantuan kepada orang lain yang lebih membutuhkan dari pada dirinya.

  1. Cooperative ( kerja sama )

Individu yang memiliki sifat altruis lebih senang melakukan suatu pekerjaan secara bersama-sama, karena mereka berfikir dengan berkerja sama tersebut mereka dapat lebih bersosialisasi dengan sesama manusia dan dapat mempercepat pekerjaanya.

  1. Donating ( menyumbang )

Individu yang memiliki sifat altruis senang memberikan sesuatu atau suatu bantuan kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan dari orang yang ditolongnya.

 

 

  1. Helping ( menolong )

Individu yang memiliki sifat altruis senang membantu orang lain dan memberikan apa-apa yang berguna ketika orang lain dalam kesusahan karena hal tersebut dapat menimbulkan perasaan positif dalam diri si penolong.

  1. Honesty ( kejujuran )

Individu yang memiliki sifat altruis memiliki suatu sikap yang lurus hati, tulus serta tidak curang, mereka mengutamakan nilai kejujuran dalam dirinya.

  1. Generosity ( kedermawanan )

Individu yang memiliki sifat altruis memiliki sikap dari orang yang suka beramal, suka memberi derma atau pemurah hati kepada orang lain yang membutuhkan pertolongannya tanpa mengharapkan imbalan apapun dari orang yang ditolongnya.

  1. Mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain

Individu yang memiliki sifat altruis selalu berusaha untuk mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain, mereka selalu berusaha agar orang lain tidak mengalami kesusahan.

2.3       Dewasa Awal

Masa beranjak (emerging adulhood) adalah sebuah istilah yang kini digunakan untuk merujuk masa transisi dari remaja menuju dewasa. Rentang usia masa ini berkisar antara 18 hingga 25 tahun, masa ini ditandai oleh kegiatan bersifat eksperimen dan ekspolarasi. Transisi dari masa remaja dan menuju masa dewasa diwarnai dengan perubahan yang berkesinambungan. Ada dua kriteria, yakni kemandirian dan tanggung jawab atas konsekuensi yang dilakukannya sendiri.

Setelah mencapai dua kriteria diatas masuk dalam transisi yang disebut sebagai dewasa awal. Dewasa awal merupakan periode perkembangan yang dimulai pada usia kurang lebih 18 hingga 40 tahun (Santrock, 2011). Menurut Piaget (Santrock, 20011) pada tahap ini sudah memiliki cara berpikir yang logis, abstrak, idealistik, serta pengetahuan dan wawasan yang luas dibandingkan remaja.Beberapa ahli perkembangan berpendapat bahwa banyak individu yang akan mengkonsolidasikan pemikiran operasional formalnya ketika memasuki masa dewasa. Artinya, di masa remaja mampu menyusun rencana dan hipotesa, namun dewasa muda sudah menjadi lebih sistematis dan terampil Kreating, 2004 (Santrock, 2011).

Menurut Perry, 1999 (Santrock, 2011) pemikiran absolut, dualistik (ya/tidak) remaja merupakan awal dari pemikiran reflektif, relativistik seorang dewasa. Selain itu, menurut para ahli masa dewasa awal juga memiliki pemikiran yang lebih pragmatis, realistis, dan pemikiran posformal.Pemikiran posformal melibatkan pemahaman bahwa jawaban yang benar terhadap sebuah persoalan menuntut pemikiran reflektif dan dapat bervariasi dari situasi satu ke situasi yang lain. Pemikiran posformal ini digunakan oleh dewasa awal saat terlibat dalam penilaian reflektif yaitu ketika menyelesaikan masalah.

2.4       Kaitan antar variable

Individu yang memiliki rasa empati tinggi dengan maksud untuk menolong orang lain khususnya di KRL merupakan hal yang sulit untuk ditebak karena rasa empati itu muncul secara naluriah dari hati si penolong. Empati juga salah satu bagian dari tindakan yang manusiawi dilakukan oleh para penolong dan secara tidak sadar tindakan tersebut dapat mengurangi beban atau ikut merasakan penderitaan yang sedang dialami. Menurut Batson (dalam Andromeda, 2014) empati merupakan pengalaman menempatkan diri pada keadaan emosi orang lain seolah-olah mengalaminya sendiri. Kemudian Batson menjelaskan bahwa empati dapat menimbulkan dorongan untuk menolong dan tujuan dari menolong itu untuk memberikan kesejahteraan bagi target empati.

Altruisme merupakan perilaku menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan dan pujian dalam bentuk apapun. Sebagai manusia yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan bantuan orang lain, individu yang berniat menolong di transportasi publik khususnya KRL merupakan tindakan yang secara spontanitas atau tiba-tiba muncul dalam dirinya. Tetapi ada sebagian individu yang berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, alasannya dapat merugikan dirinya sebagai penolong dalam hal waktu, biaya, dsb.Altruisme adalah tindakan sukarela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun, kecuali telah memberikan suatu kebaikan Sears (dalam Pujiyanti, 2009 ).

Kedua hal tersebut saling keterkaitan, karena empati lahir secara nalutiah dan empati juga mendukung munculnya perilaku altruisme. Dalam diri seseorang rasa empati dan perilaku altruisme memberikan suatu tindakan yang positif, yaitu membantu orang yang membutuhkan bantuan di KRL. Bantuan tersebut diantaranya yang dapat dilakukan adalah memberi tempat duduk kepada ibu hamil, penyandang cacat, dan lansia. Adapun tindakan yang lebih tinggi pertolongannya, yaitu pelecehan seksual, pecopetan, serta tindakan kiriminal lainnya. Berdasarkan uraian diatas empati maupun altruisme keduanya memiliki peranan penting bagi individu yang menggunakan KRL untuk mobalitas pada kesehariannya.

RATIH2

2.5       Hipotesis

–           Apakah ada hubungan antara empati dengan perilaku altruisme bagi pengguna KRL di Jakarta?

–           Ada hubungan antara empati dengan perilaku altruisme bagi pengguna KRL di Jakarta

RATIH3

DAFTAR PUSTAKA

Andromeda, S. (2014). Hubungan Antara Empati Dengan Perilaku Altruisme Pada Karang Taruna Desa Pakang. Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia.

Asih, G. Y., & Pratiwi, M. M. (2010). Perilaku Proposial Ditinjau dari Empati dan Kematangan Emosi. Jurnal Psikologi Universitas Maria Kudus, 33-42.

JABODETABEK, P. K. (n.d.). krl.co.id. Retrieved April 13, 2015, from krl.co.id: http://www.krl.co.id

Musnaini. (2011). Analisis Kualitas Layanan Konsumen Terhadap Keunggulan Bersaing Jasa Transportasi Darat PT.Kereta Api Indonesia Kelas Argo. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan, 1-8.

Pujiyanti, A. (2009). Kontribusi Empati Terhadap Perilaku Atruisme Pada Siswa Siswi SMAN 1 Setu Bekasi. Depok, Jawa Barat, Indonesia.

Ratih, D. (2014, April 16). boomee.co. Retrieved April 13, 2015, from boomee.co: boomee.co

Santrock, J. W. (2011). Life Span Development 13 edition. Jakarta: Erlangga.

Spica, B. (2008). Perilaku Prososial Mahasiswa Ditinjau dari Empati dan Dukungan Sosial Teman Sebaya. Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.

Yunuta, K. (2011, April 26). forum.detik.com. Retrieved April 13, 2015, from forum.detik.com: http://www.detikNews.com