People Innovation Excellence

HUBUNGAN BODY IMAGE DISSATISFACTION DENGAN PERILAKU EATING DISORDER PADA REMAJA DI JAKARTA SELATAN

Dirga Octafiant – 1601280266 – LA64

DIRGA

 

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian
Pada masa ini kebanyakan orang sangat mementingkan penampilan luar mereka
agar sesuai dengan gambaran diri (Body Image) yang mereka inginkan. Gambaran
diri (Body Image) itu sendiri mempunyai pengertian yaitu sikap seseorang terhadap
tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan
tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu
yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman-pengalaman baru
setiap individu (Stuart and Sundeen dalam Keliat, 1992).
Untuk mendapatkan bentuk tubuh yang mereka inginkan, banyak dari mereka rela
untuk melakukan apapun agar dapat memaksimalkan penampilan luar mereka, baik
dengan cara yang baik maupun dengan cara yang bisa dibilang buruk. Namun
kebanyakan orang lebih memilih menggunakan cara instan yang lebih bisa dibilang
cara yang buruk. Dari mulai mengkonsumsi obat diet yang tidak jelas,
menggunakan obat-obatan terlarang, tidak makan sama sekali, sampai dengan
memuntahkan makanan yang baru saja mereka makan. Hal-hal tersebut tanpa
disadari dapat menyebabkan munculnya gangguan makan (Eating Disorder).
Gangguan makan (Eating Disorder) adalah sebuah pikiran mengenai diet, yang
merupakan suatu upaya untuk kurus dan obsesi terhadap makanan yang dapat
menjadi ekstrem serta menimbulkan distress (Jones, Bennett, Olmsted, Lawson, &
Rodin, 2001)Diketahui jumlah pasien dengan eating disorder telah meningkat
secara global sejak 50 tahun yang lalu. Di Indonesia gangguan makan seperti
anorexia dan bulimia cenderung terjadi pada usia remaja (Metro TV, 2013).
Hampi semua penari ballet wanita dengan semua bentuk tubuh, berusaha untuk
mengurangi berat badan serta terdapat hubungan yang cukup besar antara berat
badan actual dan berat badan yang diinginkan oleh penari ballet remaja dengan
resiko untuk mengembangkan eating disorder (Bettle, Bettle, Neumarker, &
Neumarker, 1998).
Penelitian ini menunjukan bahwa body image seseorang mempunyai hubungan
dengan ketidakpuasan bentuk tubuh yang menyebabkan munculnya berbagai
psikopatologi, khususnya eating disorder. Kasus eating disorder di dunia,
khususnya di Indonesia tidaklah sedikit. Gangguan makan dialami oleh berbagai
usia yang mayoritas dialami oleh remaja.
Remaja merupakan tahapan transisi dan pembentukan jati diri sehingga
pembentukan body image pada remaja masih rentan terpengaruh. Berbagai hal yang
mempengaruhinya antara lain seperti obsesi untuk memiliki tubuh yang indah,
keharusan untuk menjaga bentuk tubuh karena profesi, dan pengaruh yang
diberikan oleh orang tua yang memiliki eating disorder. Penelitian yang akan saya
lakukan ingin mencari tahu lebih lanjut mengenai pengaruh dari eating disorder
terhadap body image pada usia remaja.
1.2. Pertanyaan Penelitian
1. Apa penyebab terjadinya gangguan makan (Eating Disorder)?
2. Bagaimana hubungan ketidakpuasan gambara diri (Body Image) dengan
gangguan makan (Eating Disorder)?
3. Mengapa mayoritas pengidap gangguan makan (Eating Disorder) adalah
remaja?
4. Apa saja akibat yang dapat ditimbulkan bila mengalami eating disorder?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ketidakpuasan remaja terhadap
bentuk tubuhnya terhadap terjadinya gangguan makan. Selain itu, penelitian ini
juga ingin mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya ketidakpuasan remaja
terhadap bentuk tubuhnya serta efek-efek yang akan terjadi bila sudah terkena
gangguan makan.

BAB 2
LANDASAN TEORI

Dalam bab ini akan membahas teori mengenai Body Image dan Eating Disorder.
2.1. Body Image
2.1.1 Definisi Body Image
istilah Body Image dalam bahasa Indonesia adalah gambaran diri yang
dimiliki oleh seseorang. Menurut beberapa tokoh, Body Image memiliki
definisi seperti berikut;
(Cash & Pruzinksy, Body image, development, diviance & change, 1990)
mengatakan bahwa body image dapat dipandang sebagai sikap diri yang
multi dimensi terhadap tubuh seseorang terutama berfokus pada
penampilan.
Cara seseorang mempersiapkan tubuhnya yang dipengaruhi oleh berbagai
faktor termasuk tingkat pentingnya penampilan fisik terhadap keseluruhan
rasa pada diri mereka (Spurgas, 2005)
Proses pembentukan body image yang baru pada masa remaja ke dalam diri
adalah bagian dari tugas perkembangan yang sangat penting, dan biasanya
remaja wanita mengalami penyesuaian yang lebih sulit dari pada pria
(Decay & Kenny, 2001).
Berdasarkan definisi para tokoh di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
body image merupakan sebuah gambara, evaluasi mental serta presepsi diri
terhadap penalpilan tubuh yang di pengaruhi oleh pemikiran dan asumsiasumsi
pentingnya penampilan fisik, serta efek yang dihasilkan terhadap
tingkah laku dan keseluruhan rasa pada diri.
2.1.2 Komponen dan Aspek-aspek Body Image
1. Persepsi (kognisi)
Merupakan komponen yang mencangkup ketepatat individu dalam
mempersepsikan ukuran tubuhnya. Persepsi yang dimaksud lebih
menekankan kepada pemikiran mengenai ukuran tubuh, mencangkup
ukuran pada area tertentu serta berat badan.
2. Afeksi dan Evaluasi
Merupakan sebuah komponen yang mencangkup kepuasan individu
terhadap tubuhnya, afeksi, evaluasi serta kecemasan individu terhadap
penampilan tubuhnya. Komponen afeksi dapat berupa perasaan positif
maupun negatif, suka maupun tidak suka, puas maupun tidak puas,
malu bahkan benci terhadap tubuhnya sendiri dan mempengaruhi
proses berpikir, berbicara dan pengungkapan kondisi tubuh seseorang.
3. Tingkah laku (behavioral)
Merupakan komponen yang mencangkup penginderaan terhadap situasi
yang berhubungan dengan penampilan fisik dan membuat timbulnya
rasa tidak nyaman terhadap seseorang.
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Body Image
Beberapa ahli menyatakan bahwa body image seseorang dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi body image antara lain: usia, jenis kelamin, media massa,
dan hubungan interpersonal.
1. Usia
Usia merupak hal yang terbilang sangat berpengaruh terhadap body
image seseorang. Karena usia memberikan perubahan yang cukup
signifikan terhadap tubuh seseorang. (Sivert & Sinanovic, 2008)
melakukan penelitian yang menunjukan bahwa wanita 17 sampai 25
tahun memiliki ketidak puasan terhadap body image lebih tinggi
dibandingkan dengan wanita usia 40 tahun sampai dengan 60 tahun.
(Cash & Pruzinsky, 2002) menambahkan bahwa tahap pertambahan
usia terjadi proses penuaan seperti kerutan dan kendur dari kulit,
hilangnya tinggi badan, dan redistribusi lemak tubuh dari kaki dan
tangan ke seluruh tubuh, bersifat universal. Ada perubahan dalam
fungsi hormonal (terutama jelas dalam perempuan), pola tidur, dan
penurunan kemampuan untuk menyesuaikan perubahan suhu yang
ekstrim. Beberapa penyakit mulai tampak, seperti gangguan
pencernaan, yang lebih terkait dengan praktek diet yang berkaitan
dengan perubahan usia. Jadi masih terdapat bukti bahwa orang
setengah baya lebih sensitif terhadap kekhawatiran penuaan daripada
orang dewasa yang lebih tua yang benar-benar mengalami efek dari
proses penuaan.
2. Jenis Kelamin
Jenis kelamin merupakan faktor yang paling penting dalam
perkembangan body image seseorang. Hal tersebut karena perbedaan
hormon yang dimiliki laki-laki dan wanita berbeda dan memberikan
dampak yang berbeda pula terhadap perkembangan body image pada
setiap individunya (Chase, 2001).
(Markey & Markey, 2005) berpendapat bahwa ketidakpuasan
terhadap gambaran tubuh pada remaja perempuan umumnya
mencerminkan keinginan untuk menjadi lebih langsing. Sedangkan
pada remaja laki-laki ketidak puasan terhadap tubuhnya juga timbul
karena keinginan untuk menjadi lebih besar, lebih tinggi, dan berotot
(Evans, Retta, Jane, Brian, Karen, & Donna, 2008).
3. Media Massa
Media masa juga merupakan faktor yang mempengaruhi body image
hal tersebut terjadi karena media massa biasanya menampilkan dan
menggambarkan bentuk tubuh yang idela. Seperti yang kita ketahui
banyak dari remaja pada masa ini banyak menghabiskan waktu di
depan media massa seperti televisi. Konsumsi yang cukup tinggi itu
dapat mempengaruhi perkembangan dari konsumen. Isi dari tayangan
media sendiri sering menggambarkan bahwa standart kecantikan
perempuan adalah tubuh yang kurus, dalam hal ini berarti dengan
level kekurusan yang dimiliki, kebanyakan perempuan percaya bahwa
mereka adalah orang-orang yang sehat. Tidak hanya pada wanita,
media juga menggambarkan gambaran ideal bagi laki-laki adalah
dengan memiliki tubuh yang berotot.
4. Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal membuat seseorang cenderung
membandingkan diri dengan orang lain dan feedback yang diterima
mempengaruhi konsep diri termasuk mempengaruhi bagaimana
perasaan terhadap penampilan fisik. Menurut Dunn &Gokee (dalam
Cash & Pruzinsky, 2002) menerima feedback mengenai penampilan
fisik berarti seseorang mengembangkan persepsi tentang bagaimana
orang lain memandang dirinya. Keadaan tersebut dapat membuat
mereka melakukan perbandingan sosial yang merupakan salah satu
proses pembentukan dalam penilaian diri mengenai daya tarik fisik.
2.2. Eating Disorder
2.2.1 Definisi Eating Disorder
Eating Disorder merupakan sebuah kelainan yang menyebabkan
gangguan pada proses makan. Gangguan yang dimaksud merupakan
gangguan makan yang dapat terbilang ekstrem dilihat dari prilaku yang
ditimbulkan. Secara garis besar eating disorder terbagi menjadi dua,
yaitu: Anorexia Nervosa dan Bulimia Nervosa (King, The science of
psychology, 2008). selain dua gangguan tersebut, masih ada satu
gangguan lain, yaitu Binge.
(Zainab, 2013) Berikut merupakan faktor-faktor menurut Fisher et.al
(dalam Santrock, 2001) yang mempengaruhi dan turut mendorong
timbulnya kecenderungan eating disorders :
1. Faktor Sosial
Faktor sosial sangat berperan dalam mempengaruhi seseorang untuk
melakukan eating disorders contohnya seperti pandangan masyarakat
akan penampilan dan tubuh yang langsing serta pada umumnya wanita
lebih dituntut untuk memperhatikan berat badannya. Pengaruh media
massa seperti televisi, iklan dan sebagainya juga turut mendorong
seseorang untuk melakukan usaha diet demi memiliki tubuh langsing
seperti yang ditayangkan (Herman & Polivy, 1987).
2. Faktor Psikologis
Faktos psikologis dari dalam diri individu juga turut berperan dalam
mempengaruhi mempengaruhi seseorang untuk melakukan eating
disorders. Umumnya individu yang menekankan pentingnya
penampilan akan berusaha untuk menjaga penampilannya dengan cara
apapun termasuk diet berlebihan agar penampilannya tetap terlihat
menarik dan dihargai oleh orang lain (Tanenhaus, 1992).
3. Faktor Fisiologis
Dalam faktor fisiologis, jika bagian otak yang disebut dengan
hypothalamus menjadi abnormal, maka akan memungkinkan individu
untuk menjadi anoreksia. Selain itu, individu yang memiliki faktor
keturunan yang berkecenderungan gemuk, cenderung berusaha untuk
menurunkan berat badannya (Tannenhaus, 1992).
2.2.2 Anorexia Nervosa
Anorexia merupakan salah satu jenis gangguan makan dimana seseorang
rela untuk menahan lapar atau kelaparan demi mendapatkan tubuh yang
menurutnya ideal. Anorexia merupakan salah satu masalah kesehatan
yang terbilang serius.
Menurut (Townsend, 1998) anorexia nervosa merupakan sebuah sindrom
klinis dimana seseorang mengalami rasa takut yang tidak wajar terhadap
kegemukan. Hal ini dicirikan oleh distorsi yang kasar dari bayangan
tubuh, memikirkan secara belebihan tentang makanan, dan penolakan
untuk makan.
Menurut Nolen-Hoeksema (2007) (dalam King, 2008) karakteristikkarakteristik
dari anorexia nervosa:
a. Berat yang dimiliki kurang dari 85% dari berat dan tinggi badan
normal orang seusianya.
b. Memiliki ketakutan yang cukup tinggi akan kenaikan berat badan
akan tetapi berat badan tidak juga menurun.
c. Memiliki gambaran tubuh (body image) yang menyimpang (Dohn &
Others, 2001). Walaupun individu yang memiliki anorexia sudah
memiliki tubuh yang sangat kurus, mereka akan selalu berpikir
bahwa itu belum cukup kurus: mereka sering menimbang berat
badan, mengukur tubuh mereka, dan memandang kritis tentangtubuh
mereka dari cermin (King, The science of psychology, 2008).
Menurut Lewinsohn, Striegel-Moore, & Seeley (2000) (dalam King,
2008) anorexia nervosa biasanya mulai dialami pada masa remaja, sering
diikuti dengan diet dan stres terhadap kehidupannya. Kebanyakan
penderita anorexia adalah remaja wanita kulit putih atau dewasa awal
yang berpendidik dan yang berkecukupan.
2.2.3 Bulimia Nervosa
Bulimia nervosa merupakn salah satu jenis gangguan makan yang
biasanya diikuti dengan pola binge and purge eating. Bulimia memiliki
pola yang memiliki pola yang tidak terlalu rumit, penderita bulimia akan
tetap makan untuk memuaskan hasratnya, akan tetapi makanan yang baru
saja dimakan akan kembali di keluarkan kembali dengan cara
dimuntahkan atau dengan meminum obat pencahar. Seperti layaknya
penderita anorexia, penderita bulimia jug memiliki rasa takut yang
sangat besar terhadap kegemukan atau naiknya berat badan yang akan
dialaminya. Namun penderita bulimia memiliki berat badan yang lebih
stabil dan tidak terlalu mencolok dari segi fisik, sehingga lebih sulit
untuk terdeteksi (King, The science of psychology, 2008).
Gangguan makan ini biasaya diawali pada masa remaja akhir atau
dewasa awal. Mayoritas dari individu yang mengalami bulimia adalah
wanita yang memiliki nilai perfeksionis yang tinggi dan orang yang
memiliki efikasi yang rendah.
2.2.4 Binge Eating Disorder
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, Text
Revision [DSM-IV-TR]; American Psychiatric Association [APA],
(2000) (dalam LaMattina, 2008), binge eating disorder adalah
pengulangan konsumsi dari makanan yang berporsi besar dan diikuti oleh
rasa kehilangan kontrol makan berlebihan.
Menurut Allison & Timmerman (2007) penelitian menunjukan bahwa
orang dengan binge eating disorder cenderung mengkonsumsi makanan
manis, asin, dan berlemak (LaMattina, 2008).
Tidak seperti bulimia, binge eating disorder tidaklah diikuti oleh
menggunakan obat pencahar, olahraga yang terlalu berlebihan atau
puasa. Mereka akan terus mengkonsumsi makanan secara berlebihan.
Akibatnya, orang-orang dengan gangguan binge eating disorder sering
mengalami kegemukan atau obesitas. Mereka juga mengalami rasa
bersalah, malu dan tekanan tentang binge eating disorder, yang dapat
menyebabkan lebih berkembangnya binge eating disorder pada diri
pemilik binge (Health, 2007).
Orang yang memiliki berat badan berlebih (obesitas) yang memiliki
binge eating disorder biasanya memiliki penyakit psikologis di dalam
kehidupannya termasuk kecemasan yang berlebihan, depresi, dan
gangguan kepribadian. Selain itu, obesitas juga dihubungkan dengan
penyakit cardiovascular dan hypertension (Health, 2007).
Seseorang dapat dikatakan memiliki binge eating disorder karena
memiliki symptom (ciri-ciri) seperti makan dengan porsi berlebih,
setidaknya satu kali dalam seminggu selama tiga bulan, tidak dapat
mengontrol makannya selama pada masa itu, dan menderita dalam
melakukan hal tersebut. Dibedakan dari anorexia nervosa yaitu tidak
adanya penurunan berat badan dan bulimia nervosa dengan tidak adanya
kompensasi perilaku (seperi menggunakan obat pencahar, berpuasa atau
berolahraga berlebih). Seringnya orang dengan binge eating disorder
adalah orang yang obesitas (Kring, Johnson, Davison, & Neale, 2013).
2.3. Perkembangan Remaja
Remaja, berasal dari kata lati adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh
menjadi dewasa. Masa remaja adalah masa yang paling sederhana, dimana
tidak berlakunya aturan-aturan (Santrock, 2011). Masa remaja adalah suatu
periode transisi dalam rentahg kehidupan manusia, yang menjebatani masa
kanak-kanak dengan masa dewasa.. Menjadi dewasa memang tidak selayaknya
mudah. Namun, masa remaja tidak dipandang sebgai masa pemberontak, krisis,
penyakit serta pembangkangan. Sebenarnya masa remaja adalah masa evaluasi.
Pengambilan keputusan, komitmen, dan masa mengukir tempat-tempat di
dunia. Menurut Daniel Offer, pada umumnya remaja itu merasa bahwa dirinya
bahagia, sangant menikmati hidup, memandang dirinya mau melatih kendalidiri,
mampu bersekolah, mampu menghargai kerja, mengeksresikan keyakinan
sehubungan dengan seksualitas, memiliki perasaa yang positif terhadap
keluarga, dan mampu dalam mengatasi masalah (Santrock, 2011).
Masa remaja berlangsung sejak umur 12 tahun hingga usia 20 atau 21 tahun.
Seseorang dikatakan remaja jika ia sudah mengalami perubahan biologis
pubertas. Menurut WHO yang dimuat tahun 1980, remaja adalah individu yang
berkembang dari saat seseorang menunjukan aktivitas atau tanda seksual
sekunder sampai mencapai kematangan seksual. Tidak hanya itu, dalam masa
peralihan ini terjadi ketergantungan sosio ekonomi yang lebih mandiri
(Santrock, 2011).
Menurut Steinbreg (2007), konteks sosial sangat berperan penting dalam
proses pengambilan keputusan pada remaja. Kehadiran rekan atau teman
sebaya dalam sebuah situasi juga sangat mempengaruhi seorang remaja dalam
mengambil keputusan (Santrock, 2011). Ada suatu usulan yang menjelaskan
pengambilan keputusan oleh seorang remaja, proses ini disebut dengan dualprocess
model. Klacyznski (2001); Reyna (2006) mengatakan bahwa proses
yang menyatakan bahwa pengambilan keputusan dipengaruhi oleh dua system,
yakni system kognitif serta system analitis dan pengalaman yang saling
berkompetisi (Santrock, 2011). Dual-process model menekankan bahwa
system pengalaman yang paling bermanfaat dalam pengambilan keputusan
remaja, bukanlah system analitis. Kadang pengambilan keputusan reaja
mungkin disalahkan ketika dalam realitas, masalahnya meliputi orientasi
masyarakat terhadap remaja dan kegagalannya untuk memberi remaja pilihanpilihan
yang memadai. Remaja membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk
melatih dan mendiskusikan pengambilan keputusan yang realistis. Salah satu
strategi yang dapat digunakan remaja dalam mengmabil keputusan adalah
dengan menyediakan lebih banyak kesempatan kepada mereka untuk terlibat di
dalam peran dan pengambilan keputusan dengan kelomok serta tema sebaya
(Santrock, 2011).
Teori Piaget
Menurut teori Piaget, remaja termotivasi untuk memahami dunianya karena hal
ini merupakan suatu bentuk adaptasi biologis. Remaja secara aktif
mengonstruksikan dunia kognitifnya sendiri.; dengan demikian informasiinformasi
dari lingkungan tidak hanya sekadar dituangkan ke dalam pikiran
mereka. Ketika mengonstruksikan dunianya, remaja menggunakan skema.
Skema adalah sebuah konsep atau kerangka kerja mental yang diperlukan
untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi.
Anak-anak dan remaja menggunakan dan mengadaptasikan skema-skema
mereka melalui dua proses, yaitu:
1. Asimilasi
Proses memasukkan informasi-informasi baru ke dalam pengetahuan yang
sudah ada. Dalam asimilasi, skema yang sudah ada tidak mengalami
perubahan.
2. Akomodasi
Proses menyesuaikan sebuah skema yang sudah ada terhadap informasi
baru. Dalam akomodasi terjadi perubahan dalam skema yang sudah ada.
(Santrock, 2007)
2.4. Kerangka Pikir
Pada remaja, gambaran diri merupakan hal yang sangat penting. Gambaran diri
(body image) itu merupakan jati diri yang akan di tunjukan oleh para remaja
kepada setiap orang. Maka dari itu anak remaja akan berusaha semaksimal
mungkin untuk mendapatkan gambaran diri yang mereka inginkan. Mereka
akan menggunakan berbagai macam cara agar hal itu dapat terwujud.
Bagi para remaja, gambaran diri yang menjadi tolak ukur adalah remaja wanita
dengan tolak ukur memiliki tubuh yang kurus dan langsing, serta laki-laki
dengan bentuk tubuh yang tinggi, tidak gemuk serta berotot. Tetapi sering kali
mereka untuk mendapatkan bentuk tubuh yang mereka inginkan mengguakan
cara yang tidak sewajarnya, seperti berlebihan dalam berolahraga, tidak mau
makan sama sekali, bahkan sampai memuntahkan makananya kembali. Hal-hal
tersebutlah yang memicu terjadinya gangguan makan (eating disorder) pada
mereka. Sehingga mereka akan mengalami hal-hal tersebut dalam jangka
waktu yang cukup panjang. Mereka akan tetap mengidap gangguan makan
demi menjaga bentuk tubuh yang menurut mereka idel tanpa memperdulikan
dampak-dampak dari apa yang mereka lakukan, semua itu demi mendapatkan
gambara diri yang mereka inginkan.
REFERENSI
Jones, J. M., Bennett, S., Olmsted, M. P., Lawson, M. L., & Rodin, G. (2001).
Disordered eating attitudes and behaviours in teenaged girl: A school-based study.
Canadian Medical Association Journal .
Bettle, N., Bettle, O., Neumarker, U., & Neumarker, K. J. (1998). Adolescent ballet
school students: Their quest for body weight change.
Cash, T. F., & Pruzinksy, T. (1990). Body image, development, diviance & change.
New York: The Guildford Press.
Spurgas, A. K. (2005). Body Image and Cultural background.
Decay, J., & Kenny, M. (2001). Adolescent Development. USA: Brown and Benchmark
Publisher.
Sivert, S. S., & Sinanovic, O. (2008). Body Dissatisfaction – is Age A Factor?
Philosophy, Sociology, Psychology and History (Vol. 7).
Cash, T. F., & Pruzinsky, T. (2002). Body Image: A Handbook of Theory, Research,
and Clinical Practice. New York: The Guilford Press.
Chase, M. E. (2001). Identity Development and Body Image Dissatisfaction in College
Females. skripsi .
Markey, C. N., & Markey, P. M. (2005). Relations between body image and dieting
behaviors: An examination of gender differences. Journal of sex roles , 53.
Evans, Retta, R., Jane, R., Brian, G., Karen, W., & Donna, B. (2008). Ecological
strategies to promote healthy body image among children. The journal of school health .
Cash, T. F., & Pruzinsky, T. (2002). Body images: A handbook of theory, research, and
clinical practice. Guilford Press.
King, L. A. (2008). The science of psychology. New York: McGraw-Hill.
Townsend, C. M. (1998). Diagnosa keperawatan pada psikiatri. (H. d. Daulima, Trans.)
Jakarta: Kedokteran EGC.
Zainab, N. (2013). PERANAN SELF-ESTEEM DAN BODY DISSATISFACTION
DALAM MEMPREDIKSIKAN KECENDERUNGAN EATING DISORDERS PADA
PENARI BALLET. Skripsi .
LaMattina, S. M. (2008). Examining the role of stress in binge eating disorder. thesis .
Health, N. I. (2007). Eating Disorder. U.S. Departement of Health and Human Services
.
Kring, A. M., Johnson, S. L., Davison, G. C., & Neale, J. M. (2013). Abnormal
Psychology (12th Edition ed.). Singapore: John Wiley & Sons, Inc.
Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development Edisi Ketigabelas – jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Santrock, J. W. (2007). Adolescene. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.
Harian Terbit. (n.d.). Retrieved from Harian Terbit Web Site:
http://harianterbit.com/read/2014/09/13/8219/29/18/22-Persen-Pengguna-Narkoba-
Kalangan-Pelajar
Santrock, J. W. (2008). EDUCATIONAL PSYCHOLOGY ed.3th. New York: McGraw-
Hill.
Aronson, E., Wilson, T. D., & Akert, R. M. (2010). Social Psychology. United States of
America: Pearson Education Inc.
Respati, W. S., Yulianto, A., & Widiana, N. (2006). Perbedaan konsep diri antara
remaja akhir yang mempersepsi pola asuh orang tua authoritarian, permissive dan
authoritative. Jurnal psikologi , 2-3.
King, L. A. (2008). The science of psychology. New York: McGraw-Hill.
Zainab Naily (2013), dalam skripsinya mengenai Peranan Self-esteem dan Body
Dissatisfaction dalam Memprediksikan Kecenderungan Eating Disorder pada
Penari Ballet (Thompson, J.K. & Smolak, L. (1996)). Skripsi Sarjana. Jakarta


Published at : Updated
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close