Seperti apa rasanya depresi? (Image source: http://theunlearn.com/wp-content/uploads/2014/01/depresi.jpg)
Seperti apa rasanya depresi?
Image source: http://theunlearn.com/wp-content/uploads/2014/01/depresi.jpg

Tanggal 3-9 Mei 2015 yang lalu adalah minggu kesadaran akan depresi dan kecemasan nasional. (National Anxiety and Depression Awareness Week) di Amerika. Di Amerika sendiri, sebanyak 40 juta penduduk menderita gangguan kecemasan dan lebih dari 20 juta penduduk menderita gangguan depresi. Tujuan dari minggu kesadaran akan kecemasan dan depresi tersebut bertujuan untuk membantu individu dengan kecemasan serta depresi untuk menemukan penanganan. Sementara di Indonesia, kesehatan jiwa, seperti depresi dan kecemasan juga menjadi suatu permasalahan yang perlu diatasi. Memang tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai berapa jumlah penderita depresi dan kecemasan di Indonesia, tetapi Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) tahun 2013 mengungkap jumlah penduduk dengan gangguan mental emosioal, dimana depresi adalah salah satu anggotanya. Berdasarkan hasil RisKesDas tahun 2013, prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk Indonesia adalah 6%. Jumlah ini lebih banyak daripada prevalensi gangguan jiwa berat (0,17%). Daerah dengan prevalensi gangguan emosional tertinggi ialah di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur (Badan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI, 2013). Oleh karena itu, meskipun Indonesia tidak menetapkan minggu kesadaran akan kecemasan dan depresi, tidak ada salahnya kita membahas lebih dalam mengenai ciri gangguan tersebut, serta apa yang sebaiknya dilakukan saat menemukan gejala tersebut ada di diri maupun orang terdekat kita. Pada tulisan ini saya akan membahas lebih dalam mengenai depresi dan pada seri selanjutnya kecemasan akan dikupas.

Gejala Depresi

Depresi
Depresi

Pernahkah anda mendengar teman yang mengeluh: “Aduh, tugas banyak banget! Bikin depresi!” atau “Gue gak kuat lagi, rasanya depresi..” Sebenarnya apakah depresi? Depresi adalah gangguan emosional yang melibatkan perasaan sedih, kosong, kehilangan minat, hingga rasa ingin bunuh diri. Depresi tidak sama dengan keadaan tertekan. Seseorang dapat merasa tertekan, tapi tidak semua orang lalu akan depresi saat mengalami tekanan. Dalam bahasa DSM, nama lengkap depresi adalah Major Depressive Disorder. Ada baiknya berkenalan dan memahami gejala depresi, agar bisa segera menindaklanjuti jika melihat gejala ini.

Tanda yang menjadi ciri khas depresi adalah perasaan sedih, “blue”, kosong dan tidak lagi bisa menikmati hal-hal yang biasanya kita sukai. Selain salah satu dari tanda tersebut, depresi juga disertai empat atau lebih dari ciri-ciri berikut ini yang berlangsung selama lebih dari dua minggu berturut-turut:

  • Merasa sangat restless atau merasa sulit untuk tenang.
  • Merasa tidak bergairah sepanjang hari.
  • Merasa tidak berharga dan menyalahkan diri sendiri
  • Tidur lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya
  • Kenaikan atau penurunan berat badan dan selera makan yang tidak direncanakan
  • Merasa sulit berkonsentrasi, mengambil keputusan atau berpikir jernih
  • Merasa tidak ada harapan, atau memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Jika Anda merasakan empat gejala di atas selama lebih dari dua minggu, dan aktivitas sehari-hari anda mulai terganggu, maka besar kemungkinan anda mengalami depresi atau gangguan mood lainnya seperti dysthymia (gangguan mood kronis, biasanya terjadi di Negara barat, saat musim dingin). Depresi bisa mengganggu kemampuan seseorang untuk menjalani aktivitasnya dan menjaga hubungan dengan orang terdekat. Oleh karena itu, depresi perlu diatasi dengan cara yang tepat. Jika anda atau orang terdekat merasa depresi seperti yang dijelaskan di atas, sebaiknya segera menghubungi psikolog atau psikiater untuk berkonsultasi.

Penanganan Depresi

Sambil menunggu waktu konsultasi dengan profesional, ada beberapa hal yang bisa dilakukan baik bagi Anda yang mengalami depresi atau bagi orang terdekat yang mengalami depresi. Jika anda mengalami gejala depresi, maka Anda dapat: mempelajari mengenai depresi dari sumber-sumber terpercaya, lalu edukasi orang terdekat anda mengenai kondisi Anda. Anda juga dapat menuliskan ada pikiran-pikiran yang menggangu anda, misalnya seperti masalah keluarga atau kehilangan orang terdekat, dan lain sebagainya. Saat mengalami depresi, seseorang seringkali lupa untuk merawat diri, maka lakukanlah kebiasaan seperti mandi dan berganti pakaian seperti yang biasa Anda lakukan sehari-hari.

Jika orang terdekat Anda mengalami depresi: perlakukanlah dengan penuh kasih sayang, rasa hormat dan toleransi. Berusaha untuk mendengarkan secara aktif tanpa mencoba menghibur mereka. Untuk sementara waktu, kurangi dahulu tuntutan bagi orang tesebut. Tawarkan bantuan yang praktis, misalnya menyiapkan makanan atau membersihkan rumah. Hal ini biasanya sulit dilakukan saat seseroang sedang mengalami depresi. Dukunglah usaha untuk meningkatkan mood-nya. Tentu dengan cara yang positif, hindari menggunakan alkohol maupun napza. Memiliki pasangan yang menderita depresi tidaklah mudah, sehingga Anda perlu menjaga kesehatan mental Anda sendiri dan jika perlu mendapatkan dukungan dari profesional. Rencanakan kegiatan yang menyenangkan bagi diri Anda agar merasa lega dan terlepas dari tekanan karena merawat orang terdekat yang mengalami depresi.

Semoga artikel kecil ini bisa menjadi pertolongan pertama saat mengalami gejala depresi. 🙂

Referensi:

National Anxiety and Depression Awareness Week (2015). Diunduh dari: http://www.freedomfromfear.org/NationalAnxietyandDepressionAwarenessWeek.en.html

Hasil Riskesdas 2013 (2013). Diunduh dari: http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CCIQFjAB&url=http%3A%2F%2Fwww.depkes.go.id%2Fresources%2Fdownload%2Fgeneral%2Fpokok2%2520hasil%2520riskesdas%25202013.pdf&ei=vm1RVfSWG8XauQS2tIHICg&usg=AFQjCNF778poFDONznZHM0IEA7JY9Viraw&sig2=3P2M1hVuhmuvatGsWUJufg&bvm=bv.92885102,d.c2E

Depkes. (2013). Hasil Riskesdas 2013. Diunduh dari: www.litbang.depkes.go.id/sites/…riskesdas/Riskesdas%20Launching.pdf