People Innovation Excellence

Selfie: What does it says about you (or your kids)

Pada tahun 2013, kamus Oxford resmi menobatkan kata “selfie” sebagai “word of the year” karena peningkatan tajam frekuenai penggunaan kata ini, sekitar 17,0000% pada tahun 2012 (bbc.com/news) terutama di jaringan media sosial. Kata selfie berarti “foto diri yang diambil oleh diri sendiri, biasanya dengan smartphone, webcam, dan diunggah ke situs media sosial” (Oxford Dictionary). Kata ini sudah dicatat dan didefinisikan pada tahun 2005 dalam urbandictionary.com, situs yang merangkum kata-kara “slang” dalam bahasa Inggis, dimana anggota situs tersebut dapat memberikan definisi. Makin maraknya penggunaan kata selfie di tahun 2013 sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, sehingga memiliki telepon genggam dengan kamera merupakan hal yang lumrah.

Para ‘pelaku’ selfie sebagian besar berasal dari generasi millenial (usia 18-33 saat tulisan ini ditulis) yang dibesarkan dalam era digital abad 21. Survey Pew Research Center di tahun 2014 menemukan bahwa 55% generasi milenial dalam sample survey sudah pernah membagikan selfie ke media sosial seperti facebook, instagram, atau snapshot (Taylor, 2014). Selfie menjadi sarana ekspresi diri di media sosial lebih bagi remaja dan pemuda. Hal ini wajar, mengingat tugas perkembangan remaja yaitu mendefinisikan jati diri mereka. Selfie dari teman-teman mereka di media sosial pun berdampak pada citra diri seorang remaja. Penelitian menemukan bahwa melihat foto selfie dari teman, dapat meningkatkan perasaan rendah diri, bahkan hingga kesepian.

A picture said a thousand words. Sama halnya dengan selfie, yang mengatakan banyak hal mengenai diri orang di dalam foto tersebut. Pertama, ekspresi emosi stau mimik wajah di dapat mengekspresikan peraasaan mereka saat sedang mengambil gambar. Sebuah foto selfie dari seorang remaja yang terpampang di media sosial dapat menjadi bahan untuk membuka percakapan antara remaja dan orangtua tersebut. Selain menanyakan perasaan anaknya, orangtua juga dapat melanjutkan pertanyaan: mengapa selfie pada moment tersebut? Apa artinya moment tersebut bagi mereka. Pesan apa yang ingin disampaikan? Kedua, pakaian serta gaya yang ditampilkan dapat mencerminkan pencitraan yang ingin disampaikan ke dunia sosial. Dalam hal ini, orangtua dapat mengajak anak remaja berdiskusi tentang batasan pakaian, jika menemukan mereka berpakaian minim atau berpose sensual. Ketiga, sebuah studi pada laki-laki (18-40 tahun) menemukan semakin banyak posting selfie yang dibagikan smakin tinggi pula kecenderungan narcisisme yang ditampilkan serta semakin rendah evaluasi diri individu (self esteem). Narcisisme ialah kecenderungan memiliki citra diri yang berlebihan, punya kebutuhan yang tinggi untuk dihargai oleh orang lain, dilandasi rasa insecure yang terselubung. Keempat, mengedit selfie sebelum diunggah terkait dengan tingginya objektifikasi diri, atau kecenderungan melihat tubuh sebagainobjek yang memiliki nilai seksual. Orang dengan objektifikasi diri yang tinggi cenderung melihat dirinya berdasarkan penampilan fisik dan mendasari rasa keberhargaan diri berdasarkan penampilan.

Lalu, apa dampak melakukan selfie pada diri maupun relasi sosial seseorang? Ternyata, semakin banyak selfie yang dibagikan ke media sosial semakin membuat orang tersebut tidak disukai. Semakin banyak selfie juga ternyata dapat menurunkan keintiman dengan orang lain di dunia nyata. Tekanan untuk tampil “camera ready” memberikan efek tersendiri pada self esteem dan meningkatkan perasaan kompetitif di antara teman. Jadi, sebelum anda mengambil gadget untuk mengambil gambar diri dan membagikannya ke media sosial,nada baiknya Anda pikirkan dulu apa efek dari selfie tersebut pada diri Anda, maupun teman dan kerabat yang melihat. Remember: a picture does tells a thousands words. 🙂

Oleh: Pingkan C.B. Rumondor

Referensi:
BBC.com. 2013. ‘Selfie’ maned by Oxford Dictionaries as word of 2013. Diunduh dari: m.bbc.com/news/uk-24992393
Taylor, Paul. (2014). More than half of Millennials have shared a ?selfie?. Diunduh dari
http://www.pewresearch.org/fact-tank/2014/03/04/more-than-half-of-millennials-have-shared-a-selfie/
http://www.huffingtonpost.com/2015/01/12/selfies-narcissism-psychopathy_n_6429358.html
http://www.huffingtonpost.com/peggy-drexler/are-selfies-ruinng-your-relationship_b_4024766.html
https://www.psychologytoday.com/blog/sideways-view/201501/the-psychology-the-selfie
http://www.sciencedaily.com/releases/2015/01/150129094439.htm

Editor by: Berdi Dwijayanto


Published at : Updated
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close